MEDIA sosial kini menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Orang bertukar kabar, mencari hiburan, membaca informasi, hingga berbelanja lewat layar ponsel. Perubahan kebiasaan ini ikut mengubah cara pelaku usaha berjualan, dari spanduk dan brosur ke akun bisnis di media sosial.
Dalam perubahan itu, muncul anggapan yang cukup kuat: akun dengan pengikut banyak pasti sukses. Jumlah followers dipajang seperti piala. Semakin besar angkanya, semakin yakin pemilik usaha bahwa dagangannya akan laris.ss
Tetapi bayangkan seorang pemilik toko kosmetik daring di pinggiran Jakarta dengan lima puluh ribu pengikut. Setiap unggahannya ramai disukai, namun pesanan sebulan terakhir hanya hitungan jari. Ini hanya ilustrasi, tetapi banyak pelaku usaha mungkin pernah merasakannya.
Pertanyaannya, apakah jumlah followers benar-benar menjamin keberhasilan digital marketing? Tulisan ini berpendapat bahwa jawabannya tidak. Followers ibarat etalase yang ramai dilewati orang, sedangkan keberhasilan baru terasa ketika kasir berbunyi.
Dari Tombol Follow ke Tolak Ukur Gengsi
Kebiasaan menghitung pengikut punya akar sejarah. Instagram diluncurkan pada 2010 oleh Kevin Systrom dan Mike Krieger, dengan tombol follow sebagai inti pergaulannya. Awalnya, tombol itu hanya penanda pertemanan.
Seiring waktu, maknanya bergeser. Jumlah pengikut menjadi simbol popularitas, lalu menjadi semacam bukti bahwa sebuah akun layak dipercaya. Pelaku usaha pun ikut menilai kesuksesan akunnya dari angka tersebut.
Aturan mainnya sendiri ikut berubah. Sejak sekitar 2016, Instagram tidak lagi menampilkan unggahan menurut urutan waktu, melainkan menurut perkiraan algoritma tentang apa yang disukai pengguna. Akibatnya, orang yang mengikuti akun kita belum tentu melihat unggahannya.
Pasar Besar, Persaingan Padat
Pergeseran ini terjadi di pasar yang sangat besar. Laporan Digital 2026: Indonesia dari We Are Social dan Meltwater mencatat identitas pengguna media sosial naik 26 persen dalam setahun hingga 180 juta, setara 62,9 persen penduduk. Untuk Instagram saja, data NapoleonCat menunjukkan sekitar 121,7 juta pengguna di Indonesia pada Mei 2026.
Pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi pemicu penting. Banyak usaha, terutama UMKM, berpindah ke ruang daring dalam waktu singkat. Sejak itu, jumlah akun bisnis terus bertambah dan persaingan memperebutkan perhatian pengguna kian ketat.
Ketika Pengikut Dikejar, Pembeli Terlupakan
Di lapangan, kita mudah menemukan pelaku usaha yang mengejar angka dengan jalan pintas. Ada yang mengadakan giveaway besar-besaran agar pengikut melonjak. Hasilnya memang cepat, tetapi sebagian besar peserta datang demi hadiah, bukan demi produk.
Ada pula yang membayar jasa penambah pengikut agar akunnya tampak populer. Sebagian lain menggelontorkan anggaran besar untuk menggandeng tokoh media sosial berpengikut jutaan, lalu heran ketika penjualan nyaris tidak bergerak.
Perilaku pembeli sebenarnya jauh lebih sederhana. Mereka membaca ulasan, bertanya di kolom komentar, dan menimbang saran teman sebelum membayar. Pertanyaan “berapa pengikut toko ini?” jarang menjadi penentu.
Angka Pengikut Tidak Sama dengan Angka Interaksi
Ukuran yang lebih jujur adalah tingkat interaksi (engagement rate), yaitu seberapa banyak pengikut yang benar-benar bereaksi terhadap konten. Laporan Socialinsider mencatat rata-rata interaksi di Instagram hanya 0,48 persen, turun 24 persen dari tahun sebelumnya. Artinya, dari seribu pengikut, rata-rata hanya sekitar lima orang yang bereaksi.
Akun kecil malah sering lebih hidup. Laporan HypeAuditor 2024 untuk Indonesia mencatat interaksi akun nano sebesar 1,85 persen, sedangkan akun mega hanya 0,69 persen dan akun makro 0,66 persen. Semakin besar sebuah akun, kedekatannya dengan pengikut cenderung semakin tipis.
Pembeli Lebih Percaya pada Bukti
Data We Are Social menunjukkan bahwa media sosial memang menjadi jalan orang mengenal merek. Sebanyak 37,3 persen orang Indonesia menemukan merek lewat iklan media sosial, dan 32,6 persen lewat kolom komentar.
Angka kedua patut dicermati. Komentar dari pengguna sungguhan hampir sama berpengaruhnya dengan iklan berbayar. Pembeli mencari bukti dari sesama pembeli, bukan sekadar melihat besarnya angka pengikut.
Audiens Besar Tanpa Jalur Transaksi
Kasus TikTok Shop pada Oktober 2023 memberi pelajaran lain. Setelah terbit Permendag Nomor 31 Tahun 2023, TikTok menghentikan layanan belanjanya di Indonesia pada 4 Oktober 2023 pukul 17.00 WIB. TikTok menyebut keputusan itu berdampak pada sekitar enam juta penjual dan hampir tujuh juta kreator afiliasi.
Penonton para penjual itu tidak hilang. Yang terputus adalah jalur transaksinya. Audiens yang besar belum cukup bila tidak ada sistem yang mengubah perhatian menjadi pembelian.
Metrik yang Dipamerkan, Metrik yang Menentukan
Di sinilah perbedaan antara vanity metric dan metrik yang bisa ditindaklanjuti. Vanity metric adalah angka yang enak dipamerkan tetapi tidak menjelaskan hasil usaha, dan jumlah followers termasuk di dalamnya. Yang lebih menentukan adalah interaksi, klik, jumlah pesanan, biaya untuk mendapatkan satu pembeli, dan seberapa sering pembeli kembali.
Adil pula diakui bahwa pengikut tetap punya nilai. Akun dengan pengikut banyak biasanya tampak lebih kredibel dan lebih kuat posisinya saat bernegosiasi kerja sama. Tetapi nilai itu hanya modal awal. Kepercayaan, relevansi konten, dan kemudahan membeli tetap menjadi penentu akhir.
Penutup
Bagi pelaku usaha, terutama UMKM, ada beberapa langkah yang bisa langsung dicoba. Mulailah melacak metrik yang berkaitan dengan penjualan, seperti kunjungan profil, klik tautan, dan pesanan. Rawat komunitas kecil yang setia, karena pembeli yang puas adalah pemasar paling murah. Saat memilih influencer, periksa kecocokan audiensnya dengan produk dan kualitas interaksinya, bukan hanya jumlah pengikutnya. Pemerintah dan pegiat literasi digital juga perlu terus mendorong agar pelaku usaha tidak tergoda membeli pengikut.
Jadi, jawaban atas pertanyaan di judul adalah tidak. Followers yang banyak baru berarti jika mereka percaya, berinteraksi, dan akhirnya membeli. Etalase yang ramai memang enak dipandang, tetapi usaha hanya hidup bila ada yang melangkah ke kasir.
Penulis:
Safina Ramadina
Mahasiswa Universitas Pamulang







