PERKEMBANGAN zaman yang semakin pesat membawa berbagai perubahan dalam kehidupan remaja, terutama dalam pola pergaulan dan akses informasi. Kemudahan penggunaan media sosial, paparan konten digital tanpa batas, serta pengaruh lingkungan pertemanan yang kurang kondusif dapat mendorong munculnya perilaku menyimpang, salah satunya adalah perilaku seks bebas (free sex). Fenomena ini menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan karena berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda.
Perilaku seks bebas di kalangan remaja tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan fisik, seperti risiko infeksi menular seksual (IMS) dan kehamilan yang tidak direncanakan, tetapi juga dapat menimbulkan dampak psikologis berupa rasa cemas, depresi, kehilangan rasa percaya diri, serta tekanan sosial dari lingkungan sekitar. Selain itu, dampak sosial seperti putus sekolah, konflik keluarga, hingga rusaknya reputasi diri juga menjadi konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, diperlukan langkah preventif yang sistematis melalui edukasi dan pendampingan yang tepat.
Di lingkungan Yayasan Pembangunan Masyarakat Sejahtera (YPMS) Kedaung, isu pergaulan remaja menjadi perhatian penting. Masa remaja merupakan fase transisi dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial. Pada fase ini, rasa ingin tahu yang tinggi sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan pengambilan keputusan yang matang. Kurangnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi serta nilai moral dalam pergaulan dapat menjadi celah munculnya perilaku berisiko.
Menyadari urgensi tersebut, kami sekelompok mahasiswa Program Studi Manajemen S-1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang, melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan judul “Sosialisasi Pencegahan Perilaku Menyimpang (Free Sex) pada YPMS Kedaung”.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi yang komprehensif mengenai bahaya perilaku seks bebas, meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, serta membentuk karakter remaja yang bertanggung jawab dan berorientasi pada masa depan. Sasaran utama kegiatan ini adalah siswa SMK YPMS Kedaung dengan harapan terciptanya lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan berlandaskan nilai-nilai moral.
Metode Pelaksanaan
Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan pada 27 Desember 2025 ini dirancang menggunakan pendekatan partisipatif dan edukatif agar siswa tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan dibagi ke dalam beberapa tahapan utama.
Tahap pertama adalah identifikasi permasalahan. Pada tahap ini dilakukan observasi awal serta diskusi dengan pihak yayasan dan guru untuk mengetahui kondisi umum pergaulan siswa serta tingkat pemahaman mereka mengenai kesehatan reproduksi dan risiko perilaku seks bebas. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sebagian siswa masih memiliki pemahaman yang terbatas dan cenderung mendapatkan informasi dari sumber yang kurang tepat, seperti media sosial tanpa filter.
Tahap kedua adalah penyampaian materi edukasi. Materi disampaikan melalui metode ceramah interaktif yang dikombinasikan dengan presentasi visual agar lebih mudah dipahami. Adapun materi yang diberikan meliputi pengertian perilaku seks bebas, faktor penyebab (pengaruh teman sebaya, kurangnya pengawasan orang tua, rasa ingin tahu yang tinggi, serta paparan konten negatif), dampak kesehatan dan sosial, serta pentingnya menjaga batasan dalam pergaulan. Selain itu, disampaikan pula pentingnya pendidikan karakter, pengendalian diri, dan kemampuan mengambil keputusan yang bijak.
Tahap ketiga adalah sesi diskusi dan simulasi. Dalam sesi ini, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan studi kasus yang berkaitan dengan pergaulan remaja. Mereka diminta menganalisis dampak dari suatu tindakan serta memberikan solusi yang tepat. Simulasi penolakan ajakan negatif juga dilakukan untuk melatih keberanian siswa dalam berkata “tidak” terhadap tekanan teman sebaya.
Tahap keempat adalah evaluasi dan refleksi. Evaluasi dilakukan dengan mengamati partisipasi aktif siswa, respons terhadap materi, serta memberikan pertanyaan reflektif untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka setelah mengikuti kegiatan. Refleksi ini bertujuan untuk mengetahui perubahan pola pikir serta komitmen siswa dalam menjaga diri.
Hasil dan Pembahasan
Pelaksanaan sosialisasi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa mengenai risiko perilaku seks bebas. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian siswa menganggap topik tersebut sebagai hal yang tabu untuk dibahas atau bahkan menganggapnya sebagai bagian dari gaya hidup modern. Setelah mendapatkan penjelasan yang sistematis dan terbuka, mereka mulai memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang besar terhadap masa depan.
Dari aspek kognitif, siswa mampu menjelaskan kembali pengertian perilaku seks bebas serta dampak yang dapat ditimbulkannya. Mereka juga mulai memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan membatasi interaksi yang berpotensi menimbulkan risiko.
Dari aspek afektif, terlihat adanya perubahan sikap berupa meningkatnya kesadaran dan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri. Para siswa menunjukkan empati dan kepedulian terhadap pentingnya menjaga martabat serta menghormati nilai-nilai sosial dan agama.
Dari aspek konatif atau tindakan, beberapa siswa menyampaikan komitmen untuk lebih selektif dalam memilih pergaulan, mengurangi konsumsi konten negatif di media sosial, serta fokus pada pengembangan diri dan prestasi akademik. Diskusi berlangsung secara aktif dan terbuka, menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif efektif dalam membangun komunikasi dua arah.
Kegiatan ini juga memperkuat peran sekolah sebagai lingkungan pembentuk karakter. Sosialisasi tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan perencanaan masa depan. Dengan demikian, pendekatan edukatif yang sistematis terbukti mampu menjadi langkah preventif dalam menekan potensi perilaku menyimpang di kalangan remaja.
Kesimpulan dan Saran
Kegiatan Sosialisasi Pencegahan Perilaku Menyimpang (Free Sex) pada YPMS Kedaung telah berhasil meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan komitmen siswa dalam menjaga diri dari pergaulan berisiko. Metode pelaksanaan yang interaktif dan partisipatif mampu menciptakan suasana diskusi yang terbuka serta mendorong siswa untuk berpikir kritis terhadap setiap pilihan yang mereka ambil.
Sebagai tindak lanjut, beberapa saran dapat diajukan. Pertama, kegiatan sosialisasi perlu dilakukan secara rutin dan berkelanjutan agar edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pergaulan sehat terus diperkuat. Kedua, peran orang tua dan guru perlu dioptimalkan melalui komunikasi yang terbuka dan pengawasan yang bijak. Ketiga, pengembangan media edukasi berbasis digital seperti video informatif dan kampanye media sosial dapat menjadi strategi efektif untuk menjangkau remaja sesuai dengan perkembangan zaman.
Keempat, kolaborasi dengan tenaga kesehatan, konselor, atau lembaga psikologi remaja sangat disarankan untuk memberikan pendampingan profesional bagi siswa yang membutuhkan. Dengan kerja sama yang berkelanjutan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, diharapkan tercipta generasi muda yang sehat secara fisik, mental, dan moral, serta mampu menjaga diri demi masa depan yang lebih cerah.
Penulis:
Vera Rahmawati
Revinda Yayang Kurniawan
Tri Yuda Rahmandhanu
Dosen Pembimbing: Muhammad Gandum, S.E.,M.M.
Mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang







