• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Ketika Public Speaking Bukan Sekadar Berbicara: Membangun Ruang Aman di Komunitas Kesehatan Mental

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
September 21, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 7min read
Ketika Public Speaking Bukan Sekadar Berbicara: Membangun Ruang Aman di Komunitas Kesehatan Mental
244
SHARES
2.5k
VIEWS

KETIKA mendengar istilah public speaking, banyak orang mungkin langsung membayangkan seseorang yang berdiri di depan banyak orang, berbicara dengan percaya diri, memiliki suara yang jelas, mampu menguasai audiens, dan menyampaikan materi dengan baik. Kemampuan tersebut memang penting. 

Namun, ketika public speaking dilakukan dalam komunitas kesehatan mental, ada hal lain yang menurut saya tidak kalah penting: bagaimana cara berbicara agar orang lain merasa aman untuk mendengar, memahami, bahkan berani ikut berbicara.

Public speaking sering kali dipahami sebagai kemampuan menyampaikan pesan kepada orang lain. Padahal, komunikasi bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut diterima. Terlebih ketika topik yang dibicarakan berkaitan dengan kesehatan mental, pengalaman setiap orang bisa sangat beragam dan personal.

Satu kalimat yang bagi seseorang terdengar biasa saja, bagi orang lain mungkin memiliki makna yang berbeda. Karena itu, berbicara mengenai kesehatan mental membutuhkan kesadaran terhadap pilihan kata, cara menyampaikan pesan, serta kemampuan memahami bahwa setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda.

Public Speaking dan Kemampuan Memahami Audiens

Dalam public speaking, audiens bukan sekadar orang yang hadir dan mendengarkan. Mereka adalah bagian dari proses komunikasi. Pesan yang baik tidak hanya ditentukan oleh seberapa lancar seseorang berbicara, tetapi juga oleh kemampuan pembicara memahami siapa yang sedang diajak berkomunikasi.

Dalam komunitas kesehatan mental, hal ini menjadi semakin penting. Audiens dapat memiliki latar belakang, pengalaman, dan kondisi yang berbeda. Ada yang datang untuk mendapatkan informasi, ada yang ingin berbagi pengalaman, ada yang lebih nyaman menjadi pendengar, dan mungkin ada pula yang sedang membutuhkan dukungan.

Dalam situasi seperti ini, seorang pembicara tidak cukup hanya memikirkan bagaimana dirinya dapat terlihat percaya diri. Ia juga perlu memikirkan apakah cara berkomunikasinya memberikan ruang bagi orang lain untuk merasa dihargai.

Di sinilah public speaking bertemu dengan kemampuan mendengarkan. Pembicara yang baik bukan hanya orang yang mampu berbicara panjang dan menarik perhatian. Ia juga perlu mampu membaca situasi, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat, serta memahami kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan.

Pilihan Kata dalam Komunikasi Kesehatan Mental

Ketika berbicara mengenai kesehatan mental, pemilihan kata menjadi bagian yang penting. Bahasa yang digunakan dapat memengaruhi bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri maupun orang lain.

Seseorang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental tidak seharusnya dipandang hanya berdasarkan kondisi yang sedang dialaminya. Di balik kondisi tersebut tetap ada seseorang dengan pengalaman, kemampuan, harapan, dan kehidupan yang jauh lebih luas.

Karena itu, komunikasi mengenai kesehatan mental perlu menghindari pelabelan, penghakiman, maupun penyederhanaan pengalaman seseorang. Kita juga perlu berhati-hati agar tidak memberikan kesan bahwa semua persoalan kesehatan mental dapat diselesaikan dengan satu nasihat sederhana.

BACA JUGA :  Krisis Penggunaan Bahasa Indonesia di Generasi Milenial

World Health Organization (WHO) melalui panduan tentang layanan dukungan sebaya menekankan pendekatan yang berpusat pada individu, penghormatan terhadap hak, serta pentingnya harapan, berbagi pengalaman, dan pemberdayaan dalam dukungan kesehatan mental. Prinsip tersebut mengingatkan kita bahwa cara berkomunikasi dengan seseorang juga perlu menghargai pengalaman dan pilihan orang tersebut.

Komunikasi yang empatik bukan berarti kita harus selalu memiliki jawaban. Terkadang, yang dibutuhkan seseorang justru adalah kesempatan untuk didengarkan tanpa langsung dihakimi atau diberi nasihat.

Belajar Berbicara dari Hype Squad

Dalam pengalaman saya sebagai bagian dari Hype Squad, sebuah komunitas yang bergerak dalam isu kesehatan mental, saya mulai melihat public speaking dari sudut pandang yang berbeda.

Sebelumnya, saya cenderung memahami public speaking sebagai kemampuan untuk berani berbicara di depan orang lain. Semakin percaya diri seseorang, semakin lancar berbicara, dan semakin mampu menyampaikan pesan, maka saya menganggap kemampuan public speaking-nya semakin baik.

Namun, keterlibatan saya dalam komunitas membuat pemahaman tersebut berkembang.

