TANGSELXPRESS – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan meski harga BBM non-subsidi bergerak mengikuti fluktuasi harga minyak dunia dan Indonesian Crude Price (ICP).
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 3 Agustus.
Bahlil menjelaskan kedatangannya ke Istana bertujuan melaporkan sekaligus berkonsultasi dengan Presiden mengenai berbagai pekerjaan rutin di Kementerian ESDM, termasuk sektor energi dan kelistrikan.
“Melaporkan kepada Bapak Presiden untuk melakukan konsultasi terhadap pekerjaan-pekerjaan rutin di ESDM,” kata Bahlil dikutip Senin, 3 Agustus.
Saat ditanya mengenai penurunan harga Pertamax, Bahlil menegaskan bahwa harga BBM non-subsidi memang ditentukan oleh mekanisme pasar dan mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia serta ICP.
“Dari awal saya katakan bahwa menyangkut BBM non-subsidi, harganya memang akan mengikuti harga pasar dunia, ICP,” ujarnya.
Menurut Bahlil, ketika harga minyak dunia turun, harga BBM non-subsidi akan ikut terkoreksi. Sebaliknya, apabila harga minyak global naik, harga BBM non-subsidi juga akan mengalami penyesuaian.
“Jadi kalau harga dunianya turun, dengan sendirinya akan terkoreksi. Tapi kalau naik, pasti juga akan naik,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi harga minyak dunia saat ini sedang mengalami penurunan sehingga sejumlah badan usaha penyedia BBM non-subsidi melakukan penyesuaian harga.
“Sekarang kan lagi turun, dan kemudian badan usaha swasta melakukan koreksi terhadap penurunan harga itu,” kata Bahlil.
Terkait proyeksi harga BBM ke depan di tengah dinamika geopolitik global, Bahlil mengatakan belum bisa memberikan kepastian karena sangat bergantung pada perkembangan situasi internasional.
“Ya tergantung kondisi geopolitik dunia,” ujarnya.
Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga harga BBM subsidi agar tetap stabil.
“Yang penting adalah BBM subsidi itu tidak akan naik. Itu yang paling penting,” tegasnya.
Menurut Bahlil, sekitar 80 persen konsumsi BBM nasional masih berasal dari BBM bersubsidi, sedangkan BBM non-subsidi hanya menyumbang sekitar 20 persen.
“Total pemakaian BBM 80 persen itu subsidi, yang non-subsidi itu 20 persen,” katanya.
Ia menjelaskan BBM non-subsidi umumnya digunakan oleh kelompok masyarakat yang mampu, sementara mayoritas masyarakat masih mengandalkan BBM subsidi yang tetap mendapat dukungan anggaran dari pemerintah.
“Kalau yang 80 persen itu tetap menjadi bagian yang ditanggung oleh pemerintah, yaitu subsidi,” pungkas Bahlil.







