• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Kamis, 22 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Ketika Perhatian Menjadi Jebakan: Mengenal Bahaya Child Grooming

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
Juni 22, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 3min read
Ketika Perhatian Menjadi Jebakan: Mengenal Bahaya Child Grooming
234
SHARES
2.3k
VIEWS

Di era digital, anak-anak semakin mudah berinteraksi dengan berbagai orang melalui media sosial, gim daring, dan aplikasi percakapan. Kemudahan ini memang memberikan banyak manfaat, tetapi juga membuka peluang munculnya berbagai ancaman yang sering kali tidak disadari.

Salah satu ancaman tersebut adalah child grooming, yaitu upaya manipulasi yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan kepercayaan anak dengan tujuan melakukan eksploitasi, baik secara emosional, fisik, maupun seksual. Kejahatan ini sering kali sulit dikenali karena pelaku tidak menggunakan kekerasan secara langsung, melainkan membangun hubungan yang tampak penuh perhatian dan kasih sayang.

Salah satu kisah nyata yang menggambarkan dampak child grooming datang dari aktris dan penyanyi Aurélie Moeremans, yang mengungkap pengalaman traumatisnya melalui memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Dalam memoar tersebut, ia menceritakan pengalaman manipulasi emosional dan pelecehan seksual yang dialaminya saat masih remaja oleh seseorang yang jauh lebih dewasa. Kisah tersebut menunjukkan bahwa child grooming bukan sekadar istilah psikologis, melainkan ancaman nyata yang dapat meninggalkan luka mendalam bagi korbannya.

Berbeda dengan bentuk kejahatan lainnya, child grooming tidak terjadi secara tiba-tiba. Pelaku biasanya menjalankan aksinya melalui serangkaian tahapan yang berlangsung secara perlahan sehingga korban maupun orang-orang di sekitarnya sulit menyadari adanya bahaya. Pada awalnya, pelaku akan mencari anak yang dianggap rentan, seperti anak yang merasa kesepian, kurang mendapatkan perhatian, memiliki rasa percaya diri rendah, atau sedang menghadapi masalah dalam lingkungan keluarga. Namun, penting untuk dipahami bahwa anak dari keluarga yang harmonis sekalipun tetap berpotensi menjadi korban.

BACA JUGA :  Membangun Generasi Gen Alfa Menuju Jiwa Wirausaha: Peran Krusial Sosialisasi di Taman Baca PEKA Pamulang 

Setelah menemukan target, pelaku mulai membangun kedekatan dan memperoleh kepercayaan anak serta orang-orang di sekitarnya. Mereka sering menunjukkan sikap ramah, memberikan perhatian khusus, hadiah, bantuan, atau dukungan emosional yang membuat anak merasa dihargai dan dipahami. Dalam banyak kasus, pelaku juga menciptakan apa yang disebut sebagai “rahasia bersama” agar hubungan tersebut terasa lebih dekat dan eksklusif. Seiring waktu, korban dapat menjadi semakin bergantung secara emosional kepada pelaku.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), proses grooming umumnya berlanjut pada tahap isolasi, yaitu ketika pelaku berusaha menjauhkan anak dari orang-orang yang dapat memberikan perlindungan atau nasihat. Pelaku meyakinkan anak bahwa hanya dirinya yang benar-benar memahami perasaan dan kondisi yang dihadapinya.

BACA JUGA :  Menginspirasi Sociopreneurship Remaja untuk Atasi Masalah Pengangguran

Setelah hubungan dan ketergantungan emosional terbentuk, pelaku mulai menormalisasi perilaku yang mengarah pada kekerasan seksual. Untuk mempertahankan kendali, pelaku sering menggunakan manipulasi emosional, ancaman, rasa bersalah, maupun berbagai bentuk tekanan lainnya agar korban tetap merahasiakan apa yang terjadi.

Menurut saya, bahaya utama child grooming terletak pada kemampuannya menyamarkan kejahatan dalam bentuk perhatian dan kedekatan emosional. Banyak orang tua maupun orang terdekat tidak menyadari bahwa hubungan yang tampak baik sebenarnya merupakan bagian dari proses manipulasi. Akibatnya, korban sering kali baru memahami bahwa dirinya telah dieksploitasi setelah mengalami dampak psikologis yang serius. Tidak sedikit korban yang kemudian mengalami trauma, gangguan kepercayaan diri, kecemasan, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

Oleh karena itu, upaya pencegahan child grooming harus menjadi perhatian bersama. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak agar mereka merasa aman untuk bercerita tentang pengalaman maupun interaksi yang mereka lakukan, baik secara langsung maupun melalui internet. Selain itu, sekolah juga memiliki peran penting dalam memberikan edukasi mengenai keamanan digital dan perlindungan diri.

BACA JUGA :  Menelusuri Apa Itu Akuntansi Rumah Sakit?

Di sisi lain, pemerintah dan platform digital perlu memperkuat regulasi serta sistem pengawasan untuk mencegah terjadinya eksploitasi anak di ruang daring. Apabila menemukan indikasi child grooming atau bentuk kekerasan terhadap anak, masyarakat tidak boleh ragu untuk melaporkannya kepada pihak berwenang, seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) maupun layanan pengaduan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).

Pada akhirnya, child grooming merupakan kejahatan yang sering kali tersembunyi di balik perhatian, kasih sayang, dan kepedulian palsu. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat terhadap bahaya child grooming harus terus ditingkatkan. Setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan bebas dari eksploitasi.

Dengan edukasi yang tepat, komunikasi yang terbuka, serta pengawasan yang bijak, risiko terjadinya child grooming dapat diminimalkan. Mencegah child grooming bukan hanya tanggung jawab keluarga, melainkan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat untuk melindungi masa depan generasi muda.

 

Penulis:

Remitha Octaviani Akely

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Prodi Akuntansi S1 Universitas Pamulang

Tags: Bahaya Child GroomingChild Grooming
Previous Post

Selebgram Adam Deni Ditahan, Polisi Ungkap Asal Airsoft Gun yang Dipakai Intimidasi

Next Post

Marriage Is Scary: Ketakutan Generasi Z terhadap Pernikahan

Related Posts

Bukan Tidak Pintar, Cuma Takut Bicara: Ketika Pengetahuan Tidak Sejalan dengan Kepercayaan Diri
DUNIA KAMPUS

Public Speaking sebagai Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Prestasi Mahasiswa

Oktober 21, 2026
2.3k
Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?
DUNIA KAMPUS

Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?

Oktober 21, 2026
2.4k
Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat
DUNIA KAMPUS

Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat

Oktober 21, 2026
2.4k
Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi
DUNIA KAMPUS

Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi

Oktober 21, 2026
2.4k
Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?
DUNIA KAMPUS

Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?

Oktober 21, 2026
2.4k
Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda
DUNIA KAMPUS

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda

Oktober 21, 2026
2.1k
Next Post
Marriage Is Scary: Ketakutan Generasi Z terhadap Pernikahan

Marriage Is Scary: Ketakutan Generasi Z terhadap Pernikahan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com