Ketika terlibat dalam memimpin dan memandu berbagai kegiatan komunitas, saya tidak hanya belajar bagaimana berbicara di depan audiens, tetapi juga belajar memahami siapa yang sedang saya ajak berkomunikasi. Saya belajar bahwa pesan yang baik bukan hanya tentang bagaimana kita menyampaikannya, tetapi juga bagaimana pesan tersebut dapat sampai dan diterima oleh orang lain.

Hal ini menjadi semakin penting ketika berhadapan dengan anggota komunitas yang sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Dalam situasi tertentu, pengurus dapat menghadapi fase-fase yang cukup kritis ketika anggota membutuhkan dukungan. Pada kondisi seperti itu, pemilihan kata menjadi bagian penting dalam komunikasi.

Kita perlu belajar untuk menenangkan diri sebelum berusaha menenangkan orang lain. Cara kita merespons, kata-kata yang kita pilih, dan nada bicara yang kita gunakan dapat memengaruhi suasana komunikasi. Tujuannya bukan untuk memberikan jawaban atas semua persoalan, melainkan menciptakan komunikasi yang tidak menghakimi dan tidak membuat seseorang merasa semakin tertekan atau terpicu.

Dari pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa public speaking dalam komunitas kesehatan mental memiliki dimensi yang lebih luas. Berbicara membutuhkan empati, kemampuan membaca situasi, serta kesediaan untuk mendengarkan. Bagi saya, kemampuan tersebut tidak kalah penting dari kemampuan berbicara dengan percaya diri di depan banyak orang.

Pengalaman di Hype Squad juga membuat saya menyadari bahwa keberhasilan sebuah komunikasi tidak selalu dapat diukur dari seberapa meriah respons audiens atau seberapa percaya diri seseorang ketika berbicara. Terkadang, hasil yang lebih bermakna justru muncul ketika seseorang yang sebelumnya hanya diam merasa cukup aman untuk ikut berbicara.

BACA JUGA :  Pengoptimalan Industri Kreatif yang Fungsionalis dan Inovatif Berbasis Social Entrepreneurship

Komunitas Bukan Hanya Tempat Berkumpul

Komunitas kesehatan mental dapat menjadi ruang untuk belajar, bertukar pengalaman, membangun dukungan sosial, dan meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental. Namun, sebuah komunitas tidak otomatis menjadi ruang aman hanya karena menggunakan istilah safe space.

Ruang aman perlu dibangun melalui perilaku sehari-hari. Bagaimana seseorang berbicara kepada anggota lain, bagaimana sebuah cerita ditanggapi, bagaimana perbedaan pengalaman dihargai, dan bagaimana batas antara dukungan sebaya dengan bantuan profesional dipahami, semuanya menjadi bagian dari proses tersebut.

WHO dalam panduan community engagement menjelaskan bahwa keterlibatan komunitas merupakan proses membangun hubungan yang memungkinkan berbagai pihak bekerja bersama untuk menangani persoalan kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan. Artinya, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat terlibat dalam membangun dukungan dan solusi.

Dalam konteks komunitas kesehatan mental, komunikasi menjadi salah satu fondasi penting. Ketika orang merasa dihargai dan didengarkan, mereka memiliki ruang untuk berpartisipasi. Sebaliknya, komunikasi yang menghakimi dapat membuat seseorang memilih diam.

Karena itu, ruang aman bukan hanya sebuah label. Ia dibentuk melalui cara kita berkomunikasi.

Dari Berbicara Menjadi Membuka Ruang

Menurut saya, inilah hal yang sering kali terlupakan ketika kita membicarakan public speaking.

Kita terlalu sering berfokus pada pembicara: bagaimana agar tidak gugup, bagaimana menggunakan bahasa tubuh, bagaimana mengatur suara, dan bagaimana membuat audiens tertarik. Semua itu penting. Namun, dalam konteks tertentu, terutama komunitas kesehatan mental, perhatian juga perlu diarahkan kepada orang yang mendengarkan.

Apakah cara kita berbicara membuat orang lain merasa dihargai?

Apakah informasi yang kita sampaikan membantu atau justru menimbulkan kesalahpahaman?

Apakah kita memberikan ruang bagi orang lain untuk berbicara?

Dan yang tidak kalah penting, apakah kita mampu menyadari batas kemampuan kita sendiri ketika berbicara tentang persoalan kesehatan mental?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat public speaking tidak lagi hanya menjadi keterampilan untuk tampil di depan orang banyak. Public speaking menjadi bagian dari kemampuan membangun hubungan dengan orang lain.

Interaksi dan Percakapan untuk Mengurangi Stigma

Komunikasi juga dapat menjadi pintu untuk mengurangi stigma terhadap masalah kesehatan mental. Sebuah tinjauan sistematis mengenai social contact di negara berpendapatan rendah dan menengah menemukan bahwa kontak sosial merupakan salah satu pendekatan yang menjanjikan dalam upaya mengurangi stigma. Penelitian tersebut meninjau 44 studi dan menunjukkan bahwa berbagai bentuk kontak digunakan dalam intervensi pengurangan stigma.

