• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Jualan Online Makin Mudah, Tapi Kenapa Banyak Bisnis Tetap Sepi?

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
Oktober 14, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 3min read
Jualan Online Makin Mudah, Tapi Kenapa Banyak Bisnis Tetap Sepi?
243
SHARES
2.5k
VIEWS

HAMPIR semua orang sekarang bisa membuka toko online dalam hitungan menit.  Cukup bermodal ponsel, akun media sosial, dan beberapa foto produk, dagangan sudah  bisa dilihat ribuan orang. Namun di balik kemudahan itu, banyak pelaku usaha, terutama  UMKM, mengeluh hal yang sama: sudah posting tiap hari, tapi yang beli tidak seberapa. 

Menurut saya, masalahnya bukan pada kurangnya platform, melainkan pada cara kita  memahami digital marketing itu sendiri.  

Digital marketing bukan sekadar posting 

Banyak orang mengira digital marketing sama dengan mengunggah foto produk,  menambahkan tagar, lalu menunggu pesanan masuk. Padahal itu hanya sebagian kecil.  Digital marketing adalah keseluruhan proses mengenalkan produk, membangun  kepercayaan, hingga membuat orang akhirnya membeli lewat kanal digital, mulai dari  media sosial, mesin pencari, marketplace, sampai email dan WhatsApp.  

Bedanya dengan promosi konvensional, di dunia digital hampir semuanya bisa  diukur. Kita bisa tahu berapa orang melihat konten, berapa yang mengeklik, dan berapa  yang akhirnya membeli. Sayangnya, data ini sering diabaikan. Tidak sedikit pelaku usaha  yang menilai kontennya berhasil hanya karena banyak like, padahal like belum tentu  berujung penjualan.  

Tren yang sedang mengubah permainan 

BACA JUGA :  Penanganan dan Mitigasi Risiko Banjir melalui Pemberdayaan Warga dan Peningkatan Kesiapsiagaan Lingkungan dengan Ibu-Ibu PKK

Ada beberapa perubahan yang menurut saya perlu dicermati siapa pun yang  berbisnis hari ini.  

Pertama, video pendek. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube  Shorts sudah menjadi tempat orang menemukan produk baru. Orang tidak lagi mencari  barang hanya lewat katalog, tetapi lewat video yang kebetulan muncul di beranda mereka. 

Kedua, social commerce. Belanja kini terjadi di tempat yang sama dengan hiburan.  Orang menonton, tertarik, lalu langsung membeli tanpa berpindah aplikasi. Jarak antara  “melihat” dan “membeli” semakin pendek, sehingga konten yang meyakinkan jadi jauh  lebih penting. 

Ketiga, kecerdasan buatan. Alat berbasis AI kini membantu membuat naskah,  desain, hingga menganalisis data pelanggan, dan ini jelas meringankan pekerjaan. Tetapi  di sinilah jebakannya. Ketika semua orang memakai alat yang sama, konten cenderung  seragam dan terasa hambar. Audiens makin pandai membedakan mana yang tulus dan  mana yang sekadar diproduksi massal.  

Keempat, soal data dan privasi. Dengan berlakunya Undang-Undang Pelindungan  Data Pribadi, pelaku usaha tidak bisa lagi sembarangan mengumpulkan dan memakai data  pelanggan. Kepercayaan konsumen kini menjadi aset yang sama berharganya dengan  produk itu sendiri.  

BACA JUGA :  Membangun Budaya Antikorupsi: Mencegah Perilaku Koruptif demi Masa Depan Bangsa

Kesalahan yang paling sering terjadi 

Dari pengamatan saya, ada tiga kesalahan yang berulang. Yang pertama, mengejar  viral tanpa strategi. Viral memang menyenangkan, tetapi tanpa produk yang siap, layanan  yang baik, dan jalur pembelian yang jelas, lonjakan perhatian itu cepat hilang begitu saja.  Yang kedua, tidak mengenal target pasar. Banyak bisnis berbicara kepada “semua orang”,  padahal pesan yang terlalu umum justru tidak menyentuh siapa pun. Yang ketiga, tidak  konsisten. Aktif seminggu lalu menghilang sebulan membuat audiens lupa, dan  membangun kepercayaan dari nol itu jauh lebih melelahkan.  

