TANGERANG SELATAN – Berbicara sendiri atau self-talk kerap dianggap sebagai perilaku aneh dan dikaitkan dengan gangguan mental. Namun, penelitian menunjukkan kebiasaan ini merupakan fenomena yang umum terjadi dan justru memiliki manfaat bagi fungsi otak serta kesehatan mental.
Dikutip dari laman Verywell Mind, self-talk adalah dialog internal yang dilakukan seseorang dengan dirinya sendiri. Bentuknya bisa berupa kalimat motivasi, refleksi diri, hingga evaluasi terhadap suatu tindakan. Praktik ini dilakukan hampir semua orang, meski sering kali tanpa disadari.
Sejumlah studi menyebutkan bahwa isi pembicaraan dengan diri sendiri lebih berpengaruh dibandingkan frekuensinya. Kalimat positif terbukti dapat meningkatkan motivasi, fokus, dan kemampuan memecahkan masalah. Sebaliknya, self-talk bernada negatif berpotensi menurunkan suasana hati dan memengaruhi kesehatan mental.
Peneliti mengidentifikasi beberapa alasan utama seseorang melakukan self-talk. Pertama, membantu proses berpikir dan pengambilan keputusan saat menghadapi masalah. Kedua, meningkatkan performa, khususnya pada atlet dan pelajar yang menggunakan afirmasi positif untuk menenangkan diri dan meningkatkan kesiapan. Penelitian bahkan menunjukkan atlet basket bereaksi lebih cepat saat menyemangati diri sendiri.
Selain itu, self-talk juga kerap muncul pada individu yang mengalami kesepian sebagai bentuk kompensasi kebutuhan interaksi sosial. Dalam konteks lain, kebiasaan ini juga dikaitkan dengan tingkat kreativitas yang tinggi, terutama pada orang dengan imajinasi kuat atau yang terbiasa mengolah emosi secara mandiri.
Manfaat self-talk tidak hanya berdampak pada kepercayaan diri, tetapi juga pada peningkatan fokus, pemahaman tugas, serta performa akademik dan olahraga. Anak-anak yang menggunakan afirmasi positif saat belajar tercatat mengalami peningkatan hasil belajar, sementara atlet pemula lebih cepat menguasai keterampilan baru.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa self-talk dapat menjadi masalah apabila didominasi pikiran negatif yang terus-menerus, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup. Dalam kondisi ekstrem, dialog batin yang tidak terkendali dapat menjadi indikasi gangguan kesehatan mental seperti depresi berat, OCD, PTSD, atau skizofrenia.
Jika self-talk mulai bersifat merusak dan memengaruhi fungsi sosial maupun emosional, konsultasi dengan tenaga kesehatan mental disarankan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.







