MEMULAI sebuah pekerjaan yang baru bukanlah sesuatu yang selalu sederhana. Karyawan harus beradaptasi dengan situasi kantor, mengetahui apa saja tugas dan kewajiban mereka, serta menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan. Dalam keadaan seperti ini, orientasi talenta menjadi bagian penting untuk memfasilitasi karyawan dalam menjalani periode awal kerja dengan lebih efektif.
Orientasi sebagai Awal Kesiapan Kerja
Orientasi tidak semestinya hanya dianggap sebagai aktivitas pengenalan perusahaan. Lebih dari sekadar itu, orientasi merupakan tahapan awal yang penting untuk menyiapkan karyawan dalam menjalani tugas-tugasnya. Dengan memberikan informasi yang jelas tentang pekerjaan, kebijakan, nilai-nilai, serta tujuan perusahaan, karyawan akan memperoleh pemahaman mengenai apa yang perlu dilakukan dan cara mereka dapat berkontribusi.
Kesiapan seseorang untuk bekerja juga tidak semata-mata bergantung pada keterampilan individu. Lingkungan kerja berperan signifikan dalam memfasilitasi penyesuaian karyawan baru. Dukungan dari tim HR, atasan, rekan kerja, atau mentor dapat membuat proses adaptasi menjadi lebih wajar. Di samping itu, program orientasi yang menawarkan ruang untuk bertanya dan berdiskusi dapat mendorong karyawan untuk lebih proaktif dalam memahami tugas dan lingkungan yang baru bagi mereka.
Manfaat Orientasi bagi Karyawan dan Perusahaan
Orientasi yang dilakukan dengan baik memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat. Bagi karyawan kegiatan orientasi dapat meningkatkan rasa percaya diri, memahami tugas dan tanggung jawab, serta memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan.
Hal ini diperkuat oleh informasi yang diperoleh dari First Day Fog: Onboarding Benchmarking Report 2025 yang dirilis oleh BambooHR dan TalentLMS. Dalam laporan ini, 73% pekerja mengungkapkan kepuasan terhadap pengalaman onboarding secara keseluruhan. Selain itu, 75% merasa senang dengan kesempatan mengenal rekan kerja, 73% puas dengan materi pelatihan yang disediakan, 71% dengan metode onboarding, dan 67% dengan bantuan yang diberikan oleh HR. (Sumber: BambooHR dan TalentLMS 2025)
Data ini menunjukkan bahwa pengalaman onboarding dipengaruhi lebih dari sekadar materi pelajaran yang diajarkan, tetapi juga oleh peluang yang diberikan kepada pekerja untuk berkenalan dengan rekan mereka serta dukungan dari tim HR. Dengan kata lain, perusahaan harus merancang proses orientasi yang bukan hanya informatif, tetapi juga membuat karyawan merasa didukung dan lebih siap untuk beradaptasi.
Di sisi lain, bagi perusahaan, orientasi dapat berkontribusi pada peningkatan efisiensi dan pengurangan kesalahan dalam bekerja. Program orientasi yang dirancang dengan baik juga berpotensi meningkatkan rasa memiliki dan loyalitas karyawan, sehingga mengurangi kemungkinan mereka untuk berpindah tempat kerja.
Isu Perbedaan Pengalaman Onboarding Antar Generasi
Salah satu isu yang muncul dalam pelaksanaan onboarding saat ini adalah adanya perbedaan pengalaman karyawan berdasarkan generasi. Meskipun tingkat kepuasan onboarding secara keseluruhan cukup tinggi, kebutuhan dan pengalaman setiap generasi tidak sepenuhnya sama.