Yang justru lebih penting dari alat canggih 

Teknologi terus berganti, tetapi menurut saya prinsip dasarnya tetap sama: pahami  orang yang ingin dilayani. Bisnis yang bertahan biasanya bukan yang paling sering  beriklan, melainkan yang paling dipercaya. Mereka menjawab pesan pelanggan dengan  ramah, jujur soal kelebihan dan kekurangan produk, dan mau mendengar masukan.  

Konten yang jujur dan apa adanya sering kali lebih berhasil daripada konten yang  terlalu dipoles. Cerita di balik proses pembuatan produk, wajah pemilik usaha, atau ulasan  pelanggan yang apa adanya membuat orang merasa dekat. Di tengah banjir konten buatan mesin, sentuhan manusia justru menjadi pembeda. 

BACA JUGA :  UMR Naik Setiap Tahun, Mengapa Hidup Tetap Terasa Berat?

Peluang besar bagi anak muda dan UMKM 

Bagi mahasiswa dan generasi muda, ini adalah peluang yang sangat terbuka. Kita  tumbuh bersama media sosial, sehingga secara naluri sudah paham cara orang berinteraksi  di sana. Modal ini bisa dikembangkan menjadi keahlian yang nyata, baik untuk merintis  usaha sendiri maupun membantu UMKM di sekitar kita yang masih gagap digital.  

Banyak pedagang kecil punya produk berkualitas tetapi belum tahu cara memotret,  menulis deskripsi yang menarik, atau memanfaatkan fitur marketplace. Di titik inilah  kolaborasi bisa terjadi. Anak muda membawa pemahaman digital, pelaku UMKM  membawa produk dan pengalaman.  

Penutup 

Digital marketing pada akhirnya bukan soal siapa yang punya alat paling mutakhir,  tetapi siapa yang paling memahami dan menghargai pelanggannya. Platform akan terus  berubah dan algoritma akan terus diperbarui, namun kepercayaan tidak bisa digantikan  oleh teknologi apa pun. Jadi sebelum sibuk mengejar tren berikutnya, ada baiknya kita  bertanya lebih dulu: apakah bisnis kita sudah benar-benar dipercaya oleh orang yang kita  tuju.

Penulis:

Siti Hayu

Mahasiswa Universitas Pamulang 

Previous Post

Ingin Kuliah Pakai Beasiswa Garuda? Ini Syarat Akademik dan Dokumen yang Harus Disiapkan

Next Post

Transformasi Layanan BRI Berbuah Prestasi, Raih 36 Penghargaan di Ajang The Best Contact Center Indonesia 2026

Related Posts

Bukan Tidak Pintar, Cuma Takut Bicara: Ketika Pengetahuan Tidak Sejalan dengan Kepercayaan Diri
DUNIA KAMPUS

Public Speaking sebagai Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Prestasi Mahasiswa

Oktober 21, 2026
2.3k
Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?
DUNIA KAMPUS

Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?

Oktober 21, 2026
2.4k
Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat
DUNIA KAMPUS

Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat

Oktober 21, 2026
2.4k
Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi
DUNIA KAMPUS

Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi

Oktober 21, 2026
2.4k
Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?
DUNIA KAMPUS

Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?

Oktober 21, 2026
2.4k
Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda
DUNIA KAMPUS

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda

Oktober 21, 2026
2.1k
Next Post
Transformasi Layanan BRI Berbuah Prestasi, Raih 36 Penghargaan di Ajang The Best Contact Center Indonesia 2026

Transformasi Layanan BRI Berbuah Prestasi, Raih 36 Penghargaan di Ajang The Best Contact Center Indonesia 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com