TANGERANG SELATAN – Detoks digital kini semakin mendapat perhatian di tengah gaya hidup modern yang tak lepas dari layar ponsel. Banyak orang mulai menyadari pentingnya membatasi penggunaan perangkat demi menjaga kesehatan mental dan fisik, terutama ketika aktivitas digital justru memicu stres dan kelelahan.
Penggunaan ponsel berlebihan diketahui dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari gangguan fisik hingga penurunan kondisi mental. Salah satu kebiasaan yang kerap terjadi adalah doomscrolling, yakni aktivitas tanpa sadar terus-menerus mengonsumsi berita negatif.
Asisten profesor psikiatri di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, Naomi Dambreville, menjelaskan bahwa kebiasaan ini dapat menjebak seseorang dalam siklus emosi yang tidak sehat.
“Ini memengaruhi perhatian, suasana hati, harga diri, dan bisa memicu iritabilitas, kecemasan, atau kemarahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak orang awalnya membuka ponsel untuk mencari informasi, tetapi justru berakhir dengan perasaan yang lebih buruk.
“Kita mengambil ponsel untuk mencari update, tapi justru terpapar informasi traumatis atau menyedihkan secara real-time,” lanjutnya.
Fenomena ini diperparah oleh tingginya intensitas penggunaan ponsel. Data menunjukkan hampir setengah masyarakat mengalami ketergantungan, dengan frekuensi pengecekan yang sangat tinggi setiap harinya.
Menurut Naomi, kecanduan tidak selalu berkaitan dengan zat, tetapi juga bisa berupa perilaku.
“Kecanduan ponsel ditandai dengan penggunaan yang kompulsif dan berlebihan, serta merasa kehilangan kendali atau gelisah saat jauh dari ponsel. Jika Anda merasa seperti ‘sakau’ saat tidak online atau takut ketinggalan sesuatu, mungkin itu tanda ada masalah,” jelasnya.
Beberapa tanda ketergantungan antara lain sulit lepas dari ponsel, terus merespons notifikasi, hingga mengalami FOMO. Dampak fisik seperti sakit kepala, gangguan tidur, mata lelah, serta nyeri pada tangan juga kerap muncul akibat penggunaan berlebihan.
Sebagai solusi, detoks digital menjadi langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan layar. Studi tahun 2024 menunjukkan bahwa pengurangan penggunaan ponsel secara aktif dapat meningkatkan fokus, kontrol diri, kemampuan mengambil keputusan, hingga keterampilan sosial.
Namun, detoks digital tidak harus dilakukan secara ekstrem. “Kamu bisa menentukan sendiri bentuk detoks yang sesuai,” kata Naomi.
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah memantau durasi penggunaan perangkat untuk memahami pola kebiasaan. Selain itu, membuat batasan penggunaan, seperti membatasi waktu media sosial atau menutup aplikasi setelah durasi tertentu, juga efektif.
Mengganti kebiasaan lama dengan aktivitas baru seperti membaca, berolahraga, atau berinteraksi langsung dengan orang lain juga sangat dianjurkan.
“Otak kita menyukai kestabilan, jadi tidak selalu merespons perubahan dengan baik meskipun itu baik untuk kita,” jelasnya.
Meski demikian, proses detoks tidak selalu mudah. Rasa bosan, dorongan untuk kembali menggunakan ponsel, hingga perasaan kesepian bisa muncul selama proses berlangsung. “Kebosanan adalah konsekuensi yang paling umum dan sering kali paling sulit dihadapi,” tambahnya.
Dengan komitmen dan langkah yang tepat, detoks digital dapat membantu menciptakan keseimbangan yang lebih sehat antara kehidupan online dan offline.







