• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Kamis, 22 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Konten Viral Belum Tentu Laku: Mengapa Views Tinggi Tidak Selalu Berarti Penjualan Tinggi?

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
Oktober 11, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 7min read
Konten Viral Belum Tentu Laku: Mengapa Views Tinggi Tidak Selalu Berarti Penjualan Tinggi?
233
SHARES
2.4k
VIEWS

PERNAH melihat sebuah video di TikTok yang tiba-tiba muncul berkali-kali di beranda? Views-nya ratusan ribu, bahkan sampai jutaan. Komentarnya ramai, banyak yang membagikan, dan produk yang ditampilkan di dalamnya langsung menjadi bahan pembicaraan.

Melihat kondisi seperti itu, kita mungkin langsung berpikir, “Wah, produknya pasti laris.” Tetapi, apakah benar begitu?

Di era media sosial seperti sekarang, angka views sering kali menjadi salah satu ukuran yang paling mudah dilihat ketika menilai keberhasilan sebuah konten.

Semakin tinggi views, semakin besar pula anggapan bahwa konten tersebut berhasil. Padahal, dalam dunia digital marketing, tingginya views belum tentu berarti tingginya penjualan.

Menurut saya, inilah hal yang menarik untuk dibahas. Konten viral memang dapat membantu sebuah brand mendapatkan perhatian. Namun, mendapatkan perhatian hanyalah langkah awal. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana perhatian tersebut dapat berubah menjadi ketertarikan, kepercayaan, dan akhirnya keputusan untuk membeli.

Viral Tidak Selalu Sama dengan Laku

Media sosial membuat sebuah konten bisa menyebar dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat, sebuah video yang awalnya hanya ditonton oleh beberapa orang dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan pengguna.

Hal tersebut tentu menjadi peluang besar bagi bisnis. Bayangkan sebuah usaha kecil yang sebelumnya belum banyak dikenal. Kemudian salah satu videonya viral dan ditonton oleh satu juta orang. Secara tidak langsung, brand tersebut mendapatkan exposure yang mungkin sulit diperoleh melalui pemasaran konvensional.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: satu juta views bukan berarti satu juta calon pembeli. Orang bisa menonton sebuah konten karena banyak alasan. Mereka mungkin tertarik dengan produknya, tetapi bisa juga karena videonya lucu, mengikuti tren, ceritanya menarik, atau sekadar muncul di halaman rekomendasi.

Artinya, tidak semua orang yang melihat sebuah konten memiliki niat untuk membeli. Karena itu, menurut saya, views sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya patokan keberhasilan sebuah strategi pemasaran.

Sebuah konten dengan views lebih kecil justru bisa menghasilkan dampak bisnis yang lebih nyata jika konten tersebut menjangkau orang-orang yang memang membutuhkan produk yang ditawarkan.

Di Balik Tingginya Views: Apakah Konsumen Benar-Benar Tertarik?

Di sinilah kita perlu melihat apa yang terjadi setelah seseorang melihat sebuah konten. Misalnya, sebuah video promosi mendapatkan 500 ribu views. Angka tersebut tentu terlihat besar. Tetapi setelah video tersebut ditonton, apakah penonton kemudian mengunjungi akun brand? Apakah mereka mencari tahu harga? Apakah mereka membaca komentar? Apakah mereka menyimpan konten tersebut? Apakah mereka mengklik produk? Atau bahkan mengirim pesan kepada penjual?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena menunjukkan adanya tindakan lanjutan dari konsumen. Dalam digital marketing, perhatian dan tindakan merupakan dua hal yang berbeda.

Views lebih menunjukkan seberapa banyak perhatian yang berhasil diperoleh sebuah konten. Sementara itu, engagement, kunjungan profil, klik, pesan, hingga transaksi dapat memberikan gambaran mengenai respons audiens terhadap konten tersebut.

