MAHASISWA Program Studi Manajemen Keuangan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang (UNPAM) mengangkat isu penting seputar kebiasaan belanja daring pelajar melalui sebuah kajian yang membahas bagaimana pelajar dapat menguatkan pengendalian diri di tengah derasnya tren TikTok Shop dan social commerce. Kajian ini lahir dari keprihatinan terhadap semakin mudahnya proses belanja daring yang, jika tidak diimbangi kesadaran diri, berpotensi mendorong perilaku konsumtif di kalangan pelajar.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah pola interaksi masyarakat dari aktivitas konvensional menjadi aktivitas berbasis digital. Media sosial yang semula hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi dan hiburan kini berkembang menjadi platform bisnis melalui konsep social commerce, yang menggabungkan interaksi sosial dengan transaksi elektronik sehingga pengguna tidak perlu berpindah aplikasi untuk berbelanja.
Salah satu platform social commerce yang berkembang paling pesat adalah TikTok Shop. Melalui video pendek, siaran langsung atau live shopping, fitur keranjang belanja, hingga rekomendasi produk berbasis algoritma, platform ini membuat proses belanja terasa lebih menarik dan interaktif. Ditambah dengan promosi seperti potongan harga, flash sale, voucher, gratis ongkos kirim, dan pemasaran lewat influencer, minat masyarakat untuk membeli secara spontan pun semakin meningkat.
Di satu sisi, pesatnya perkembangan TikTok Shop memberi dampak positif bagi ekonomi digital, termasuk membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar. Namun di sisi lain, kemudahan ini juga membawa risiko tersendiri bagi pelajar, kelompok pengguna media sosial yang sangat aktif. Tingginya intensitas penggunaan media sosial membuat pelajar lebih sering terpapar promosi digital yang dirancang khusus untuk menarik perhatian dan memengaruhi keputusan pembelian mereka.
Fenomena ini patut menjadi perhatian karena pelajar umumnya masih berada pada tahap perkembangan psikologis yang ditandai rasa ingin tahu tinggi, kecenderungan mengikuti kelompok sebaya, serta keinginan mengikuti tren yang sedang populer. Kondisi ini membuat sebagian dari mereka lebih mudah terpengaruh iklan digital maupun rekomendasi produk yang muncul berulang kali di beranda media sosial, sehingga pembelian yang dilakukan bukan lagi didasari kebutuhan, melainkan dorongan emosional sesaat.
Jika dibiarkan tanpa kendali, perilaku konsumtif semacam ini dapat berujung pada pemborosan, menurunnya kemampuan mengelola keuangan, hingga terbentuknya kebiasaan membeli secara impulsif sejak usia dini. Di sinilah pengendalian diri atau self-control berperan penting, yakni kemampuan individu mengatur pikiran, emosi, dan perilaku agar mampu menimbang manfaat serta risiko sebelum mengambil keputusan, termasuk saat berbelanja secara daring.
Selain pengendalian diri, literasi digital dan literasi keuangan turut memegang peran penting. Literasi digital membantu pelajar memahami cara kerja algoritma media sosial dan strategi pemasaran yang digunakan pelaku usaha, sementara literasi keuangan membekali mereka dengan kemampuan menyusun anggaran, mengelola uang saku, menentukan skala prioritas, serta membedakan kebutuhan dari keinginan.
Kajian ini disusun menggunakan metode studi kepustakaan, dengan menelaah berbagai sumber akademik yang relevan mengenai self-control, perilaku konsumtif, dan perkembangan social commerce. Dari penelusuran tersebut, ditemukan bahwa pengendalian diri pelajar dalam menghadapi tren TikTok Shop dapat diperkuat melalui sejumlah langkah praktis, di antaranya:
- Menyusun skala prioritas, yaitu membedakan kebutuhan dan keinginan agar barang yang berkaitan dengan pendidikan dan kebutuhan sehari-hari lebih diutamakan dibandingkan pembelian karena mengikuti tren.
- Mengelola uang saku dengan membuat anggaran sederhana serta menyisihkan sebagian untuk tabungan agar tidak habis untuk belanja impulsif.
- Meningkatkan literasi digital agar lebih memahami cara kerja algoritma media sosial dan tidak mudah terpengaruh iklan maupun promosi yang muncul berulang.
- Menghindari pembelian impulsif dengan memberi jeda waktu, misalnya menunda keputusan membeli selama 24 jam untuk memastikan produk tersebut benar-benar dibutuhkan.
- Membatasi waktu penggunaan media sosial dan mengurangi paparan konten belanja, serta berkonsultasi dengan orang tua atau guru saat hendak mengambil keputusan keuangan yang lebih besar.
Keberhasilan pengendalian diri pelajar juga tidak lepas dari peran lingkungan sekitar. Orang tua dapat memberikan edukasi mengenai pentingnya hidup hemat dan pengelolaan keuangan sejak dini, sementara sekolah dapat mendukung melalui pendidikan karakter, literasi digital, dan literasi keuangan. Di sisi lain, pemerintah dan penyedia platform digital juga memiliki tanggung jawab menciptakan ekosistem belanja daring yang aman melalui edukasi kepada masyarakat.
Perkembangan social commerce merupakan bagian dari kemajuan teknologi yang tidak dapat dihindari. Karena itu, yang diperlukan bukan membatasi penggunaan teknologi, melainkan menguatkan kemampuan pelajar memanfaatkannya secara positif. Pengendalian diri yang didukung literasi digital dan literasi keuangan akan membantu pelajar menjadi konsumen yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab di tengah gempuran strategi pemasaran digital.
Kajian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pelajar, pendidik, orang tua, maupun masyarakat luas dalam membangun perilaku konsumsi yang lebih bijaksana, rasional, dan bertanggung jawab di era digital, sekaligus menjadi bahan renungan bahwa kemudahan berbelanja lewat TikTok Shop dan social commerce harus selalu diimbangi dengan kesadaran diri yang kuat.
Artikel ini disusun sebagai bentuk dokumentasi kajian sekaligus sarana informasi bagi masyarakat luas mengenai pentingnya pengendalian diri, literasi digital, dan literasi keuangan dalam menghadapi tren TikTok Shop dan social commerce di kalangan pelajar.
Penulis:
Suci Ramadhani
Jasmine Septiani
Bagus Saputro
(Mahasiswa Universitas Pamulang)







