MENURUT saya, artikel “Benarkah Jadi Pendengar yang Baik Bisa Tingkatkan Skill Komunikasi?” yang ditulis oleh Kalila Untsa di detikEdu cukup menarik karena membahas hal yang sebenarnya sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari.
Selama ini, banyak orang menganggap bahwa seseorang yang pandai berkomunikasi adalah orang yang lancar berbicara, percaya diri saat menyampaikan pendapat, dan mampu memengaruhi orang lain. Padahal, menurut saya, kemampuan mendengarkan juga menjadi bagian penting dalam komunikasi. Percuma jika kita pandai berbicara, tetapi tidak mau mendengarkan orang lain karena komunikasi seharusnya berjalan dua arah, bukan hanya satu orang yang terus berbicara.
Saya setuju dengan isi artikel tersebut, terutama mengenai pentingnya memberikan perhatian penuh kepada lawan bicara, tidak memotong pembicaraan, dan mengendalikan diri sebelum memberikan tanggapan.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering melihat atau mengalami situasi ketika seseorang belum selesai berbicara, tetapi orang lain sudah menyela atau langsung memberikan pendapatnya sendiri. Akibatnya, inti pembicaraan terkadang tidak tersampaikan dengan baik dan justru menimbulkan kesalahpahaman. Menurut saya, kebiasaan seperti ini sering terjadi karena seseorang terlalu sibuk memikirkan apa yang ingin disampaikan berikutnya daripada benar-benar memahami perkataan lawan bicaranya.
Contoh sederhananya bisa kita lihat saat mengerjakan tugas kelompok di kampus. Setiap anggota biasanya memiliki pendapat, ide, dan cara berpikir yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, kita terkadang merasa pendapat sendiri paling tepat sehingga kurang memberikan kesempatan kepada teman untuk menjelaskan idenya.
Padahal, belum tentu pendapat kita yang paling benar. Jika kita mau mendengarkan terlebih dahulu, bisa saja ada masukan dari teman yang justru membuat tugas kelompok menjadi lebih baik. Dari pengalaman dan situasi seperti ini, saya menyadari bahwa mendengarkan bukan berarti kita harus selalu setuju dengan pendapat orang lain, melainkan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pemikirannya sebelum kita menilai atau memberikan tanggapan.
Hal yang sama juga saya rasakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Dalam lingkungan kerja, komunikasi menjadi hal yang sangat penting karena setiap pekerjaan membutuhkan informasi dan koordinasi yang jelas.
Ketika menerima arahan dari atasan atau berdiskusi dengan rekan kerja, kita harus benar-benar memperhatikan informasi yang disampaikan. Jika kita mendengarkan dengan setengah hati, ada kemungkinan informasi yang diterima menjadi kurang tepat dan akhirnya menyebabkan kesalahan dalam pekerjaan.
Sebaliknya, ketika kita mendengarkan dengan baik, kita bisa memahami apa yang harus dilakukan, bertanya jika ada hal yang belum jelas, dan memberikan tanggapan yang sesuai. Menurut saya, kebiasaan sederhana ini bisa membantu menciptakan hubungan kerja yang lebih baik dan mengurangi kesalahpahaman.
Namun, jika dilihat lebih kritis, menurut saya kemampuan menjadi pendengar yang baik saja belum tentu cukup untuk membuat komunikasi menjadi efektif. Ada kalanya seseorang sudah mendengarkan dengan baik, tetapi masih kesulitan menyampaikan pendapatnya sendiri.
Ada juga orang yang terlihat mendengarkan, tetapi sebenarnya tidak memahami maksud pembicaraan karena pikirannya sedang sibuk dengan hal lain. Artinya, mendengarkan secara fisik belum tentu sama dengan memahami secara sungguh-sungguh. Oleh karena itu, kemampuan mendengarkan perlu disertai dengan kemampuan memahami pesan, mengajukan pertanyaan, mengendalikan emosi, dan menyampaikan respons yang tepat.
Selain itu, saya berpendapat bahwa komunikasi yang baik juga membutuhkan keterbukaan dari kedua belah pihak. Jangan sampai seseorang dituntut untuk selalu mendengarkan, tetapi pendapatnya sendiri tidak pernah dihargai.
Misalnya, dalam sebuah diskusi kelompok, ada anggota yang selalu mendominasi pembicaraan dan merasa pendapatnya paling benar. Walaupun anggota lainnya sudah mendengarkan, komunikasi tetap tidak berjalan dengan baik jika mereka tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Jadi, menurut saya, mendengarkan yang baik bukan hanya tanggung jawab satu orang, tetapi harus menjadi kebiasaan bersama agar setiap orang merasa dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat.
Saya juga melihat bahwa perkembangan teknologi saat ini menjadi tantangan tersendiri dalam berkomunikasi. Ketika sedang berbicara dengan teman, keluarga, atau rekan kerja, terkadang kita masih sibuk melihat ponsel atau membalas pesan. Secara tidak langsung, kebiasaan tersebut dapat membuat lawan bicara merasa kurang diperhatikan.
Padahal, memberikan perhatian penuh tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Menyimpan ponsel sebentar, melakukan kontak mata sewajarnya, dan merespons pembicaraan dengan baik sudah menjadi bentuk penghargaan terhadap orang lain. Menurut saya, hal-hal kecil seperti ini perlu dibiasakan karena kualitas komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kata-kata yang kita ucapkan, tetapi juga oleh sikap kita saat berinteraksi.
Dari artikel tersebut, saya mendapatkan pelajaran bahwa kemampuan komunikasi perlu terus dilatih dan tidak bisa hanya mengandalkan keberanian berbicara. Kita juga perlu belajar memahami sudut pandang orang lain, mengendalikan emosi ketika menghadapi perbedaan pendapat, dan memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan sesuatu. Bagi saya, keterampilan ini sangat berguna, baik dalam perkuliahan, kehidupan bermasyarakat, maupun dunia kerja.
Kesimpulannya, saya setuju bahwa menjadi pendengar yang baik dapat membantu meningkatkan keterampilan komunikasi. Namun, menurut saya, komunikasi yang efektif tidak cukup hanya dengan mendengarkan, tetapi juga membutuhkan kemampuan berbicara dengan jelas, berpikir terbuka, dan menghargai pendapat orang lain.
Kita tidak harus selalu setuju dengan apa yang disampaikan orang lain, tetapi setidaknya kita perlu memahami maksudnya terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. Pada akhirnya, komunikasi yang baik bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara atau siapa yang merasa paling benar, melainkan bagaimana kita bisa saling memahami, menyampaikan pendapat dengan baik, dan menemukan solusi tanpa harus merendahkan orang lain.
SUMBER : https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8671583/benarkah-jadi-pendengar-yang-baik-bisa-tingkatkan-skill-komunikasi-ini-penjelasannya
Penulis:
Aliffah Wahyu Larasati
Mahasiswa Manajemen SDM Universitas Pamulang







