KEMAMPUAN berbicara di depan umum atau public speaking semakin menjadi keterampilan penting bagi mahasiswa dan generasi muda di tengah perkembangan komunikasi digital. Kemampuan tersebut tidak hanya dibutuhkan ketika melakukan presentasi di kelas, tetapi juga dalam kegiatan organisasi, wawancara kerja, pekerjaan profesional, hingga pembuatan konten digital.
Public speaking merupakan kemampuan menyampaikan gagasan, informasi, maupun pendapat kepada audiens secara terstruktur dan mudah dipahami. Di lingkungan perguruan tinggi, keterampilan ini menjadi bagian penting karena mahasiswa sering dituntut untuk mempresentasikan tugas, menyampaikan pendapat dalam diskusi, serta mempertahankan hasil pemikiran secara lisan.
Meski demikian, berbicara di depan umum masih menjadi tantangan bagi sebagian mahasiswa. Penelitian terhadap mahasiswa di Jawa Barat menunjukkan bahwa kecemasan berbicara di depan umum masih ditemukan dalam lingkungan perguruan tinggi. Penelitian tersebut melibatkan 27 mahasiswa dan menemukan bahwa 63 persen responden berada pada tingkat kecemasan sedang, sementara 18 persen berada pada tingkat kecemasan tinggi (Halimah & Nuraida, 2025).
Kondisi serupa juga ditemukan dalam penelitian mengenai mahasiswa EFL di Indonesia. Penelitian yang diterbitkan pada Journal on English as a Foreign Language pada 2025 menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki tingkat kecemasan public speaking yang beragam. Kurangnya latihan dan beberapa faktor pribadi maupun pembelajaran disebut sebagai faktor yang dapat memengaruhi kecemasan berbicara (Muhyidin & Pupiales Chuquin, 2025).
Rasa takut melakukan kesalahan, kurang percaya diri, kurang persiapan, dan kekhawatiran terhadap penilaian audiens juga menjadi persoalan yang sering muncul. Penelitian terhadap mahasiswa EFL di Indonesia yang diterbitkan dalam Language Circle: Journal of Language and Literature pada 2024 menemukan bahwa 48 persen mahasiswa dalam penelitian tersebut mengalami kecemasan berbicara pada tingkat sedang. Penelitian itu juga mengidentifikasi beberapa faktor seperti kemampuan bahasa Inggris, takut melakukan kesalahan, rendahnya kepercayaan diri, kurang persiapan, motivasi, dan teknik pembelajaran.
Karena itu, kemampuan public speaking perlu dibangun melalui latihan yang konsisten. Persiapan materi, latihan berbicara, penguasaan topik, serta kemampuan mengatur intonasi dan bahasa tubuh dapat membantu seseorang menyampaikan pesan dengan lebih baik.
Penelitian lain mengenai mahasiswa perguruan tinggi juga menunjukkan bahwa ketakutan berbicara di depan umum dapat berkaitan dengan rasa takut dinilai, gejala fisik ketika berbicara, ketidakpastian terhadap topik, serta kurangnya pengalaman. Persiapan dan latihan menjadi salah satu strategi yang dilaporkan mahasiswa untuk menghadapi kondisi tersebut (Sholikhi, 2022).
Di era digital, ruang untuk mengembangkan kemampuan public speaking juga semakin luas. Seseorang dapat berlatih melalui video, podcast, webinar, presentasi daring, maupun berbagai platform media sosial. Dengan demikian, kemampuan berbicara tidak hanya berkaitan dengan tampil di atas panggung, tetapi juga kemampuan menyampaikan pesan melalui berbagai bentuk media.
Keterampilan komunikasi juga tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 membahas keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dan perubahan kebutuhan keterampilan hingga 2030. Laporan tersebut menunjukkan bahwa perubahan teknologi dan dunia kerja membuat pengembangan keterampilan menjadi bagian penting dalam kesiapan tenaga kerja.
Dengan latihan yang dilakukan secara bertahap, public speaking dapat menjadi kemampuan yang berkembang seiring pengalaman. Mahasiswa dapat memulainya dari hal sederhana seperti menyampaikan pendapat dalam diskusi, melakukan presentasi, mengikuti kegiatan organisasi, hingga membuat konten edukatif.
Pada akhirnya, public speaking bukan hanya tentang kemampuan berbicara di depan banyak orang. Keterampilan ini juga berkaitan dengan kemampuan menyusun gagasan, memahami audiens, mengelola rasa gugup, dan menyampaikan pesan secara efektif. Di tengah komunikasi yang semakin berkembang, kemampuan tersebut menjadi salah satu keterampilan yang dapat menunjang aktivitas akademik maupun profesional generasi muda.
Referensi
- Muhyidin, M., & Pupiales Chuquin, E. G. (2025). Assessing the levels and prevalence of public speaking anxiety among Indonesian EFL university students. Journal on English as a Foreign Language, 15(2). https://doi.org/10.23971/jefl.v15i2.9982
- Halimah & Nuraida. (2025). Exploring Public Speaking Anxiety among the First-Year College Students in West Java Indonesia. EDUCASIA, 10(1). https://doi.org/10.21462/educasia.v10i1.300
- Wiranti, M. D., Musyarofah, L., & Aisyah, S. (2025). Public Speaking Challenges among EFL University Students: A Phenomenological Analysis of Language Anxiety. Journal of English Teaching, Literature, and Applied Linguistics, 10(1), 50–54. https://doi.org/10.30587/jetlal.v10i1.11194
- Sholikhi, F. (2022). Communication students’ anxiety in speaking skill practice. ELT Forum: Journal of English Language Teaching, 11(1), 31–40. https://doi.org/10.15294/elt.v11i1.49533
- World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025 – Skills Outlook. World Economic Forum.
Penulis:
Dika Setiawan







