BELAKANGAN ini tren “Marriage Is Scary” banyak bermunculan di media sosial. Di mana pernikahan digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan. Tren ini mencerminkan kecenderungan generasi muda, terutama Generasi Z, untuk menunda pernikahan.
Sebagai sebuah opini, mari kita bahas fenomena ini secara jelas: Apakah pernikahan memang semenakutkan itu, atau sebenarnya rasa takut itu muncul karena pengalaman orang lain?
Melihat Realita di Balik Ramainya Tren “Marriage Is Scary”
Angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pernikahan terus menurun sejak 2013, dari lebih dari 2 juta pasangan pada 2018 menjadi hanya sekitar 1,5 juta pernikahan pada 2023.
Jika diperhatikan, ketakutan yang diperlihatkan dalam tren ini sebenarnya sangat valid dan berbasis realita. Narasi yang sering muncul biasanya mengarah pada ketakutan mendapatkan pasangan yang manipulatif, mertua yang terlalu ikut campur, pasangan yang tidak mau berbagi beban domestik (mengurus anak dan rumah tangga), perselingkuhan, hingga bayang-bayang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Bagi generasi hari ini, pernikahan tidak lagi dilihat dari sudut pandang romantis yang naif seperti akhir bahagia di film-film dongeng. Mereka menyaksikan langsung tingginya angka perceraian, membaca berita tentang perselingkuhan yang viral setiap harinya, atau bahkan tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis.
Ditambah lagi, adanya ketimpangan gender dalam hukum dan kultur yang masih sering menuntut perempuan untuk selalu “patuh dan berkorban”. Ketika realita pahit tentang pernikahan terus muncul di media sosial tanpa ruang negosiasi yang setara, wajar jika banyak orang mulai menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan.
Sisi Gelap Media Sosial: Dari Pengalaman Trauma Orang Lain
Namun, ada satu hal yang sering kita lupakan saat melihat tren ini: peran sistem media sosial. Media sosial bekerja berdasarkan keterlibatan emosional (engagement). Emosi seperti kemarahan, kecemasan, dan kekecewaan sering menjadi faktor yang membuat sebuah konten viral. Ketika kita sekali saja melihat video tentang kegagalan rumah tangga seseorang, algoritma akan terus mempengaruhi kita dengan ratusan konten serupa. Tanpa sadar, kita mengalami apa yang disebut psikolog sebagai penumpukan trauma secara tidak langsung. Kita menanggung ketakutan atas masalah yang bahkan belum tentu kita alami sendiri.
Menilai esensi pernikahan hanya dari potongan-potongan konten di media sosial merupakan sebuah kekeliruan logika. Kita hanya melihat sebagian kecil dari masalah orang lain, lalu menganggapnya sebagai takdir mutlak masa depan kita.
Pernikahan Tidak Menakutkan, yang Menakutkan adalah “Salah Pilih”
Pernikahan itu sendiri sebenarnya dinamis. Pernikahan adalah sebuah ranah hukum, sosial, dan spiritual. Yang membuat pernikahan terasa indah atau menyakitkan adalah pasangan yang menjalankannya.
Maka dari itu, ketakutan yang muncul dari tren marriage is scary sebaiknya tidak direspons dengan sikap sinis atau keputusan ekstrem untuk antipati terhadap pernikahan. Sebaliknya, jadikan tren ini sebagai alarm kesadaran.
- Memiliki pertimbangan yang lebih matang dalam memilih pasangan: Generasi muda perlu mulai memilih pasangan bukan hanya berdasarkan kemapanan finansial, tetapi juga kematangan emosional dan kemampuan menghargai pasangan.
- Normalisasi diskusi pranikah (premarital talk): Sebelum melangkah, diskusikan hal-hal krusial secara detail: pembagian peran domestik, manajemen keuangan, cara mendidik anak, cara menghadapi mertua, hingga visi spiritual.
- Hilangkan trauma masa lalu: Jika ketakutan itu bersumber dari keluarga masa kecil kita, selesaikan dulu luka tersebut agar tidak membayangi hubungan baru yang akan dibangun.
Kesimpulan
Marriage is scary? Ya, berkomitmen seumur hidup dengan manusia lain yang memiliki kepala dan ego berbeda memang menakutkan. Menikah memang membutuhkan keberanian besar. Namun, hidup sendirian dalam kesepian atau terjebak dalam ketakutan yang terus diperkuat oleh konten di internet juga tidak kalah menakutkan.
Tren ini seharusnya membuat kita menjadi generasi yang lebih selektif dan bijaksana, bukan generasi yang terjebak dalam ketakutan. Pernikahan akan selalu menjadi misteri, namun dengan persiapan yang matang dan pemilihan pasangan yang tepat, ketakutan itu bisa diubah menjadi petualangan hidup yang mendewasakan dan penuh kasih.
Penulis:
Annisa Sabariyah
Mahasiswa Program Studi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
Universitas Pamulang