Dalam laporan First Day Fog: Onboarding Benchmarking Report for 2025, tingkat kepuasan onboarding Gen Z mencapai 76%, Millennials 75%, Gen X 76%, sedangkan Baby Boomers sebesar 68%. (Sumber: BambooHR dan TalentLMS 2025)
Perbedaan yang lebih terlihat terdapat pada interaksi dan hubungan sosial selama onboarding. Sebanyak 41% Gen Z merasa kurang mendapatkan interaksi yang bermakna selama proses onboarding, dibandingkan 33% Millennials, 29% Gen X, dan 18% Baby Boomers. Selain itu, 44% Gen Z lebih sering menggunakan AI untuk mendapatkan jawaban selama onboarding daripada bertanya kepada manajer atau rekan kerja.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa program orientasi yang dibuat dengan pendekatan yang sama untuk semua karyawan belum tentu memenuhi kebutuhan setiap generasi. Karyawan dari generasi yang lebih muda, khususnya Gen Z, dapat membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi, bertanya, dan mendapatkan pendampingan secara langsung. Di sisi lain, penggunaan teknologi dan AI juga perlu diarahkan agar dapat membantu proses belajar tanpa menggantikan peran komunikasi dengan atasan maupun rekan kerja.
Oleh karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan perbedaan kebutuhan antargenerasi dalam merancang orientasi. Program onboarding sebaiknya tetap memiliki tujuan dan informasi utama yang sama, tetapi metode penyampaian, pendampingan, dan bentuk interaksi dapat disesuaikan agar setiap karyawan memperoleh pengalaman awal kerja yang efektif.
Tantangan dalam Pelaksanaan Orientasi
Meskipun terdapat banyak keuntungan, program orientasi tidak selalu berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Perencanaan yang tidak jelas, konten yang tidak relevan, kurangnya partisipasi dari manajemen dan tim, serta tidak diadakannya evaluasi dapat mengakibatkan proses orientasi menjadi tidak efektif.
Oleh sebab itu, perusahaan harus memastikan bahwa program orientasi memiliki tujuan yang jelas dan jadwal yang teratur. Materi yang disampaikan juga seharusnya relevan dengan kebutuhan karyawan dan pekerjaannya. Selain itu, evaluasi juga penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana program orientasi membantu karyawan dalam beradaptasi dan memahami tanggung jawab mereka.
Membangun Talenta dari Awal
Pada akhirnya, orientasi yang efektif bukanlah tentang membuat karyawan sempurna sejak hari pertama mereka bekerja. Orientasi adalah sebuah proses yang memberikan bekal yang diperlukan agar karyawan dapat memahami tugas mereka, beradaptasi dengan lingkungan, dan terus berkembang seiring waktu.
Awal yang baik dapat menjadi langkah pertama dalam membentuk talenta yang produktif dan loyal bagi perusahaan. Dengan orientasi yang terencana, didukung lingkungan kerja yang positif, serta adanya evaluasi dan pendampingan, karyawan baru dapat memiliki dasar yang kuat untuk berkembang dan memberikan kontribusi bagi perusahaan.
Kesimpulan
Orientasi talenta merupakan tahap penting dalam membantu karyawan baru memahami pekerjaan, lingkungan, budaya, serta tujuan perusahaan. Orientasi yang dilakukan secara terencana didukung oleh HR, atasan, rekan kerja, maupun mentor dapat meningkatkan kesiapan dan kepercayaan diri karyawan dalam menjalankan tugasnya. Selain memberikan manfaat bagi karyawan, orientasi yang efektif juga dapat membantu perusahaan meningkatkan produktivitas, mengurangi kesalahan, serta membangun loyalitas karyawan. Oleh karena itu, orientasi sebaiknya tidak hanya menjadi kegiatan pengenalan, tetapi menjadi proses awal untuk membantu karyawan beradaptasi, berkembang, dan memberikan kontribusi secara optimal bagi perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
BambooHR. (2025). First day fog: Onboarding benchmarking report for 2025. BambooHR.
Frögéli, E., Jenner, B., & Gustavsson, P. (2023). Effectiveness of formal onboarding for facilitating organizational socialization: A systematic review. PLOS ONE, 18(2), e0281823.
Klein, H. J., & Weaver, N. A. (2000). The effectiveness of an organizational-level orientation training program in the socialization of new hires. Personnel Psychology, 53(1), 47–66.
Penulis:
Afhni Handayani
Amar Falaqy
Dosen Pengampu: Derita Qurbani S.Psi.,M.M.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Pamulang







