KETIKA pekerjaan di sebuah perusahaan mulai menumpuk, menambah karyawan sering dianggap sebagai jalan keluar yang paling mudah. Padahal, belum tentu masalahnya karena jumlah karyawan yang kurang. Bisa saja masalahnya ada pada pembagian tugas, kemampuan karyawan, atau sistem kerja yang belum berjalan dengan baik.
Menurut saya, di sinilah perencanaan sumber daya manusia (SDM) menjadi penting. Perencanaan SDM bukan cuma soal menghitung berapa orang karyawan yang dibutuhkan. Perusahaan juga perlu melihat kemampuan apa yang dibutuhkan, siapa yang cocok mengisi suatu pekerjaan, bagaimana pembagian tugasnya, dan apa yang mungkin dibutuhkan perusahaan di masa depan.
Masih ada perusahaan yang menganggap perencanaan SDM hanya sebagai urusan administrasi. Ketika ada posisi kosong, perusahaan langsung mencari orang baru. Ketika pekerjaan bertambah, langsung membuka lowongan. Padahal, sebelum melakukan hal tersebut, perusahaan seharusnya melihat dulu kondisi yang sebenarnya.
Contohnya, sebuah perusahaan memiliki sepuluh karyawan. Namun, ternyata pembagian pekerjaannya tidak merata. Ada bagian yang terlalu banyak pekerjaan, sementara bagian lain justru memiliki beban kerja yang lebih ringan. Kalau perusahaan langsung merekrut karyawan baru, jumlah tenaga kerja memang bertambah, tetapi masalah utamanya belum tentu selesai.
Karena itu, perusahaan perlu melihat beban kerja dan kebutuhan setiap bagian. Perencanaan SDM yang baik perlu mempertimbangkan jumlah karyawan yang tersedia, jenis pekerjaan yang harus dilakukan, kemampuan karyawan, serta perubahan kebutuhan organisasi. Analisis jabatan dan beban kerja juga dapat menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan tenaga kerja.
Produktivitas karyawan juga tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang bekerja. Karyawan yang memiliki kemampuan sesuai dengan pekerjaannya dan ditempatkan pada posisi yang tepat akan lebih mudah menjalankan tugasnya. Sebaliknya, kalau kemampuan dan pekerjaan tidak sesuai, perusahaan bisa mengalami masalah meskipun jumlah karyawannya cukup.
Hal tersebut terlihat dari beberapa penelitian yang dibahas dalam sumber. Gulo dkk. (2025) menemukan bahwa perencanaan SDM berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas pegawai pada BPBD Kota Gunungsitoli. Namun, penelitian Rizky dkk. (2026) menunjukkan hasil yang berbeda. Perencanaan SDM strategis tidak berpengaruh langsung secara signifikan terhadap produktivitas karyawan Generasi Z. Dalam penelitian tersebut, efektivitas kerja menjadi faktor yang berperan sebagai penghubung.
Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa perencanaan SDM memang penting, tetapi bukan berarti setelah perusahaan membuat perencanaan maka produktivitas otomatis meningkat. Rencana yang sudah dibuat tetap harus dijalankan dengan sistem kerja yang jelas dan sesuai dengan kondisi perusahaan.
Menurut saya, perusahaan perlu melihat perencanaan SDM sebagai proses yang dilakukan secara terus-menerus. Jadi, bukan hanya dilakukan ketika perusahaan sedang membutuhkan karyawan baru. Kondisi perusahaan bisa berubah, begitu juga dengan kebutuhan tenaga kerja dan kemampuan yang diperlukan.
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah melihat pekerjaan yang ada dan menghitung beban kerjanya. Setelah itu, perusahaan dapat melihat apakah jumlah dan kemampuan karyawan sudah sesuai. Jika memang kekurangan tenaga kerja, barulah dilakukan rekrutmen. Namun, jika masalahnya adalah kemampuan, perusahaan bisa memberikan pelatihan. Kalau masalahnya terletak pada penempatan, karyawan bisa ditempatkan pada posisi yang lebih sesuai.
Pengembangan kemampuan karyawan juga semakin penting karena dunia kerja terus mengalami perubahan. Perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan bisnis membuat kebutuhan kompetensi tenaga kerja ikut berubah. Karena itu, perencanaan SDM perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut.
Selain kemampuan, kondisi karyawan juga perlu diperhatikan. Produktivitas bukan hanya tentang seberapa banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan. Kepuasan kerja, keterlibatan karyawan, kompetensi, dan efektivitas kerja juga dapat berkaitan dengan hasil pekerjaan. Salah satu penelitian yang dibahas dalam sumber menunjukkan bahwa perencanaan SDM dapat berkaitan dengan kepuasan kerja yang kemudian berhubungan dengan kinerja karyawan.
Jadi, menurut saya, perusahaan jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa setiap masalah pekerjaan bisa diselesaikan dengan menambah karyawan. Bisa saja yang sebenarnya dibutuhkan adalah pembagian tugas yang lebih jelas, pelatihan, penempatan yang tepat, atau perbaikan sistem kerja.
Perencanaan SDM yang dilakukan berdasarkan kondisi nyata dan data dapat membantu perusahaan menentukan kebutuhan tenaga kerja dengan lebih tepat. Perusahaan juga perlu memperhatikan jumlah karyawan, kompetensi, beban kerja, penempatan, pengembangan, serta evaluasi secara bersama-sama.
Pada akhirnya, perencanaan SDM bukan sekadar mencari orang sebanyak-banyaknya untuk mengisi perusahaan. Yang lebih penting adalah memastikan orang yang tepat berada di pekerjaan yang tepat dan mendapatkan dukungan yang sesuai.
Sebelum mengatakan “kita butuh karyawan baru”, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting untuk dipikirkan: “sebenarnya tenaga kerja seperti apa yang kita butuhkan?” Dari pertanyaan sederhana itu, perusahaan bisa mulai membuat perencanaan SDM yang lebih tepat dan tidak hanya mengejar jumlah karyawan, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan efektivitas kerja.
Penulis:
Muhamad Fadillah
Mahasiswa Universitas Pamulang







