TANGERANG SELATAN – Gangguan kesehatan mental, termasuk skizofrenia, tidak boleh dipandang sebelah mata. Penyakit mental serius ini ternyata banyak dialami masyarakat Indonesia. Mengutip laman resmi Cross River Therapy, perusahaan terapi perilaku yang berfokus pada applied behavior analysis (ABA), Indonesia disebut sebagai negara dengan prevalensi skizofrenia tertinggi, dengan sekitar 829.735 orang tercatat mengidap gangguan tersebut.
Bagi sebagian masyarakat awam, skizofrenia mungkin terdengar kurang familiar dibandingkan gangguan mental lain seperti depresi, serangan panik, atau gangguan kecemasan. Padahal, skizofrenia merupakan kondisi kronis yang dapat berdampak besar pada kualitas hidup penderitanya. Lalu, apa sebenarnya skizofrenia, bagaimana gejalanya, faktor risikonya, serta bagaimana penanganannya?
Apa Itu Skizofrenia?
Dilansir dari Healthline yang telah ditinjau secara medis oleh dr. Yalda Safai, skizofrenia adalah gangguan kesehatan mental kronis yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, hingga kemampuan bekerja atau bersekolah.
Gejala skizofrenia umumnya muncul berbeda pada tiap individu. Pada laki-laki, gejala sering muncul di akhir masa remaja atau awal usia 20-an, sementara pada perempuan biasanya terjadi di akhir usia 20-an hingga awal 30-an.
Gejala Awal dan Lanjutan
Gejala awal skizofrenia kerap muncul pada masa remaja hingga awal usia 20-an. Pada fase ini, tanda-tandanya sering terabaikan karena dianggap sebagai perilaku remaja pada umumnya. Gejala awal tersebut antara lain menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan konsentrasi, gangguan tidur, kecemasan, penurunan prestasi akademik, serta perasaan berbeda dari orang lain.
Seiring waktu, gejala skizofrenia berkembang dan terbagi dalam tiga kategori utama, yaitu gejala positif, negatif, dan kognitif.
Gejala positif merujuk pada munculnya pengalaman atau perilaku tambahan yang tidak dialami orang sehat. Contohnya adalah halusinasi, seperti mendengar suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, serta delusi, yakni keyakinan yang bertentangan dengan fakta. Gejala lain termasuk paranoia, di mana penderitanya merasa dicurigai, diikuti, atau disakiti.
Gejala negatif ditandai dengan berkurangnya kemampuan atau fungsi normal, seperti menurunnya kemampuan berbicara, ekspresi emosi yang tumpul, hilangnya minat dan motivasi, sulit merasakan kebahagiaan, serta kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, gejala kognitif berkaitan dengan gangguan fungsi mental, seperti pola pikir atau ucapan yang tidak terorganisir, sulit fokus, mudah lupa, serta kesulitan memahami informasi dan mengambil keputusan.
Penyebab dan Faktor Risiko
Hingga kini, penyebab pasti skizofrenia belum diketahui. Namun, para peneliti meyakini gangguan ini dipicu oleh kombinasi faktor biologis, genetik, dan lingkungan. Studi pencitraan otak menunjukkan adanya perbedaan struktur otak pada sebagian penderita skizofrenia.
Faktor genetik berperan penting, di mana seseorang dengan riwayat keluarga skizofrenia memiliki risiko lebih tinggi. Faktor risiko lainnya meliputi paparan racun atau virus sebelum lahir, kekurangan gizi pada masa awal kehidupan, stres berat berkepanjangan, serta penggunaan zat yang memengaruhi pikiran, terutama pada masa remaja dan dewasa muda.
Komplikasi Serius
Skizofrenia merupakan gangguan mental serius yang tidak boleh dibiarkan tanpa penanganan. Jika tidak diobati, kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi, seperti risiko melukai diri sendiri, bunuh diri, depresi, kecemasan, penyalahgunaan alkohol atau narkoba, hingga masalah sosial dan keluarga. Penderitanya juga berisiko mengalami kesulitan bekerja dan mandiri secara finansial, yang berdampak pada penurunan kualitas hidup.
Penanganan Skizofrenia
Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan skizofrenia secara total. Penanganan difokuskan pada mengendalikan dan mengurangi gejala, sehingga penderita dapat menjalani hidup dengan lebih baik.
Perawatan harus dilakukan oleh psikiater atau tenaga kesehatan mental profesional. Penanganan umumnya meliputi penggunaan obat antipsikotik untuk mengendalikan halusinasi dan delusi, terapi psikososial untuk membantu pasien menghadapi stres, pelatihan keterampilan sosial, serta rehabilitasi vokasional agar penderita dapat kembali bekerja.
Selain itu, dukungan dan edukasi keluarga memegang peranan penting. Lingkungan yang suportif dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup penderita skizofrenia.