BACA JUGA :  Corporate Governance: Pondasi Tata Kelola Perusahaan yang Berkelanjutan

Meta-analisis yang diterbitkan dalam Clinical Psychology Review pada 2026 juga menemukan bahwa intervensi berbasis kontak berkaitan dengan penurunan stigma kesehatan mental pada pengukuran segera setelah intervensi, jangka pendek, maupun jangka menengah. Temuan ini tidak berarti bahwa setiap percakapan otomatis menghilangkan stigma, tetapi menunjukkan bahwa interaksi yang dirancang dengan baik dapat menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman.

Bagi saya, temuan tersebut memperkuat satu hal sederhana: percakapan memiliki arti. Ketika seseorang berani berbicara dan orang lain bersedia mendengarkan dengan empati, komunikasi dapat membuka kesempatan untuk memahami pengalaman yang sebelumnya mungkin tidak kita kenal.

Public Speaking yang Memiliki Empati

Pada akhirnya, public speaking dalam komunitas kesehatan mental bukan berarti seseorang harus menjadi pembicara yang sempurna. Yang lebih penting adalah memiliki kesadaran bahwa setiap kata dapat diterima secara berbeda oleh setiap orang.

Kepercayaan diri perlu berjalan bersama empati. Kemampuan menyampaikan pesan perlu berjalan bersama kemampuan mendengarkan. Keinginan untuk berbicara perlu berjalan bersama kesediaan memberikan ruang.

Public speaking tidak harus selalu berakhir dengan tepuk tangan.

Dalam komunitas kesehatan mental, mungkin ada ukuran lain yang lebih bermakna: apakah setelah percakapan selesai seseorang merasa lebih dipahami? Apakah ia merasa tidak sendirian? Apakah ia memperoleh informasi yang lebih tepat? Atau setidaknya, apakah ia merasa cukup aman untuk kembali berbicara?

Bagi saya, public speaking yang baik bukan hanya tentang bagaimana membuat orang mendengarkan kita. Lebih dari itu, public speaking dapat menjadi cara untuk membuat orang lain merasa didengarkan.

Karena terkadang, keberanian untuk berbicara memang dimulai dari satu orang yang berani membuka percakapan. Namun, keberanian untuk terus berbicara bisa tumbuh ketika orang tersebut menemukan ruang yang mau mendengarkan.

Dan mungkin, di situlah public speaking menemukan maknanya yang lebih luas: bukan sekadar berbicara di depan orang lain, tetapi menciptakan ruang agar manusia dapat saling mendengar.

Referensi

World Health Organization. (2021). Peer support mental health services: Promoting person-centred and rights-based approaches.

World Health Organization. (2020). Community engagement: A health promotion guide for universal health coverage in the hands of the people.

Damsté, C., et al. (2024). Social contact as a strategy to reduce stigma in low- and middle-income countries: A systematic review and expert perspectives. PLOS Global Public Health, 4(3), e0003053.

Maunder, R. D., et al. (2026). Key components of effective contact interventions for reducing public mental health stigma: An updated meta-analysis. Clinical Psychology Review, 126, 102741.

 

Penulis:

Rani Sudrajat

Mahasiswa S1 Manajemen, Universitas Pamulang

Previous Post

Otomatisasi dan AI Sudah Datang, Sudahkah Perencanaan SDM Kita Siap?

Next Post

Penataan Aset Negara Berujung Dugaan Teror, Rektor dan Pegawai UIN Jakarta Diintimidasi

Related Posts

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda
DUNIA KAMPUS

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda

Oktober 21, 2026
2.1k
Pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Z
DUNIA KAMPUS

Pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Z

Oktober 21, 2026
2.3k
Sekali Klik, Uang Berpindah: Di Balik Cepatnya Transaksi Perbankan di Era Digital
DUNIA KAMPUS

Sekali Klik, Uang Berpindah: Di Balik Cepatnya Transaksi Perbankan di Era Digital

Oktober 20, 2026
2.4k
Pembatasan Perdagangan: Tarif
DUNIA KAMPUS

Pembatasan Perdagangan: Tarif

Oktober 20, 2026
2.4k
Jenis-Jenis Pasar Modal
DUNIA KAMPUS

Kenapa Banyak Perusahaan Gagal Bukan Karena Modal, Tapi Karena Salah Hitung Orang?

Oktober 20, 2026
2.4k
Kita Terlalu Sibuk Belajar Bicara, tetapi Lupa Belajar Mendengarkan
DUNIA KAMPUS

Kita Terlalu Sibuk Belajar Bicara, tetapi Lupa Belajar Mendengarkan

Oktober 20, 2026
2.4k
Next Post
Penataan Aset Negara Berujung Dugaan Teror, Rektor dan Pegawai UIN Jakarta Diintimidasi

Penataan Aset Negara Berujung Dugaan Teror, Rektor dan Pegawai UIN Jakarta Diintimidasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com