DI era media sosial, kebiasaan masyarakat dalam berbelanja mengalami banyak perubahan. Saat ini, seseorang tidak hanya membeli barang karena membutuhkan, tetapi juga karena barang tersebut sedang viral atau banyak digunakan orang lain. Produk seperti pakaian, parfum, makanan, hingga perangkat elektronik dapat menjadi populer dalam waktu singkat setelah banyak dibahas di TikTok, Instagram, atau platform lainnya.
Menurut saya, fenomena ini menarik untuk dibahas karena keputusan pembelian terkadang lebih dipengaruhi oleh tren daripada kebutuhan. Ketika melihat banyak orang menggunakan suatu produk, muncul keinginan untuk ikut membeli agar tidak merasa tertinggal. Padahal, belum tentu barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau sesuai dengan kondisi keuangan.
Salah satu alasan konsumen membeli barang viral adalah pengaruh media sosial. Video ulasan, rekomendasi kreator, dan konten yang ditonton jutaan kali dapat membuat suatu produk terlihat menarik. Ketika banyak orang memberikan komentar positif, konsumen cenderung menganggap produk tersebut bagus dan layak dibeli.
Selain itu, lingkungan pertemanan juga memengaruhi keputusan pembelian. Misalnya, ketika sebagian besar teman menggunakan parfum tertentu atau membeli pakaian yang sedang tren, seseorang mungkin merasa ingin memiliki produk yang sama agar bisa mengikuti pergaulan. Keinginan tersebut terkadang muncul bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut dianggap ketinggalan tren.
Menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian tidak selalu berdasarkan pertimbangan rasional. Perasaan ingin diterima, rasa penasaran, dan keinginan mengikuti orang lain juga dapat memengaruhi perilaku konsumen.
Membeli barang yang sedang viral tidak selalu berdampak buruk. Konsumen dapat menemukan produk baru yang bermanfaat, memperoleh informasi dari pengalaman pengguna lain, dan mencoba sesuatu yang sebelumnya belum diketahui.
Namun, kebiasaan mengikuti tren tanpa pertimbangan dapat menimbulkan masalah. Konsumen berisiko membeli barang yang tidak dibutuhkan, menghabiskan uang secara berlebihan, atau kecewa karena kualitas produk tidak sesuai dengan harapan. Apalagi, tidak semua ulasan di media sosial benar-benar objektif karena sebagian dibuat untuk kepentingan promosi.
Oleh karena itu, konsumen perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum membeli barang. Popularitas suatu produk seharusnya menjadi informasi tambahan, bukan satu-satunya alasan untuk melakukan pembelian.
Menurut saya, masyarakat perlu lebih bijak dalam menghadapi tren belanja. Sebelum membeli produk viral, sebaiknya periksa manfaat, kualitas, harga, dan ulasan dari berbagai sumber. Konsumen juga perlu menyesuaikan pembelian dengan anggaran agar tidak mengganggu kebutuhan yang lebih penting.
Pada akhirnya, membeli barang hanya karena viral atau banyak digunakan orang lain merupakan hal yang wajar, tetapi tetap perlu dikendalikan. Kita tidak harus memiliki semua barang yang sedang populer untuk mengikuti perkembangan zaman. Menjadi konsumen yang bijak berarti mampu menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan sendiri, bukan sekadar mengikuti keputusan orang lain.
Penulis:
Achmad Dustin Evansyah
Aminudin
Julian
Muhamad Napis Imron
Rizky Ardiansyah
Rendi Agustina Wildan Maulana
Seftian
Mahasiswa Manajemen S1 Universitas Pamulang







