• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Pendidikan Bukan Barang Mewah, Tapi Jalan Keluar

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
Juni 30, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 2min read
Pendidikan Bukan Barang Mewah, Tapi Jalan Keluar
221
SHARES
2.4k
VIEWS

BAGI banyak keluarga, pendidikan adalah harapan pertama untuk keluar dari hidup yang serba pas-pasan. Di teori, pendidikan memang seharusnya jadi jalan keluar dari kemiskinan. Tapi di Indonesia, bagi banyak orang, pendidikan justru terasa seperti barang mahal yang hanya bisa dijangkau oleh yang punya uang.

Lalu muncul pertanyaan: apakah pendidikan benar-benar menyamaratakan kesempatan, atau malah memperlebar jarak antara orang kaya dan orang miskin?. Di lapangan, kenyataan tidak sesederhana yang tertulis. 

Pemerintah sudah ada program sekolah gratis dan wajib belajar, tapi orang tua tetap harus memikirkan banyak biaya. Uang kegiatan, seragam baru, buku tambahan, ongkos ke sekolah, bahkan biaya praktik. Semua ini sering tidak tertulis di aturan resmi, tapi tetap harus dibayar. Di desa-desa kecil, masalahnya bahkan lebih berat.

Ada sekolah yang ruang kelasnya bocor saat hujan, guru datang tidak setiap hari, dan anak-anak harus melewati jalan tanah yang licin untuk sampai ke kelas. Kondisi seperti ini membuat pendidikan seolah jadi hak istimewa, bukan hak semua orang. Akibatnya, banyak anak yang harus berhenti sekolah bukan karena tidak mau belajar, tapi karena orang tuanya sudah tidak sanggup membayar biaya yang terus muncul.

BACA JUGA :  20 Tahun Syafana Islamic School Membangun Generasi Unggul dan Tangguh

Kalau pendidikan masih dianggap barang mewah, dampaknya langsung terasa pada kehidupan sehari-hari. Anak yang putus sekolah atau hanya sekolah sampai tingkat rendah biasanya punya keterampilan yang terbatas.

Mereka sering hanya bisa bekerja di sektor informal yaitu seperti jadi tukang ojek, penjual kecil, atau pekerja harian dengan pendapatan yang tidak menentu dan hampir tidak ada ruang untuk berkembang. Sementara anak yang punya akses pendidikan lebih baik sering mendapat kesempatan kerja yang lebih jelas dan pendapatan yang lebih tetap. Begitu terus berputar: orang miskin sulit sekolah, tetap miskin, dan anaknya menghadapi tantangan yang sama. 

Lama-lama, kemajuan ekonomi hanya dinikmati oleh segelintir orang, sementara sebagian besar masyarakat tetap di tempat yang sama. Pemerintah sebenarnya sudah mengalokasikan anggaran pendidikan yang besar, bahkan lebih dari 20% dari APBN.

BACA JUGA :  Dianggap Tak Transparan, Anggota Senat Akademik UPI Pertanyakan Penetapan Calon Rektor

Tapi di lapangan, banyak yang merasa bantuan itu tidak selalu tepat sasaran. Masih ada biaya tersembunyi yang dibebankan ke orang tua, dan kualitas sekolah di kota masih jauh berbeda dengan di desa. Sistem pendidikan sering kali hanya mengejar angka: jumlah siswa yang masuk, angka partisipasi, dan sebagainya, tapi kurang memperhatikan apakah pendidikan itu benar-benar berkualitas dan terjangkau. Sungguh disayangkan jika anggaran besar hanya jadi angka di kertas, sementara jutaan anak masih menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang mahal dan hampir tidak bisa mereka raih. 

Sekarang, kita perlu kembali ke makna pendidikan yang sebenarnya yaitu pendidikan harus bisa diakses oleh semua, tanpa biaya tersembunyi yang memberatkan. Fasilitas sekolah perlu diperbaiki secara merata, dan materi pelajaran harus dibikin lebih relevan dengan kehidupan nyata, supaya anak-anak bisa belajar untuk mandiri secara ekonomi.

BACA JUGA :  Eksistensi Pembelajaran Sastra Indonesia dalam Menyongsong Revolusi Industri 5.0

Pemerintah perlu tegas menertibkan pungutan liar dan memastikan anggaran pendidikan benar-benar sampai ke keluarga yang paling membutuhkan. Dunia usaha dan masyarakat juga bisa ikut terlibat, agar pendidikan tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai investasi bersama. Ketika pendidikan benar-benar terjangkau dan berkualitas bagi semua, barulah ia bisa menjadi jalan keluar yang nyata bukan lagi sekadar harapan yang sulit dijangkau oleh mereka yang terpinggirkan.

 

Penulis:

Dinda Yuniara Dima 251011600128

Kristiani Rohani Simanullang251011600048

Mahasiswa Universitas Pamulang

Tags: pendidikan
Previous Post

DPR Siap Kaji RUU LGBT Usulan MUI setelah Draf Resmi Diserahkan

Next Post

Pendidikan Karakter di Era Digital: Tantangan atau Peluang?

Related Posts

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda
DUNIA KAMPUS

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda

Oktober 21, 2026
2.1k
Pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Z
DUNIA KAMPUS

Pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Z

Oktober 21, 2026
2.3k
Sekali Klik, Uang Berpindah: Di Balik Cepatnya Transaksi Perbankan di Era Digital
DUNIA KAMPUS

Sekali Klik, Uang Berpindah: Di Balik Cepatnya Transaksi Perbankan di Era Digital

Oktober 20, 2026
2.4k
Pembatasan Perdagangan: Tarif
DUNIA KAMPUS

Pembatasan Perdagangan: Tarif

Oktober 20, 2026
2.4k
Jenis-Jenis Pasar Modal
DUNIA KAMPUS

Kenapa Banyak Perusahaan Gagal Bukan Karena Modal, Tapi Karena Salah Hitung Orang?

Oktober 20, 2026
2.4k
Kita Terlalu Sibuk Belajar Bicara, tetapi Lupa Belajar Mendengarkan
DUNIA KAMPUS

Kita Terlalu Sibuk Belajar Bicara, tetapi Lupa Belajar Mendengarkan

Oktober 20, 2026
2.4k
Next Post
Pendidikan Karakter di Era Digital: Tantangan atau Peluang?

Pendidikan Karakter di Era Digital: Tantangan atau Peluang?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com