BACA JUGA :  Mahasiswa Universitas Pamulang Edukasi Siswa SMP tentang Pemanfaatan AI Secara Bijak

Misalnya, sebuah video mendapatkan 100 ribu views tetapi hanya menghasilkan sedikit kunjungan ke profil. Sementara video lain hanya mendapatkan 15 ribu views, tetapi banyak orang yang mengunjungi profil, bertanya tentang produk, dan melakukan pembelian.

Kalau hanya melihat views, video pertama terlihat lebih berhasil. Tetapi jika melihat tujuan akhirnya, yaitu mendukung penjualan, kita perlu melihat metrik lainnya. Jadi, menurut saya, angka yang besar belum tentu menjadi angka yang paling berarti.

Target Audiens Lebih Penting daripada Sekadar Banyak Penonton

Selain melihat tindakan konsumen, brand juga perlu memperhatikan siapa yang melihat kontennya. Dalam digital marketing, target audiens memiliki peran yang sangat penting. Tidak semua orang yang melihat konten merupakan calon konsumen.

Contohnya, sebuah brand menjual skincare untuk perempuan usia 18–25 tahun. Brand tersebut kemudian membuat video yang viral dan ditonton oleh jutaan orang dari berbagai kelompok usia.

Secara jumlah, tentu sangat besar. Namun, jika sebagian besar penontonnya tidak sesuai dengan target pasar, tingginya views belum tentu menghasilkan penjualan yang tinggi.

Sebaliknya, sebuah konten mungkin hanya mendapatkan 20 ribu views, tetapi mayoritas penontonnya adalah orang yang memang tertarik dengan skincare dan sedang mencari produk yang sesuai dengan kebutuhannya.

Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan terjadinya interaksi dan pembelian bisa menjadi lebih relevan untuk diperhatikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa banyaknya audiens dan ketepatan audiens merupakan dua hal yang berbeda.

Menurut saya, brand tidak cukup hanya bertanya, “Berapa banyak orang yang melihat konten saya?” Pertanyaan lain yang juga perlu ditanyakan adalah, “Apakah orang yang melihat konten saya memang orang yang ingin saya jangkau?”

Konsumen Tidak Hanya Membutuhkan Konten yang Viral

Perilaku konsumen di media sosial juga semakin berkembang. Ketika melihat sebuah produk yang sedang viral, konsumen tidak selalu langsung melakukan pembelian.

Mereka bisa mencari informasi terlebih dahulu. Misalnya dengan membaca komentar, melihat review, mencari video dari content creator lain, membandingkan harga, atau melihat pengalaman konsumen sebelumnya.

Saya sendiri sering melihat sebuah produk yang awalnya belum terlalu dikenal kemudian menjadi ramai setelah mendapatkan review dari content creator. Setelah melihat review tersebut, orang-orang biasanya tidak langsung membeli. Mereka justru mulai mencari informasi tambahan mengenai produk tersebut.

Menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa konten viral bisa menjadi pintu masuk, tetapi bukan berarti langsung menjadi alasan seseorang membeli.

Hal tersebut juga sejalan dengan tren pemasaran TikTok pada 2026. Dalam laporan TikTok Next 2026, TikTok menyoroti perubahan perilaku pengguna yang semakin aktif dalam mencari dan menemukan informasi melalui platform, serta pentingnya brand memberikan nilai yang relevan kepada konsumen.

Karena itu, brand tidak cukup hanya membuat konten yang menarik perhatian. Konten juga perlu memberikan informasi dan alasan yang membuat konsumen merasa produk tersebut relevan dengan kebutuhan mereka.

BACA JUGA :  Universitas Pamulang sebagai Jembatan untuk Menuntut Ilmu 

Konten Menarik Belum Tentu Harus Terlihat Seperti Iklan

Menurut saya, salah satu tantangan digital marketing saat ini adalah bagaimana membuat konten yang bisa menarik perhatian tanpa membuat konsumen merasa sedang melihat iklan.

Misalnya, sebuah brand makanan tidak hanya mengatakan bahwa produknya “enak dan wajib dicoba”. Brand tersebut bisa menunjukkan tekstur makanan ketika dibelah, proses pembuatannya, reaksi pelanggan, atau cara menikmati produk tersebut.

