MAHASISWA Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang (UNPAM) kembali melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sebagai wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi kewajiban akademik, tetapi juga menjadi upaya nyata untuk memberikan edukasi yang relevan dengan kondisi sosial yang berkembang saat ini, terutama di tengah derasnya arus informasi digital.
Perkembangan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube telah mengubah cara remaja, termasuk pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dalam mengakses informasi maupun hiburan. Media-media tersebut kini tidak sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ladang subur bagi promosi produk melalui konten yang viral. Konten yang cepat menyebar biasanya dikemas dengan sentuhan emosi, tren yang sedang populer, hingga rasa takut tertinggal atau FOMO (fear of missing out), sehingga mendorong penontonnya, khususnya remaja, untuk berbelanja secara spontan.
Di balik kemudahan mengakses informasi tersebut, tersimpan tantangan baru berupa perilaku konsumtif yang sulit dikendalikan. Siswa SMK yang berada pada usia produktif dan tengah dipersiapkan memasuki dunia kerja termasuk kelompok yang rentan terpengaruh, karena frekuensi penggunaan media sosial yang tinggi belum diimbangi dengan kemampuan literasi digital maupun literasi keuangan yang memadai. Tanpa pemahaman yang cukup, paparan konten viral dapat mendorong pola belanja yang tidak terkendali, hingga berujung pada pemborosan dan ketidakseimbangan keuangan pribadi.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim PKM memilih tema “Peran Literasi Digital dalam Menekan Biaya Konsumtif Akibat Paparan Konten Viral di Media Sosial” sebagai bentuk respons atas permasalahan yang dihadapi pelajar saat ini.
Kegiatan ini dilaksanakan di SMK Bina Harapan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, dengan sasaran utama siswa-siswi tingkat menengah atas yang merupakan pengguna aktif media sosial. Lokasi dan sasaran ini dipilih karena para siswa berada pada fase perkembangan yang rentan terhadap pengaruh lingkungan, termasuk tren digital yang terus bergerak cepat, sekaligus mulai belajar mengelola keuangan mereka sendiri.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep literasi digital secara menyeluruh, membekali mereka dengan kemampuan mengenali strategi pemasaran yang tersembunyi dalam konten viral, membangun kesadaran akan pentingnya mengatur uang pribadi secara cerdas, serta menekan kemungkinan belanja berlebihan yang dipicu oleh pengaruh tren di media sosial.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini menggunakan metode yang interaktif dan mudah dipahami siswa. Tahap persiapan diawali dengan kerja sama bersama pihak sekolah untuk mengetahui kebutuhan siswa serta menyusun materi yang sesuai dengan kondisi mereka. Selanjutnya, pada tahap sosialisasi dan edukasi, tim PKM menjelaskan konsep literasi digital, cara kerja konten viral sebagai sarana pemasaran, hingga pengaruh perilaku belanja berlebihan terhadap kondisi keuangan pribadi.
Materi kemudian diperdalam melalui sesi diskusi interaktif dan studi kasus, di mana siswa diajak menganalisis contoh konten viral yang sesungguhnya beredar di media sosial, agar mampu mengenali unsur pemasaran tersembunyi (soft selling) di baliknya serta pengaruhnya terhadap keputusan pembelian. Sesi ini dilanjutkan dengan simulasi pengelolaan keuangan, tempat siswa berlatih menyusun anggaran pribadi sekaligus membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan yang muncul karena pengaruh tren sesaat.
Sebagai penutup, dilakukan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Untuk membantu siswa lebih waspada terhadap pengaruh konten viral dalam keputusan belanja mereka, tim PKM membagikan beberapa langkah sederhana namun efektif, di antaranya:
- Mengenali ciri-ciri konten promosi yang tersembunyi di balik video atau unggahan yang sedang viral.
- Membedakan dengan jelas antara kebutuhan dan keinginan sebelum memutuskan untuk membeli.
- Menyusun anggaran pribadi sederhana agar pengeluaran tetap terarah dan terkendali.
- Menunda pembelian selama beberapa waktu untuk memastikan keputusan yang diambil benar-benar diperlukan.
- Membatasi paparan terhadap konten promosi yang berlebihan di media sosial.
Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga diwarnai antusiasme siswa dalam sesi diskusi. Sejumlah siswa mengaku pernah membeli barang, seperti pakaian, makanan, hingga perangkat teknologi tertentu, secara impulsif hanya karena terpengaruh tren yang sedang ramai dibicarakan di media sosial, tanpa mempertimbangkan kebutuhan secara matang. Cerita-cerita tersebut memperkuat relevansi materi yang disampaikan dengan situasi nyata yang mereka alami sehari-hari.
Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa, terutama dalam kemampuan mengenali ciri-ciri konten promosi yang tersembunyi, memahami dampak jangka panjang dari kebiasaan belanja berlebihan terhadap kondisi keuangan, serta menyadari pentingnya mengetahui kebutuhan yang sesungguhnya sebelum membelanjakan uang. Siswa juga menjadi lebih mampu membedakan apakah suatu konten sekadar bersifat informatif atau hiburan, ataukah sebenarnya menyimpan tujuan dagang di baliknya.
Kegiatan ini dapat berjalan lancar berkat semangat tinggi dari para siswa dan pihak sekolah, serta ketersediaan fasilitas yang memadai. Siswa juga terlihat terbuka dan nyaman berbagi pengalaman pribadi mereka seputar penggunaan media sosial. Meski demikian, keterbatasan waktu pelaksanaan membuat materi simulasi keuangan belum dapat dibahas secara lebih mendalam, ditambah adanya perbedaan tingkat pemahaman awal siswa terhadap istilah-istilah dalam pemasaran digital.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, tim PKM berharap siswa SMK Bina Harapan dapat tumbuh menjadi generasi muda yang lebih kritis dalam menyaring informasi digital sekaligus lebih bijak dalam mengelola keuangan pribadi. Ke depan, sekolah diharapkan dapat terus mengintegrasikan materi literasi digital dan literasi keuangan ke dalam kegiatan belajar mengajar maupun ekstrakurikuler, dengan waktu pelaksanaan yang lebih panjang serta pengawasan berkelanjutan agar perubahan pola belanja siswa dapat terus dipantau.
Artikel ini disusun sebagai bentuk dokumentasi kegiatan sekaligus sarana informasi bagi masyarakat luas mengenai pentingnya literasi digital dalam menekan perilaku konsumtif pelajar akibat paparan konten viral di media sosial.
Penulis:
Perima
Deswita Saputri
Muhammad Ilham Syarif
(Mahasiswa Universitas Pamulang)







