JAKARTA – Sejarawan sekaligus Editor Buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) Jilid 10, Dr. Amurwani Dwi Lestari Ningsih, memaparkan pentingnya pendokumentasian ulang sejarah kontemporer Indonesia dalam peluncuran buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” Jilid 10. Melalui diskusi mendalam di kanal Kulturasi, Dr. Amurwani menekankan periode 1998 hingga 2024 adalah masa krusial yang menentukan wajah demokrasi Indonesia di masa depan.
Dalam penjelasannya, Dr. Amurwani, mengungkapkan Jilid 10 buku SNI mengusung metodologi historiografi yang lebih inklusif. “Kami tidak hanya mencatat peristiwa dari kacamata elit politik, tetapi juga merekam peran rakyat biasa, khususnya gerakan perempuan yang sangat masif dalam dua dekade terakhir. Ini adalah upaya kami menjaga objektivitas di tengah peristiwa yang pelakunya masih banyak yang hidup atau history in the making,” ujarnya.
la menguraikan buku SNI Jilid 10 memotret transformasi besar Indonesia pasca-Reformasi, termasuk transisi kepemimpinan dari lima presiden yang berbeda. Dr. Amurwani mencatat bahwa salah satu temuan penting adalah kedewasaan berpolitik para pemimpin bangsa yang mampu mengedepankan persatuan NKRI di atas ego kekuasaan, terutama dalam momen-momen krisis.
Selain itu, Jilid 10 ini juga mendokumentasikan perubahan paradigma pembangunan nasional. Pada Jilid 10, lanjut Dr. Amurwani, narasi yang dibangun kini benar-benar Indonesia-sentris, bukan lagi Jawa-sentris.
“Catatan mengenai pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi simbol penting dari pemerataan peradaban dan infrastruktur yang merambah hingga ke pelosok nusantara,” tambah Dr. Amurwani.
Inisiatif penulisan ulang sejarah ini sebelumnya telah diresmikan oleh Menteri
Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, pada pertengahan Desember lalu. Kehadiran seri buku 10 jilid ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Kebudayaan untuk menyediakan rujukan sejarah yang segar, akurat, dan multidimensi bagi publik.
Dukungan kementerian terhadap proyek ini bertujuan agar nilai-nilai kebangsaan dan jati diri Indonesia tetap relevan di tengah arus globalisasi. Dengan dokumentasi yang kuat, pemerintah berharap masyarakat memiliki panduan nilai yang bersumber dari perjalanan nyata bangsa sendiri.
Lebih lanjut, Dr. Amurwani menjelaskan buku ini juga menyoroti posisi tawar Indonesia di kancah internasional. Keberhasilan Indonesia menjaga harmoni di tengah keberagaman melalui ideologi Pancasila sering kali menjadi objek studi bagi negara-negara lain, seperti Mesir.
“Jilid 10 mencatat peran diplomasi Indonesia di forum-forum besar seperti G20 sebagai bukti kontribusi nyata bangsa dalam peradaban global,” sebutnya.
Sebagai penutup diskusi, Dr. Armurwani mengajak generasi muda untuk tidak sekadar melihat sejarah sebagai hafalan masa lalu. Menurutnya, buku SNI terbaru adalah awal titik balik bagi kita untuk melanjutkan sejarah yang sedang kita buat hari ini. “Memahami sejarah adalah cara terbaik untuk memprediksi dan memberikan arah bagi masa depan bangsa,” pungkasnya.
Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global Jilid 10 kini bisa menjadi referensi bagi akademisi, peneliti, dan masyarakat umum yang ingin memahami perjalanan reformasi Indonesia secara utuh dan objektif.
Kementerian Kebudayaan Ri berdedikasi dalam pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya serta penguatan narasi sejarah nasional guna memperkokoh identitas bangsa Indonesia di tingkat dunia.(*)







