• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Menghitung Manusia Seperti Menghitung Mesin: Kekeliruan Sunyi dalam Perencanaan SDM

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
Oktober 7, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 2min read
Menghitung Manusia Seperti Menghitung Mesin: Kekeliruan Sunyi dalam Perencanaan SDM
231
SHARES
2.5k
VIEWS

BAGIAN sumber daya manusia (SDM) sebuah perusahaan mencatat bahwa dalam dua tahun terakhir, rata-rata dua karyawan pensiun atau keluar setiap bulan. Hitungannya sederhana: tahun depan dibutuhkan 24 orang pengganti. Angkanya rapi, logis, dan siap masuk laporan rapat direksi. Masalahnya, angka 24 hanya menjawab “berapa”. Ia tidak menjawab “siapa” dan “sebaik apa”.

Cara berpikir ini lazim dan memang diajarkan dalam buku perencanaan  sumber daya manusia (SDM) lewat metode ekstrapolasi, yaitu memproyeksikan kebutuhan masa depan dari pola masa lalu. Perencanaan tenaga kerja pada dasarnya bertumpu pada analisis kebutuhan dan analisis ketersediaan. Di banyak organisasi, analisis itu berhenti pada hitungan kuantitas dan syarat administratif. Kompetensi nyata seseorang, terutama rekam jejaknya, jarang ikut dihitung. Menurut saya, itu kekeliruan yang mahal.

Manusia Tidak Punya Lembar Spesifikasi

Mesin punya data kapasitas yang jelas: daya, kecepatan, batas beban. Manusia tidak. Bahan ajar perencanaan sumber daya manusia (SDM) mengakui bahwa informasi tentang kemampuan karyawan sering hanya berupa perkiraan karena tidak ada tolok ukur yang tegas, tidak seperti data energi sebuah mesin.

BACA JUGA :  Transformasi Perilaku Manusia: Feodalisme ke Kapitalisme, Apa yang Kita Pelajari?

Karena kekosongan itu, ijazah dan sertifikat dipakai sebagai pengganti lembar spesifikasi. Keduanya mencatat apa yang pernah dipelajari seseorang, bukan apa yang sanggup ia kerjakan di bawah tenggat, tekanan, dan konflik antar rekan. Merencanakan tenaga kerja dengan dokumen semacam itu ibarat menyusun jadwal produksi dari brosur pabrik tanpa pernah menguji mesinnya.

Yang Kompeten Belum Tentu Bekerja Baik

Manusia adalah makhluk hidup dan tidak bisa dikendalikan seperti mesin. Materi yang baru saja saya baca memberi contoh yang tepat: seseorang bisa kompeten, tetapi kurang mampu menggunakan keterampilannya. Kesenjangan antara “mampu” dan “mau serta konsisten” inilah yang hanya bisa ditangkap oleh rekam jejak.

Ongkosnya nyata. Kesalahan merekrut membuat proyeksi tenaga kerja meleset, dan perusahaan harus mengulang analisis dari awal. Di sisi pasokan internal, keputusan promosi dan mutasi juga bergantung pada penilaian kualitas dan komposisi karyawan. Tanpa catatan kinerja yang tertata, promosi mudah jatuh pada siapa yang paling dekat dengan atasan, bukan siapa yang paling layak.

BACA JUGA :  PKM Unpam: Strategi Pelatihan Manajemen Waktu untuk Meningkatkan Produktivitas Belajar

“Bukankah Rekam Jejak Lebih Subjektif dari Ijazah?”

Keberatan ini wajar. Ijazah tampak objektif karena berupa angka dan stempel, sedangkan penilaian kinerja rawan bias dan pilih kasih. Tetapi objektif tidak sama dengan relevan. Nilai indeks prestasi bisa tepat diukur dan tetap tidak berkaitan dengan kemampuan bekerja sama dalam tim.

Subjektivitas rekam jejak juga bukan takdir. Ia bisa ditekan dengan indikator kinerja yang terukur, penilaian dari beberapa pihak, serta pencatatan yang berkelanjutan dan bisa diverifikasi. Dengan begitu, kritik terhadap rekam jejak menjadi alasan untuk merancang sistem penilaiannya dengan benar, bukan alasan untuk membuangnya.

Dari Menghitung Kepala ke Membaca Jejak

Perencanaan sumber daya manusia (SDM) perlu bergeser dari sekadar menghitung kepala menjadi membaca jejak. Ada tiga langkah yang bisa dimulai sekarang. Pertama, bangun basis data kinerja karyawan yang mencatat capaian, evaluasi, dan riwayat penugasan secara konsisten, lalu jadikan data itu bahan resmi analisis pasokan tenaga kerja. Kedua, dalam seleksi, beri bobot pada referensi kerja dan uji kompetensi berbasis simulasi, bukan hanya berkas dan wawancara. Ketiga, gunakan catatan yang sama untuk promosi dan mutasi agar keputusan internal bisa dipertanggungjawabkan.

BACA JUGA :  Anak Muda Perlu Tahu, Ini Dampak Negatif Mendengarkan Musik

Pada akhirnya, angka 24 tadi baru berguna kalau kita tahu seperti apa 24 orang yang layak mengisinya. Perusahaan akan merencanakan tenaga kerja dengan menghitung kepala, atau dengan membaca jejak?

 

Penulis:

Hafsyah Umul Arif

Mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Pamulang

Previous Post

Hari Pramuka ke-65, Benyamin Dorong Pramuka Adaptif Hadapi AI hingga Ancaman Judi Online

Next Post

Biaya Haji 2027 Turun, Jemaah Cukup Bayar Rp54,6 Juta

Related Posts

Bukan Tidak Pintar, Cuma Takut Bicara: Ketika Pengetahuan Tidak Sejalan dengan Kepercayaan Diri
DUNIA KAMPUS

Public Speaking sebagai Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Prestasi Mahasiswa

Oktober 21, 2026
2.3k
Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?
DUNIA KAMPUS

Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?

Oktober 21, 2026
2.4k
Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat
DUNIA KAMPUS

Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat

Oktober 21, 2026
2.4k
Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi
DUNIA KAMPUS

Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi

Oktober 21, 2026
2.4k
Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?
DUNIA KAMPUS

Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?

Oktober 21, 2026
2.4k
Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda
DUNIA KAMPUS

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda

Oktober 21, 2026
2.1k
Next Post
Cuaca Panas dan Aktivitas Padat, 60 Jamaah Haji Indonesia Dirawat di Makkah

Biaya Haji 2027 Turun, Jemaah Cukup Bayar Rp54,6 Juta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com