PENGEMBANGAN kapasitas emosional dan sosial anak merupakan aspek penting dalam proses pendidikan yang berkelanjutan. Hal inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan kegiatan Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat (PMKM) oleh mahasiswa Universitas Pamulang di Yayasan Al Kamilah, Bogor, pada 16 November 2025.
Kegiatan yang mengusung tema “Kelas Seni dan Kreativitas sebagai Sarana Terapi Ekspresif bagi Anak melalui Pendekatan Interaktif” ini dirancang sebagai upaya edukatif untuk membantu anak-anak usia SMP hingga SMA dalam memahami, mengekspresikan, dan mengelola emosi secara konstruktif.
Program ini berangkat dari pemahaman bahwa fase remaja merupakan periode perkembangan emosional yang kompleks. Pada tahap ini, anak sering kali mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan secara verbal, sehingga membutuhkan medium alternatif yang aman dan inklusif. Tidak semua anak mampu menceritakan apa yang mereka rasakan, terutama dalam lingkungan sosial yang terbatas. Seni dan kreativitas kemudian dipilih sebagai medium terapi ekspresif karena mampu menjadi bahasa alternatif bagi anak untuk menyalurkan emosi, melakukan refleksi diri, serta membangun pemahaman terhadap perasaan mereka sendiri.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya memberikan materi secara satu arah. Anak-anak diajak terlibat langsung dalam aktivitas seni sederhana yang mendorong mereka mengekspresikan perasaan, bekerja sama, dan berinteraksi dengan teman sebaya. Dari proses tersebut, terlihat bagaimana seni mampu mencairkan suasana. Anak-anak yang awalnya pasif perlahan mulai berani berbicara, berbagi cerita saat sesi quiz.

Selain aspek emosional, kegiatan ini juga dirancang untuk menumbuhkan keterampilan sosial. Melalui diskusi kelompok dan aktivitas kolaboratif, anak-anak belajar menghargai pendapat orang lain, menyampaikan ide dengan cara yang positif, serta mengelola perbedaan. Nilai-nilai ini menjadi bekal penting bagi mereka, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia pendidikan dan kerja di masa depan.
Menariknya, program ini tidak berhenti pada seni sebagai media ekspresi semata. Mahasiswa Universitas Pamulang juga mengaitkan seni dan kreativitas dengan dunia akuntansi dan dunia kerja. Anak-anak diperkenalkan pada pemahaman bahwa kreativitas tidak hanya berkaitan dengan menggambar atau membuat karya seni, tetapi juga berperan besar dalam berpikir logis, mencari solusi efisien, dan memecahkan masalah, termasuk masalah biaya dan pengelolaan sumber daya.
Melalui contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan anak, mahasiswa menjelaskan bahwa akuntansi tidak selalu identik dengan angka yang kaku dan membosankan. Di balik proses pencatatan dan perhitungan, terdapat kebutuhan akan kreativitas untuk menganalisis masalah, melihat peluang, serta mengambil keputusan yang tepat. Dengan cara ini, anak-anak diajak membuka sudut pandang baru bahwa seni dan logika dapat berjalan beriringan.
Respons anak-anak Yayasan Al Kamilah terhadap kegiatan ini terbilang positif. Sebagian besar dari mereka tampak antusias mengikuti setiap sesi. Ekspresi wajah yang ceria, keaktifan dalam bertanya, hingga keberanian menyampaikan pendapat menjadi indikator bahwa pendekatan interaktif yang digunakan mampu menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sosial yang berharga. Mereka tidak hanya menerapkan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah, tetapi juga belajar memahami realitas sosial dan kebutuhan emosional anak-anak. Sementara bagi anak-anak Yayasan Al Kamilah, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan diri, kemampuan mengelola emosi, serta cara berpikir kreatif yang akan berguna dalam menentukan pilihan hidup mereka ke depan.
Kegiatan Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus dibatasi oleh sekat disiplin ilmu. Ketika seni, kreativitas, dan akuntansi dipadukan dalam pendekatan yang humanis, proses belajar dapat menjadi lebih relevan, dan berdampak nyata. Lebih dari sekadar program singkat, kelas seni dan kreativitas ini merepresentasikan pendekatan pendidikan yang humanis dan kontekstual. Integrasi seni sebagai media terapi ekspresif dengan pola pikir akuntansi yang analitis dan solutif menunjukkan bahwa pembelajaran lintas disiplin mampu menjawab kebutuhan emosional sekaligus kognitif anak.
Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya memperoleh ruang untuk mengenali diri dan emosi mereka, tetapi juga diperkenalkan pada cara berpikir kreatif dan rasional sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan dan dunia kerja di masa depan. Pada saat yang sama, kegiatan ini menegaskan peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan sosial yang hadir secara nyata di tengah masyarakat.
Penulis:







