Masuknya Generasi Z ke dunia kerja membawa perubahan besar terhadap pola hubungan kerja dalam organisasi. Generasi ini dikenal lebih memperhatikan work-life balance, fleksibilitas kerja, kesehatan mental, dan penghargaan terhadap kontribusi individu dibandingkan generasi sebelumnya.
Di tengah perkembangan tersebut, muncul fenomena bekerja secukupnya, yaitu perilaku ketika karyawan bekerja hanya sesuai dengan tugas utama tanpa memberikan usaha tambahan di luar tanggung jawabnya.
Dalam menghadapi fenomena tersebut, kompensasi dan hubungan industrial menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan perusahaan. Kompensasi yang tidak sesuai dengan beban kerja dapat menurunkan motivasi karyawan, sedangkan hubungan industrial yang buruk dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak nyaman dan menurunkan keterikatan karyawan terhadap organisasi.
Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami bagaimana peran kompensasi dan hubungan industrial dalam menghadapi fenomena bekerja secukupnya agar tercipta lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
KOMPENSASI DALAM MENGHADAPI FENOMENA BEKERJA SECUKUPNYA
Bagi Generasi Z, kompensasi dipandang sebagai bentuk apresiasi perusahaan terhadap kualitas hidup dan kontribusi karyawan. Ketika perusahaan mampu memberikan kompensasi yang adil dan sesuai, karyawan cenderung memiliki motivasi kerja yang lebih tinggi dan keterikatan emosional terhadap perusahaan.
Beberapa bentuk kompensasi yang dapat membantu menghadapi fenomena bekerja secukupnya antara lain:
- Pemberian gaji yang sesuai dengan beban kerja.
- Sistem bonus dan promosi yang transparan.
- Fleksibilitas waktu dan sistem kerja.
- Dukungan kesehatan mental dan kesejahteraan karyawan.
- Pemberian penghargaan atas pencapaian kerja.
HUBUNGAN INDUSTRIAL DALAM MENGHADAPI FENOMENA BEKERJA SECUKUPNYA
Dalam menghadapi fenomena bekerja secukupnya, hubungan industrial memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan suportif.
Beberapa bentuk hubungan industrial yang dapat membantu menghadapi fenomena bekerja secukupnya meliputi:
- Membangun komunikasi dua arah antara atasan dan karyawan.
- Menciptakan budaya kerja yang sehat dan suportif.
- Memberikan ruang bagi karyawan untuk menyampaikan aspirasi.
- Menjamin kejelasan aturan kerja dan jenjang karier.
- Meemberikan perhatian terhadap kesejahteraan karyawan.
Hubungan industrial yang harmonis dapat meningkatkan rasa aman, kenyamanan kerja, dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan.
STRATEGI PERUSAHAAN DALAM MENGHADAPI FENOMENA BEKERJA SECUKUPNYA
Untuk menghadapi fenomena bekerja secukupnya pada Generasi Z, perusahaan perlu menerapkan strategi manajemen sumber daya manusia yang lebih adaptif dan berorientasi pada kesejahteraan karyawan.
Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain:
- Menerapkan Kompensasi Holistik
- Meningkatkan Transparansi Kerja
- Membangun Lingkungan Kerja yang Sehat
- Memberikan Dukungan terhadap Kesehatan Mental
KESIMPULAN
Fenomena bekerja secukupnya pada Generasi Z menjadi tantangan baru bagi perusahaan dalam mengelola sumber daya manusia. Dalam menghadapi fenomena tersebut, kompensasi dan hubungan industrial memiliki peran penting dalam menjaga motivasi, loyalitas, dan keterlibatan kerja karyawan.
Kompensasi yang adil serta hubungan industrial yang harmonis mampu menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif. Oleh karena itu, perusahaan perlu menyesuaikan strategi manajemen sumber daya manusia dengan karakteristik Generasi Z agar mampu menghadapi perubahan budaya kerja di era modern.
DAFTAR PUSTAKA
Handoyo, A. W. (2023). Fenomena ‘Quiet Quitting’ di Kalangan Generasi Z: Tantangan Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. Jurnal Manajemen dan Bisnis, 12(2), 145-158. (Untuk referensi fenomena bekerja secukupnya pada Gen Z)
Mangkunegara, A. A. P. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Remaja Rosdakarya. (Untuk referensi standar kompensasi dan kepuasan kerja di Indonesia)
Putri, R. A., & Raharjo, S. T. (2022). Karakteristik dan Ekspektasi Generasi Z terhadap Lingkungan Kerja Modern. Jurnal Kesejahteraan Sosial, 9(1), 34-47. (Untuk mendukung argumen di pendahuluan tentang karakteristik Gen Z)
Soedarmo, U. W. (2021). Hubungan Industrial: Teori dan Praktek di Indonesia. Bumi Aksara. (Untuk referensi bab hubungan industrial yang harmonis)
Wijaya, M., & Utama, I. W. M. (2024). Pengaruh Kompensasi Finansial dan Non-Finansial terhadap Keterikatan Kerja (Employee Engagement) Generasi Z. E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana, 13(3), 512-530. (Untuk mendukung bagian strategi kompensasi holistik)
Penulis:
- Tita Agustin: 231010501404
- Irene Graceila Praptiwi: 231010503975
- Yulinda Maisaroh: 231010504343
- Anggi Sri Wulandari: 231010501428
- Kris Retno Handayani: 231010501443
Dosen Pengampu: Fahmi Susanti, SKM., M.M
Manajemen Kompensasi dan Hubungan Industrial
Mahasiswa Universitas Pamulang







