TANGERANG SELATAN – Kesehatan mental kini menjadi perhatian besar, terutama di kalangan generasi muda. Berbagai survei menunjukkan bahwa tingkat kecemasan atau anxiety terus meningkat, mendorong munculnya beragam cara untuk mengatasinya.
Salah satu yang tengah viral di media sosial adalah anxiety bag, yang juga dikenal sebagai panic pouch atau calm-down kit. Tas kecil ini berisi berbagai alat sederhana yang dirancang untuk membantu menenangkan diri saat rasa cemas atau panik datang.
Tren ini semakin populer di kalangan generasi Z, khususnya perempuan. Berdasarkan survei terhadap hampir seribu responden usia 18–26 tahun, sebanyak 61 persen mengaku telah didiagnosis mengalami gangguan kecemasan, sementara 43 persen mengalami serangan panik setidaknya sebulan sekali.
Di tengah kondisi tersebut, kehadiran anxiety bag dinilai cukup membantu. Ahli neuroscience, Dr. Kyra Bobinet, menyebut menyimpan alat bantu regulasi diri dalam jangkauan saat stres tinggi sebagai langkah cerdas.
“Ini cara untuk mengalihkan dan menenangkan. Menciptakan sensasi lain agar Anda tidak sepenuhnya dikuasai oleh pikiran cemas,” ujarnya.
Isi anxiety bag pun beragam, mulai dari obat yang diresepkan dokter, minyak esensial seperti lavender yang menenangkan, hingga permen asam untuk stimulasi sensorik.
Psikolog klinis Dr. Jenny Martin menjelaskan, intervensi sensorik sederhana dapat membantu meredakan lonjakan kecemasan.
“Alat-alat ini bekerja dengan mengalihkan perhatian dari pikiran cemas ke tubuh dan momen saat ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap orang memiliki pemicu kecemasan yang berbeda, sehingga isi tas perlu disesuaikan. Untuk kecemasan akibat overstimulasi, headphone peredam suara atau musik menenangkan bisa membantu. Sementara untuk pikiran “bagaimana jika”, teknik grounding seperti fokus pada rasa permen mint dinilai lebih efektif.
“Fidget atau benda bertekstur juga bisa memberi sensasi sentuhan yang kuat,” tambahnya.
Meski terbukti membantu, para ahli mengingatkan agar penggunaan anxiety bag tidak menimbulkan ketergantungan. Dalam jangka panjang, kemampuan mengelola kecemasan secara mandiri tetap menjadi tujuan utama.
“Ini ide yang bagus untuk membantu pasien. Namun, dalam jangka panjang, tujuannya adalah mengurangi ketergantungan, bahkan belajar tanpa tas tersebut,” pungkas psikiater Dr. Vinay Saranga.







