BSD Serpong, di rumah yang perlahan kembali sunyi.
Kemarin saya sempatkan pulang ke rumah kami, di kota danau Tangerang Selatan setelah bekerja lama di kota pantai, Makassar.
Rumah yang kami bangun perlahan sejak tahun 2007,
saat anak bungsu kami baru saja lahir.
Rumah yang dulu dibangun dengan banyak harapan dan cinta.
Bukan hanya tentang tembok dan atap,
tetapi tentang mimpi sederhana: melihat anak-anak tumbuh di dalamnya. Memberinya rumah yang nyaman dan kasih sayang terbaik untuk mereka.
Dulu rumah ini terasa sempit, walaupun mereka punya kamar sendiri-sendiri.
Ada suara langkah kaki kecil, bermain atau berlarian.
Ada suara televisi atau musik hingga lantunan ayat suci yang tidak pernah benar-benar mati.
Ada sepatu sekolah di depan pintu.
Ada tas yang dilempar sembarangan.
Ada suara minta dibelikan sesuatu.
Ada pertengkaran kecil antar saudaranya.
Kadang melelahkan, kadang membosankan memang.
Tetapi kini saya mengerti…
justru itulah suara kehidupan yang dirindukan.
Sekarang semuanya berubah perlahan.
Yang paling tua sudah mulai bekerja di bidang FnB Makassar.
Dan si bungsu,
yang lahir bersamaan dengan mulai dibangunnya rumah ini…
kini diterima di Fakultas Hukum, Kampus Udayana Bali.
Sebagai orang tua tentu ada rasa bangga.
Tetapi di balik bangga itu,
ada rasa sunyi yang datang diam-diam.
Karena sejak itu,
rumah ini mulai terasa berbeda, walaupun sudah direnovasi sebagian oleh sang istri.
Tak ada lagi tugas antar jemput anak sekolah.
Tak ada lagi terburu-buru pagi hari
menyiapkan sarapan atau memastikan mereka tidak terlambat.
Tak ada lagi pertanyaan sederhana: “Nanti pulangnya jam berapa?”
Tak ada lagi kesibukan menyiapkan makanan kesukaan mereka.
Tak ada lagi suara pintu kamar terbuka tutup.
Tak ada lagi rasa penasaran kecil sebagai orang tua:
“Dia lagi ngapain di kamar?”
“Sudah makan belum mereka?”
“PR-nya sudah selesai atau belum?”
Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa…
ternyata adalah bagian paling hidup dari sebuah rumah.
Kini kamar-kamar itu masih ada.
Rapi.
Tenang.
Terlalu tenang. Tetap dirawat dengan baik oleh ibunya.
Dan justru itu yang membuat hati terasa penuh hikmah.
Kadang saya berjalan pelan melewati kamar mereka.
Melihat meja belajar yang dulu penuh buku.
Melihat sudut tempat mereka tumbuh besar. Melihat kasurnya yang sudah rapi semua.
Lalu tanpa sadar tersenyum sendiri….
Waktu ternyata sudah berjalan sangat cepat.
Anak-anak yang dulu digendong,
ditunggu di depan gerbang sekolah,
dibawakan makanan, diantar les,
dikhawatirkan tugas sekolahnya…
kini sudah punya jalan hidupnya sendiri.
Dan mungkin beginilah kehidupan sebagian orang tua.
Selama bertahun-tahun kita sibuk menjaga mereka tumbuh.
Lalu suatu hari…
kita harus belajar menerima bahwa mereka memang diciptakan untuk pergi jauh.
Bukan pergi meninggalkan cinta.
Tetapi pergi membawa bekal cinta itu ke kehidupannya sendiri.
Usia 50an mungkin memang usia
ketika manusia mulai belajar berdamai dengan perubahan.
Belajar menerima bahwa rumah tidak akan selamanya ramai.
Bahwa pada akhirnya,
anak-anak akan menemukan dunianya sendiri.
Dan orang tua perlahan kembali belajar hidup berdua… atau bahkan sendiri.
Seperti saat semuanya belum dimulai dulu.
Kemarin malam saya duduk cukup lama di sofa ruang tamu dan bahkan tiduran di karpetnya.
Rumah ini masih sama seperti dulu.
Tetapi saya sadar,
yang berubah bukan rumahnya.
Melainkan waktunya.
Dan ternyata…
hal-hal yang dulu sering membuat lelah,
kini justru menjadi hal yang paling dirindukan.
Mungkin benar,
cinta orang tua sering baru terasa sunyinya
saat rumah mulai kehilangan suara anak-anaknya.
Dan malam itu saya akhirnya mengerti:
kadang rumah yang paling sepi…
adalah rumah yang pernah dipenuhi keramaian setiap hari.
Salam Hangat
ASA | Asrulsani Abu, S.E., M.M.
Penulis buku, pengurus APINDO dan ALFI Sulselbar







