DI zaman sekarang, hampir semua orang memiliki kesempatan untuk berbicara. Cukup membuka media sosial, mengetik, membuat video, atau mengirim pesan melalui WhatsApp, pendapat kita sudah bisa sampai kepada banyak orang. Teknologi membuat komunikasi menjadi lebih cepat dan mudah. Namun, apakah orang yang mudah berbicara melalui media digital juga mampu berkomunikasi dengan baik secara langsung?
Fenomena ini cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan ikut mengubah cara mahasiswa berkomunikasi. Penelitian terhadap 179 mahasiswa Program Studi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB menemukan bahwa penggunaan media sosial berpengaruh signifikan terhadap pola komunikasi mahasiswa, terutama dalam interaktivitas, kecepatan penyebaran informasi, dan jangkauan komunikasi.
Media sosial memang memberikan banyak kemudahan. Mahasiswa dapat menyampaikan informasi dengan cepat dan berdiskusi tanpa harus berada di tempat yang sama. Namun, kemudahan tersebut bukan berarti kemampuan komunikasi secara langsung menjadi tidak penting.
Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan perkuliahan. Ada mahasiswa yang aktif di grup WhatsApp, berani membuat konten, dan mudah menyampaikan pendapat melalui chat. Tetapi ketika harus presentasi di depan kelas, mengikuti diskusi, atau menjawab pertanyaan dosen secara langsung, mereka justru merasa gugup. Ada yang berbicara terlalu cepat, lupa materi, atau kesulitan menyusun kata-kata.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa berbicara dan berkomunikasi bukanlah hal yang sama. Seseorang bisa saja banyak berbicara, tetapi belum tentu mampu menyampaikan pesan dengan baik. Komunikasi bukan hanya tentang seberapa banyak kita berbicara, tetapi juga tentang apakah orang lain memahami maksud yang kita sampaikan.
Dalam public speaking, kita tidak hanya menggunakan kata-kata. Intonasi suara, ekspresi wajah, bahasa tubuh, kontak mata, dan kemampuan mengendalikan rasa gugup juga menentukan bagaimana pesan diterima oleh audiens. Penelitian terhadap 50 mahasiswa mengenai penggunaan platform digital untuk mengembangkan kemampuan public speaking menemukan bahwa mayoritas responden mengalami peningkatan kepercayaan diri dan kemampuan berbicara setelah menggunakan platform seperti Zoom, YouTube, dan Google Meet.
Artinya, masalahnya bukan pada teknologi atau media sosialnya. Membuat video, berbicara di depan kamera, mengikuti diskusi online, atau menjelaskan suatu topik melalui video dapat menjadi latihan sebelum tampil secara langsung.
Bagi mahasiswa, kemampuan public speaking juga penting untuk kehidupan setelah lulus, seperti saat mengikuti wawancara kerja, melakukan rapat, menyampaikan ide, maupun menjelaskan pekerjaan. Karena itu, tantangan mahasiswa di era digital bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan kesempatan untuk berbicara, tetapi bagaimana menggunakan kesempatan tersebut untuk belajar berkomunikasi dengan baik.
Kita boleh aktif di media sosial dan terbiasa menyampaikan pendapat secara online, tetapi jangan lupa melatih komunikasi secara langsung. Sebab, seseorang tidak hanya dinilai dari apa yang ingin dikatakan, tetapi juga dari bagaimana ia mampu menyampaikannya. Karena semua orang bisa bicara, tetapi tidak semua orang bisa berkomunikasi.
Sumber:
- Prihantira, S. D. N. & Dharmawan, L. (2025). Pengaruh Penggunaan Media Sosial Pada Pola Komunikasi Gen Z di Era Digital. Institut Pertanian Bogor.
- Zainuddin, Z., Faiqoh, A. N., Gudsy, S. H., & Wulandari, S. (2024). Analisis Efektivitas Platform Digital dalam Mengembangkan Keterampilan Public Speaking di Kalangan Mahasiswa.
Penulis:
Helen Griselda
Mahasiswa Manajemen S1 (SDM) Universitas Pamulang