Brand skincare bisa menunjukkan tekstur produk, cara penggunaan, kandungan, atau pengalaman pemakaian. Brand fashion bisa menunjukkan bagaimana satu produk dapat digunakan dalam beberapa gaya. Konten seperti ini mungkin tidak selalu mendapatkan jutaan views. Namun, informasi yang diberikan dapat membantu konsumen memahami produk.

Menurut saya, di sinilah konten memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar menjadi tontonan. Konten seharusnya bisa membuat konsumen berpikir, “Oh, ternyata produk ini cocok buat saya.” Karena pada akhirnya, konsumen tidak hanya membeli karena sebuah produk terlihat ramai di media sosial. Mereka juga membutuhkan alasan untuk percaya bahwa produk tersebut memang layak dibeli.

Media Sosial Indonesia Semakin Besar, Persaingan Juga Semakin Ketat

Pembahasan mengenai hal ini semakin penting karena penggunaan media sosial di Indonesia sudah menjadi bagian besar dari kehidupan masyarakat.

DataReportal dalam laporan Digital 2026: Indonesia mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Oktober 2025. Jumlah tersebut setara dengan 62,9 persen dari total populasi Indonesia.

Angka tersebut menunjukkan bahwa media sosial merupakan ruang yang sangat besar bagi brand untuk menjangkau konsumen.

Namun, jumlah pengguna yang besar juga berarti persaingan mendapatkan perhatian semakin tinggi. Setiap hari pengguna media sosial melihat berbagai macam konten. Mulai dari hiburan, edukasi, review, tutorial, hingga promosi produk. Semua brand berlomba membuat konten yang dapat membuat pengguna berhenti scrolling.

Dalam kondisi seperti ini, mengejar views memang terlihat sebagai strategi yang masuk akal. Tetapi menurut saya, brand juga perlu memikirkan apa yang terjadi setelah perhatian tersebut berhasil didapatkan. Sebab, mendapatkan perhatian hanya merupakan awal dari perjalanan konsumen.

Jangan Hanya Mengejar Viral

Menurut saya, brand tidak salah jika ingin membuat konten viral. Viralitas tetap memiliki manfaat, terutama dalam meningkatkan awareness. Ketika sebuah konten banyak dibicarakan, brand bisa mendapatkan kesempatan untuk dikenal oleh lebih banyak orang.

Namun, viralitas sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tujuan. Sebuah brand perlu menentukan apa yang ingin dicapai dari setiap konten. Apakah tujuannya untuk meningkatkan brand awareness?

Mendapatkan engagement? Meningkatkan kunjungan ke profil? Mendapatkan calon konsumen? Atau meningkatkan penjualan? Tujuan yang berbeda membutuhkan pendekatan dan ukuran keberhasilan yang berbeda pula. Karena itu, selain views, brand dapat memperhatikan jumlah komentar, share, save, profile visit, klik produk, pesan masuk, jumlah calon konsumen, hingga transaksi yang dihasilkan.

BACA JUGA :  PKM Unpam: Penerapan Edukasi Kesehatan Lingkungan untuk Masyarakat

Dengan melihat berbagai indikator tersebut, brand dapat memahami apakah sebuah konten hanya ramai atau benar-benar memberikan dampak bagi bisnis.

Viral Bisa Menjadi Awal, Bukan Akhir

Kalau dipikir-pikir, perjalanan konsumen setelah melihat sebuah konten sebenarnya cukup panjang. Seseorang bisa saja pertama kali mengenal sebuah brand melalui video viral. Setelah itu, ia mulai mengunjungi profil. Kemudian melihat produk lain. Setelah tertarik, ia mencari review. Setelah merasa percaya, barulah ia mempertimbangkan untuk membeli.

Artinya, sebuah konten tidak selalu harus langsung menghasilkan pembelian. Konten juga dapat memiliki fungsi sebagai bagian dari perjalanan konsumen. Inilah mengapa menurut saya, viralitas dan penjualan sebenarnya tidak perlu dipertentangkan.

Konten viral dapat membantu brand mendapatkan perhatian. Setelah perhatian didapatkan, brand perlu membangun ketertarikan dan kepercayaan melalui konten yang relevan. Dengan begitu, viralitas bukan menjadi tujuan akhir, tetapi menjadi salah satu bagian dari strategi yang lebih besar.

Pada Akhirnya, Bukan Sekadar Masuk FYP

Media sosial memberikan peluang yang sangat besar bagi bisnis. Bahkan bisnis kecil sekalipun sekarang dapat menjangkau konsumen dalam jumlah besar tanpa harus memiliki anggaran pemasaran seperti perusahaan besar. Tetapi peluang tersebut juga membuat persaingan semakin ketat.

Menurut saya, sudah waktunya brand tidak hanya mengejar pertanyaan, “Bagaimana caranya supaya konten saya viral?” Pertanyaan tersebut perlu dilanjutkan dengan: “Setelah orang melihat konten saya, apa yang saya ingin mereka lakukan?”

Apakah mereka menjadi lebih mengenal brand? Tertarik mencari informasi? Mengunjungi profil? Bertanya? Mencoba produk? Atau akhirnya membeli? Karena pada akhirnya, views memang penting. Tetapi views hanyalah salah satu bagian dari cerita.

Sebuah konten bisa mendapatkan jutaan views dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Namun, jika tidak ada hubungan antara perhatian tersebut dengan tujuan bisnis, angka tersebut belum tentu menggambarkan keberhasilan secara keseluruhan.

Sebaliknya, konten dengan views yang lebih kecil tidak otomatis berarti gagal. Jika konten tersebut mampu menjangkau audiens yang tepat, membangun kepercayaan, dan menghasilkan tindakan yang diharapkan, konten tersebut tetap memiliki nilai bagi bisnis.

Jadi, menurut saya, viral memang bisa membuat produk dikenal, tetapi konten yang relevan dapat membuat konsumen memiliki alasan untuk membeli. Pada akhirnya, digital marketing bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan views paling banyak.

Lebih dari itu, digital marketing adalah tentang bagaimana sebuah brand mampu mengubah perhatian menjadi hubungan, hubungan menjadi kepercayaan, dan kepercayaan menjadi tindakan. Karena konten yang baik bukan hanya membuat orang berhenti scrolling. Konten yang baik membuat orang berhenti, tertarik, percaya, lalu melakukan sesuatu.

Daftar Pustaka

DataReportal. (2025). Digital 2026: Indonesia. DataReportal.

TikTok Newsroom. (2026). Introducing TikTok Next 2026: Our Trend Forecast for Marketers for the Year Ahead. TikTok.

 

Penulis:

Sukma Lira Gadis Kinanty NIM: 231010506263

Mahasiswa Manajemen Digital Marketing Universitas Pamulang

Previous Post

8 Cara Menjaga Kesehatan Mental, Kebiasaan Sederhana Ini Bisa Bantu Kelola Stres

Next Post

SBR015 Hadir dengan Dua Pilihan Tenor, Pilihan Investasi Semakin Mudah melalui BRI

Related Posts

Bukan Tidak Pintar, Cuma Takut Bicara: Ketika Pengetahuan Tidak Sejalan dengan Kepercayaan Diri
DUNIA KAMPUS

Public Speaking sebagai Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Prestasi Mahasiswa

Oktober 21, 2026
2.3k
Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?
DUNIA KAMPUS

Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?

Oktober 21, 2026
2.4k
Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat
DUNIA KAMPUS

Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat

Oktober 21, 2026
2.4k
Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi
DUNIA KAMPUS

Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi

Oktober 21, 2026
2.4k
Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?
DUNIA KAMPUS

Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?

Oktober 21, 2026
2.4k
Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda
DUNIA KAMPUS

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda

Oktober 21, 2026
2.1k
Next Post
SBR015 Hadir dengan Dua Pilihan Tenor, Pilihan Investasi Semakin Mudah melalui BRI

SBR015 Hadir dengan Dua Pilihan Tenor, Pilihan Investasi Semakin Mudah melalui BRI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com