BANYAK perusahaan memiliki rencana bisnis yang penuh target, mulai dari memperluas pasar, melakukan digitalisasi, hingga meningkatkan efisiensi biaya. Namun, dalam pelaksanaannya, berbagai kendala sering muncul.
Perusahaan mungkin tidak memiliki talenta yang sesuai, kemampuan karyawan belum memenuhi kebutuhan baru, atau beban kerja meningkat tanpa persiapan yang memadai. Akibatnya, strategi yang sebelumnya terlihat baik dalam perencanaan justru mengalami hambatan ketika diterapkan.
Salah satu penyebabnya adalah perencanaan sumber daya manusia (SDM) yang masih berjalan terpisah dari perencanaan bisnis. Rencana bisnis biasanya disusun oleh manajemen dan bagian keuangan, sedangkan bagian SDM baru dilibatkan setelah keputusan ditetapkan.
Peran SDM akhirnya lebih banyak berkaitan dengan perekrutan dan administrasi karyawan. Padahal, perkembangan teknologi, persaingan mendapatkan tenaga kerja berkualitas, dan perubahan kebutuhan keterampilan membuat keterlibatan SDM sejak awal menjadi semakin penting.
Pada dasarnya, perencanaan SDM merupakan proses untuk memastikan perusahaan memiliki tenaga kerja dengan jumlah dan kompetensi yang sesuai pada waktu yang dibutuhkan. Sementara itu, perencanaan bisnis berfungsi menentukan arah, target, serta strategi perusahaan dalam menghadapi persaingan.
Oleh karena itu, keduanya seharusnya berjalan secara terintegrasi. Strategi bisnis akan menentukan kebutuhan SDM, sedangkan kemampuan dan kesiapan SDM juga menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi yang dapat diterapkan.
Dalam manajemen SDM strategis, kesesuaian antara praktik SDM dengan strategi organisasi dikenal sebagai vertical fit. Jika keselarasan ini tidak tercapai, SDM akan lebih banyak berperan sebagai fungsi pendukung daripada sebagai mitra strategis perusahaan. Menurut saya, memisahkan perencanaan SDM dari perencanaan bisnis merupakan hal yang perlu diperbaiki. Ada beberapa alasan yang mendasarinya.
Pertama, SDM merupakan bagian penting dalam menjalankan strategi. Sebagus apa pun strategi yang dibuat, pelaksanaannya tetap bergantung pada kemampuan manusia di dalam organisasi. Sebagai contoh, ketika perusahaan berencana membuka cabang baru, perusahaan juga perlu memikirkan siapa yang akan mengelola cabang tersebut dan apakah tenaga kerja yang tersedia memiliki kompetensi yang dibutuhkan.
Kedua, ketidaksesuaian antara strategi bisnis dan kesiapan SDM dapat menimbulkan biaya yang besar. Perusahaan yang tidak mempersiapkan tenaga kerja sejak awal dapat terpaksa melakukan perekrutan secara terburu-buru, mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk mendapatkan tenaga ahli, atau melakukan pengurangan karyawan ketika strategi perusahaan mengalami perubahan. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada biaya, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas dan semangat kerja karyawan.
Ketiga, bagian SDM seharusnya tidak hanya menerima keputusan dari manajemen, tetapi juga memberikan masukan dalam proses perencanaan. Informasi mengenai kompetensi karyawan, tingkat turnover, kebutuhan tenaga kerja, serta kesiapan calon penerus jabatan dapat membantu perusahaan menilai apakah suatu strategi benar-benar dapat dilaksanakan. Tanpa mempertimbangkan informasi tersebut, keputusan bisnis dapat dibuat tanpa melihat kondisi SDM secara menyeluruh.
Lalu, apa yang dapat dilakukan perusahaan? Ada beberapa langkah yang dapat diterapkan.
Pertama, pimpinan SDM perlu dilibatkan sejak tahap awal penyusunan strategi bisnis. Bagian SDM sebaiknya memiliki ruang untuk berdiskusi bersama bagian keuangan, operasional, dan pemasaran sehingga kebutuhan tenaga kerja dapat dipertimbangkan sebelum keputusan ditetapkan.
Kedua, setiap target bisnis perlu diterjemahkan ke dalam kebutuhan SDM. Misalnya, ketika perusahaan menargetkan peningkatan pendapatan sebesar 20 persen atau ingin mengembangkan layanan digital, perusahaan perlu menentukan jumlah tenaga kerja, kompetensi yang dibutuhkan, serta waktu pemenuhannya.
Ketiga, perusahaan perlu melakukan analisis kesenjangan SDM secara berkala. Kondisi SDM yang tersedia harus dibandingkan dengan kebutuhan yang muncul dari strategi perusahaan. Jika terdapat kekurangan, perusahaan dapat mengatasinya melalui pelatihan, rekrutmen, pengembangan karier, maupun rotasi karyawan. Proses tersebut juga perlu didukung oleh data SDM yang akurat agar keputusan yang diambil berdasarkan kondisi nyata, bukan sekadar perkiraan.
Keempat, perencanaan bisnis dan perencanaan SDM perlu dievaluasi secara bersama. Strategi bisnis dapat berubah karena kondisi pasar, teknologi, maupun persaingan. Ketika strategi berubah, kebutuhan SDM juga harus disesuaikan. Sebaliknya, perubahan kondisi SDM juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arah strategi perusahaan.
Pada akhirnya, rencana bisnis yang tidak mempertimbangkan kesiapan manusia sebenarnya belum dapat dikatakan sebagai rencana yang lengkap. Keberhasilan strategi tidak hanya ditentukan oleh modal, teknologi, atau target yang dibuat, tetapi juga oleh orang-orang yang menjalankannya. Karena itu, SDM perlu dilibatkan sejak awal agar tidak hanya menjadi pelaksana keputusan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam merumuskan dan menjalankan strategi perusahaan.
Penulis:
Syaira Azhara Ramadhan
Mahasiswi Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang







