SISTEM jam kerja delapan jam sehari—yang diwarisi dari era Revolusi Industri—telah menjadi standar global selama lebih dari satu abad. Konsep yang diinisiasi oleh Robert Owen pada abad ke-19 dan dipopulerkan oleh Henry Ford pada tahun 1920-an ini dirancang untuk mengoptimalkan lini produksi pabrik.
Namun, ketika lanskap ekonomi global bergeser dari berbasis manufaktur menjadi berbasis pengetahuan (knowledge economy), mempertahankan aturan “sembilan pagi hingga lima sore” di meja kantor terasa seperti memaksakan alat kuno untuk menyelesaikan masalah modern. Di era digital ini, pertanyaan mendasar muncul: apakah kehadiran fisik selama delapan jam masih relevan sebagai tolok ukur efisiensi kerja?
Jawabannya semakin mengarah pada kata tidak. Penerapan flexible working hours (jam kerja fleksibel) kini bukan lagi sekadar tren atau fasilitas tambahan untuk menarik bakat muda, melainkan kebutuhan strategis dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM). Fleksibilitas kerja menggeser paradigma lama dari presence-based management (manajemen berbasis kehadiran) menjadi result-based management (manajemen berbasis hasil).
Dalam sistem konvensional, karyawan sering kali terjebak dalam fenomena presenteeism—hadir secara fisik di kantor tetapi tidak produktif secara mental—hanya demi memenuhi kuota jam kerja. Sebaliknya, fleksibilitas memberikan otonomi penuh kepada karyawan untuk mengelola waktu mereka sesuai dengan ritme produktivitas puncak (peak productivity hours) masing-masing.
Secara psikologis, otonomi ini berdampak langsung pada tingkat efisiensi dan kesejahteraan karyawan. Penelitian MSDM menunjukkan bahwa tingkat stres tertinggi di tempat kerja sering kali dipicu oleh hilangnya kendali atas waktu pribadi, seperti tekanan kemacetan lalu lintas pada jam sibuk atau kesulitan menyeimbangkan urusan domestik dan profesional (work-life balance). Ketika perusahaan memberi kepercayaan kepada karyawan untuk menentukan kapan dan di mana mereka bekerja, rasa memiliki (sense of ownership) dan tanggung jawab moral terhadap hasil kerja justru meningkat secara signifikan. Produktivitas tidak lagi diukur dari berapa lama seseorang duduk di depan komputer, melainkan dari kualitas dan ketepatan waktu output yang dihasilkan.
Namun, mengadopsi jam kerja fleksibel sebagai standar baru efisiensi bukanlah tanpa tantangan. Kesalahan terbesar yang sering dilakukan organisasi adalah mengadopsi fleksibilitas tanpa mengubah metode evaluasi kinerja dan budaya komunikasi. Tanpa batasan yang jelas, fleksibilitas dapat berubah menjadi bumerang berupa burnout, di mana batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi kabur (work-life blur). Karyawan merasa harus selalu online dan siap merespons pesan kapan saja.
Oleh karena itu, agar flexible working hours benar-benar menjadi standar efisiensi, manajemen perusahaan harus membenahi infrastruktur MSDM mereka. Pertama, perusahaan wajib mengadopsi kerangka kerja pengukuran kinerja yang objektif, seperti Objectives and Key Results (OKR) atau Key Performance Indicators (KPI) yang berbasis output, bukan durasi kerja. Kedua, diperlukan budaya komunikasi asinkron (asynchronous communication) yang kuat, di mana koordinasi tidak selalu membutuhkan rapat tatap muka atau balasan pesan secara instan. Ketiga, kepemimpinan harus bergeser dari model kontrol menjadi model fasilitasi yang berbasis rasa percaya (trust-based leadership).
Pada akhirnya, jam kerja delapan jam bukanlah norma mutlak yang tak bisa diubah, melainkan sebuah konvensi sejarah yang sudah usang untuk banyak jenis pekerjaan modern. Efisiensi kerja yang sejati tidak lahir dari pengawasan durasi, melainkan dari pengelolaan energi, kejelasan target, dan tingkat keterikatan emosional karyawan terhadap pekerjaannya. Flexible working hours memiliki semua potensi untuk menjadi standar baru efisiensi kerja, asalkan organisasi berani melangkah keluar dari zona nyaman birokrasi lama dan siap membangun budaya kerja yang berbasis pada otonomi dan akuntabilitas.
Referensi: RIMA HANDAYANI SE, M.Si. (2026). Perencanaan SDM Tangerang Selatan: Universitas Pamulang
Penulis:
Layurima Syawal Mualafi
Dosen Pengampu Rima Handayani, S.E., M.Si.
Mata Kuliah Perencanaan SDM
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang







