Kemarin saya sempat mengobrol cukup panjang bersama keluarga.
Ada yang masih remaja.
Ada yang sudah dewasa.
Ada juga yang sudah lanjut usia.
Dan ternyata saya menyadari satu hal…
Masih banyak yang memahami qurban hanya sebatas penyembelihan hewan.
Sebatas darah yang mengalir.
Sebatas pisau dan proses penikaman.
Padahal hakekat qurban jauh lebih dalam daripada itu.
Qurban bukan sekadar tentang kambing atau sapi yang disembelih.
Tetapi tentang sesuatu dalam diri manusia yang harus dikorbankan.
Ego.
Kesombongan.
Keinginan untuk selalu menang sendiri.
Rasa merasa paling benar.
Dan hati yang terlalu mencintai dunia.
Karena sesungguhnya yang paling sulit disembelih bukan hewan qurban.
Tetapi nafsu dalam diri sendiri.
Sambil menyetir mobil ke pasar. Saya lalu mencoba menjelaskan perlahan kepada mereka…
Bahwa Nabi Ibrahim bukan sedang diajarkan tentang membunuh anaknya.
Tetapi tentang bagaimana seorang manusia belajar menyerahkan dan merelakan apa yang paling dicintainya kepada Allah.
Dan di situlah saya juga teringat kondisi diri saya beberapa waktu terakhir.
Saat tubuh dipaksa berhenti sejenak karena sakit.
Aktivitas yang biasa dijalani tiba-tiba harus dikurangi.
Tubuh yang biasanya terasa kuat mendadak memiliki batas.
Dan dari situ saya mulai memahami…
Kadang Allah menghentikan langkah kita sang manusia bukan untuk menghukumnya.
Tetapi agar manusia sempat mendengar suara hati dan jiwanya sendiri.
Karena selama kita sehat, manusia sering merasa dirinya kuat.
Selama mampu bekerja, manusia merasa dirinya hebat.
Padahal saat satu bagian kecil tubuh terganggu, seluruh hidup bisa berubah.
Dan mungkin itu pula salah satu makna qurban yang jarang dipahami.
Bahwa hidup ini sebenarnya sedang melatih manusia untuk merelakan, atau melepaskan dengan ikhlas.
Rela menerima takdir.
Rela menerima ujian.
Rela menerima bahwa tidak semua hal di dunia sesuai keinginan kita.
Idul Adha bukan hanya tentang membagi daging.
Tetapi tentang belajar memotong kesombongan dalam diri.
Belajar menundukkan ego.
Belajar menerima bahwa kita hanyalah hamba yang sangat lemah di hadapan Allah.
Karena sehebat apa pun manusia…
Pada akhirnya tetap bisa berhenti hanya karena sakit kecil yang Allah izinkan datang.
Dan justru dari sakit, kegagalan, kehilangan, serta ujian itulah manusia mulai mengenal dirinya sendiri.
Bahwa selama ini bukan kita yang kuat.
Tetapi Allah yang masih menjaga tubuh kita.
Mungkin itulah mengapa Hari Raya Qurban selalu terasa dekat dengan keikhlasan.
Karena qurban bukan sekadar tentang apa yang kita keluarkan.
Tetapi tentang apa yang perlahan kita lepaskan dari dalam hati.
Kesombongan.
Kemelekatan cinta dunia.
Dan rasa merasa paling mampu.
Semoga Idul Adha tahun ini bukan hanya membuat kita sibuk membeli hewan qurban.
Tetapi juga sibuk memperbaiki diri sendiri dan mulai belajar banyak bercermin diri.
Sebab bisa jadi Allah tidak melihat seberapa besar hewan yang kita sembelih.
Tetapi seberapa tulus hati kita saat belajar tunduk dan ikhlas kepada aturan-Nya.
Selamat Idul Adha….
Semoga kita menjadi pribadi bertakwa.
ASA | Asrulsani Abu, S.E., M.M.
Penulis buku, pengurus APINDO dan ALFI Sulselbar







