TANGSELXPRESS – Tubuh memiliki semacam “kotak emosional” yang jarang mendapat perhatian dengan baik. Kotak tersebut berisi emosi negatif yang gagal diproses dan seringkali tidak ditangani dengan baik.
Emosi tersebut makin lama makin meluap dan ditekan di bawah kesadaran. Lalu, bagaimana cara menghilangkan luapan emosi negatif tersebut agar tak menganggu kesehatan mental?
Tak disadari bahwa luapan emosi tak hanya berpengaruh pada kondisi fisik namun juga pada kesehatan mental. Bahkan, bisa memengaruhi cara berpikir tentang diri, bagaimana reaksi saat mendapat tekanan, hingga berpengaruh pada hubungan dengan orang lain.
Cara Merilis Luapan Emosi
Melansir Healthline, emosi yang terjebak bisa dikenali dengan cara tertentu. Misalnya, mungkin Anda pernah mendengar ada orang menangis selama perawatan akupuntur, pijat, dan yoga. Beberapa ahli bahkan mengaitkannya pada trauma yang ‘disimpan’ atau ‘terjebak’ dalam tubuh.
Ini dialami ketika otak mengasosiasikan dengan memori tertentu dalam tingkat bawah sadar. Menurut Mark Olson, Ph.D., LMT., pemilik dan direktur Pacific Center for Awareness & Bodywork, emosi terus-menerus dihasilkan secara tidak sadar atau sadar sebagai respons terhadap pengaktifan kembali ingatan atau tujuan yang tidak terpuaskan.
Sentuh Area Tertentu
Sentuhan ke area tertentu hanyalah stimulus yang dapat dilakukan untuk merekonstruksi pola yang terkait pada peristiwa traumatis tertentu.
Olson percaya, segala sesuatu terjadi pada otak. Ketika salah satu area tubuh disentuh bisa memunculkan emosi atau ingatan, maka sensasi tertentu akan terbentuk.
Sumbatan Emosi
Bradley Nelson, DC, mengatakan bahwa getaran emosional yang terperangkap menyebabkan jaringan sekitarnya bergetar pada frekuensi yang sama, dikenal sebagai resonansi.
Dalam bukunya The Emotion Code, Nelson menulis bahwa setiap emosi yang terperangkap berada di lokasi tertentu di dalam tubuh, bergetar pada frekuensinya sendiri. Ini dapat menyebabkan banyak emosi menumpuk dan menyumbat.
Kaitan Tubuh dan Pikiran
Tubuh dan pikiran sangat berkaitan, yang membuat tubuh merasakan sensasinya. Nelson menjelaskan, perasaan berasal dari apa yang dikatakan sistem saraf Anda.
Gambarannya, ketika Anda berada dalam situasi yang membuat takut, tubuh akan menghasilkan respons fisik terhadap emosi ini dengan mengaktifkan respons fight-flight-freeze.
Menurut penelitian, proses emosional terjadi di limbik otak. Saat informasi diterima terus-menerus, menghasilkan respons sistem saraf otonom pra sadar.
Ini mengirimkan sinyal ke tubuh untuk mengaktifkan emosi yang sesuai. Nah, ketika mekanisme mengirim sinyal dan mengaktifkan emosi terganggu, yang terperangkap di dalam tubuh.
Diri Sejati vs Diri Palsu
Dalam psikologi, menganggap diri sejati merupakan bagian dari diri kita sejak lahir yang secara alami terbuka, ingin tahu, dan percaya. Sementara diri yang palsu muncul sebagai seperangkat strategi adaptif untuk menghadapi rasa sakit dan kehilangan.
Reaksi munculnya diri yang palsu tersebut, biasanya diekspresikan sebagai kebencian, pengambilan keputusan yang buruk, sabotase diri, reaksi berlebihan, peningkatan stres dan kecemasan, depresi, serta kelelahan.
Cara Meluapkan Tekanan Emosi
Emosi yang terperangkap dapat membebani kita. Selain itu, juga memengaruhi suasana hati kita, dan menguras energi. Untuk merilis tekanan dari kotak emosi yang tertahan, seseorang perlu mengakui perasaannya terlebih dahulu.
Cobalah untuk mengidentifikasi perasaan yang dirasakan, kemudian bekerja mengelola perasaan tersebut tetapi bukan menahan dan menyimpannya. Sebuah penelitian tahun 2007, menunjukkan bahwa melabeli emosi dapat menurunkan intensitasnya.
Cara kedua, kembangkan strategi koping. Perlu dipahami bahwa strategi koping seringkali menghasilkan perasaan terisolasi. Tetapi di saat yang bersamaan, ini merupakan langkah mandiri untuk beradaptasi. Seperti mengidentifikasi akar masalah dan memenuhi kebutuhan Anda yang sebenarnya.
Cara selanjutnya, melakukan gerakan yang disengaja atau disebut dengan pengalaman somatik. Cara ini mengatasi ketegangan dan emosi yang belum diproses dan tertinggal di tubuh.
Vincent menyarankan untuk menari, peregangan, yoga, Tai Chi, jalan meditatif dan latihan pernapasan perut. Cara keempat, diam memungkinkan kita untuk berada dengan pikiran dan perasaan dalam keadaan sekarang.







