Catatan Harian ASA
KEMARIN, di sebuah grup bestie kami, ada tema pembicaraan tentang luka.
Awalnya hanya candaan biasa. Postingan biasa tentang makanan dan masakan yang dimasak DR. Charlie sang pengacara.
Saling menyentil. Saling tertawa. Saling melempar humor tentang hidup dan cinta.
Lalu kembali DR. Charlie mengunggah dirinya bernyanyi, dengan lagu bertema terluka.
Tak lama kemudian, Roesli, seorang pengusaha MBG, juga memposting dirinya sedang bernyanyi dengan nuansa yang sama: tentang hati yang terluka.
Lalu ditimpali oleh Irwan, sang pemilik sekolah, dengan candaan-candaan ringan yang membuat grup kembali tertawa bersama.
Ada yang bercanda tentang cinta yang gagal. Ada yang menyinggung pengkhianatan. Ada yang tertawa sambil mengaku dirinya juga pernah dipatahkan oleh keadaan.
Percakapannya panjang, kadang kami mengobrol lama, bukan tentang luka batin kita tapi menyambungkan frekuensi sesama pria yang pernah terluka dengan tersenyum bersama hanya sekedar mengobati luka lama kita.
Kadang lucu.
Kadang terasa sunyi di sela-sela tawanya.
Dan saat itulah saya menyadari satu hal:
di balik candaan para pria, sering tersembunyi luka yang nyata, bahkan sangat dalam.
Mereka tertawa, bukan karena tidak pernah sakit dan menderita.
Tetapi karena itulah cara sebagian pria bertahan dalam hidupnya.
Sebagian pria tidak pandai menangis di depan orang lain.
Maka mereka menyembunyikan traumanya lewat humor, musik, kesibukan, dan obrolan ringan yang terlihat biasa saja. Mereka terlihat normal dan biasa saja.
Padahal di dalam hati mereka, ada banyak hal yang belum benar-benar sembuh.
Dan memang begitulah isi kepala seorang pria.
Mereka juga manusia.
Mereka juga pernah terluka.
Pernah kecewa.
Pernah merasa tidak dicintai.
Pernah merasa gagal.
Pernah memendam trauma bertahun-tahun, tanpa tahu harus bercerita kepada siapa.
Pria juga sering menangis.
Namun tidak selalu dengan air mata.
Sebagian pria menangis dalam diam.
Menangis saat menyetir sendirian di malam hari.
Menangis saat semua orang tertidur, tetapi pikirannya tidak bisa tenang.
Menangis saat tersenyum di depan banyak orang, padahal hatinya sedang runtuh perlahan, dan hancur berkeping lalu memungutnya kembali.
Dan anehnya, air mata mereka sering tidak jatuh.
Bukan karena mereka tidak punya rasa.
Tetapi karena air mata itu seolah tertampung di dalam jiwanya yang luas.
Jiwa yang terlalu terbiasa menahan rasa.
Terlalu terbiasa kuat.
Terlalu terbiasa menjadi tempat bersandar bagi orang lain, hingga lupa bagaimana caranya bersandar.
Yang paling ramai dari seorang pria yang terluka, bukan mulutnya.
Tetapi pikirannya, yang selalu berkecamuk sehingga mereka terlihat sering merenung.
Karena pria yang menyimpan luka, sering terlihat diam di luar, namun sangat bising dan sibuk berfikir di dalam dirinya sendiri.
Ia memikirkan banyak hal, bahkan saat semua orang mengira dirinya baik-baik saja.
Ia memikirkan: mengapa dirinya harus selalu kuat sejak kecilnya.
Mengapa dirinya selalu mencoba mengerti orang lain, tetapi jarang benar-benar dimengerti.
Mengapa dirinya tetap bertahan, meski sering merasa sendirian juga.
Pria yang menyimpan luka biasanya tidak pandai bercerita.
Bukan karena tidak ingin bicara.
Tetapi karena terlalu sering kecewa saat mencoba terbuka.
Akhirnya ia belajar diam.
Belajar menutupi rasa sakit dengan kesibukannya.
Belajar tersenyum meski pikirannya dan badannya serta jiwanya juga lelah.
Dan dari situlah, banyak pria perlahan berubah menjadi pribadi yang tenang, tetapi sulit ditebak isi hatinya.
Ada malam-malam di mana dirinya terlihat biasa saja.
Padahal pikirannya sedang penuh dan berkecamuk.
Tentang hidup. Tentang keluarga. Tentang masa depan. Tentang rasa kecewa yang tidak pernah selesai-selesai.
Kadang ia bertanya dalam diam: “Apakah saya benar-benar dihargai?” “Apakah selama ini saya hanya dimanfaatkan?” “Atau mungkin saya memang tidak sepenting itu bagi siapa pun?”
Namun anehnya, di tengah semua luka itu, banyak pria tetap memilih menjadi baik.
Tetap membantu orang lain.
Tetap berusaha membuat orang di sekitarnya bahagia.
Tetap berusaha menjadi tempat tenang, meski dirinya sendiri belum benar-benar tenang.
Bahkan ada seorang pria, yang pernah merasakan pahitnya dipukul, diusir, dihina, dan diabaikan oleh orang yang seharusnya memberi kasih sayang.
Ia pernah pulang dengan hati hancur, tetapi tetap tersenyum di depan orang lain.
Ia pernah merasa tidak dianggap, namun tetap memilih menghargai.
Ia pernah diperlakukan kasar, tetapi tidak membiarkan hatinya berubah menjadi kasar.
Dan yang paling sulit dipahami banyak orang…
setelah semua luka itu, dirinya justru memilih untuk memaafkan semua.
Bukan karena lemah.
Tetapi karena ia tahu, membenci terlalu lama hanya akan melelahkan hatinya.
Maka ia memilih membalas luka dengan kebaikan.
Membalas dingin dengan ketenangan.
Membalas kebencian dengan cinta yang lebih dewasa.
Karena pria yang benar-benar kuat, bukan pria yang pandai melukai balik orang.
Tetapi pria yang mampu menjaga hatinya tetap bersih, meski hidup pernah memperlakukannya dengan kasar.
Ia tahu rasanya dan sakitnya dipatahkan.
Maka ia memilih tidak mematahkan hati orang lain.
Ia tahu rasanya dihina, dicaci maki dan diabaikan.
Maka ia berusaha tetap menghargai, bahkan rela mencium dengan kasih.
Dan ia tahu rasanya berjalan sendirian, maka diam-diam ia membantu orang lain menemukan jalannya.
Mungkin itu sebabnya, pria yang paling dewasa bukanlah pria yang tidak punya luka.
Tetapi pria yang mampu menyimpan lukanya dengan tenang, tanpa mengubah dirinya menjadi pahit.
Karena tidak semua orang yang terluka berubah menjadi kasar.
Sebagian justru berubah menjadi lebih bijaksana.
Lebih tenang.
Dan lebih memahami arti menjadi manusia yang sebenarnya.
14 Mei 2026
ASA | Asrul Sani Abu, S.E., M.M.
Penulis buku, pengurus APINDO dan ALFI Sulselbar







