TANGSELXPRESS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang memetakan delapan kecamatan yang berpotensi terdampak kekeringan selama musim kemarau. Pemetaan tersebut menjadi dasar penetapan tiga zona pengawasan untuk mempercepat penanganan apabila dampak kekeringan mulai meningkat.
Kajian hidrometeorologi yang dilakukan BPBD menunjukkan potensi kekeringan mulai meluas ke sejumlah wilayah. Karena itu, pemerintah daerah meningkatkan pengawasan terhadap ketersediaan air bersih dan risiko kebakaran di kawasan yang dinilai paling rentan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, mengatakan zona pertama yang menjadi prioritas pengawasan meliputi Kecamatan Batuceper, Neglasari, dan Cipondoh. Zona kedua mencakup Kecamatan Jatiuwung dan Cibodas, sedangkan zona ketiga meliputi Kecamatan Pinang, Ciledug, dan Karang Tengah.
“Untuk wilayah yang telah ditetapkan masuk dalam zona, menjadi prioritas untuk dipantau secara berkala. Khususnya dari kondisi ketersediaan air maupun potensi kebakaran,” ujar Mahdiar, Rabu (5/8/2026).
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota Tangerang menggandeng unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI) melalui Koramil untuk menyiapkan delapan unit mobil tangki air bersih yang siap didistribusikan apabila masyarakat mulai mengalami kesulitan memperoleh air.
Meski demikian, Mahdiar memastikan kondisi di Kota Tangerang hingga saat ini masih terkendali. Belum ada laporan maupun permintaan bantuan air bersih dari masyarakat.
“Kalau secara umum memang di Tangerang bahkan se-Banten sudah masuk musim kemarau yang berkepanjangan,” katanya.
Ia menambahkan, sejumlah daerah lain di Banten mulai menghadapi persoalan kekurangan air bersih hingga ancaman gagal panen. Namun, kondisi tersebut belum terjadi di Kota Tangerang.
“Tetapi memang di Kota Tangerang sampai saat ini alhamdulillah masih belum ada informasi dan permintaan dari masyarakat terkait bantuan air dan lain sebagainya,” ujarnya.
Sementara itu, ancaman musim kemarau mulai dirasakan sektor pertanian di Kabupaten Tangerang. Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) menyiapkan 8,9 ton benih pengganti untuk membantu petani yang berpotensi mengalami puso atau gagal panen akibat kemarau ekstrem.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengatakan ancaman puso tersebar di sejumlah wilayah berdasarkan data DPKP. Fenomena El Nino yang memicu kemarau berkepanjangan menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko gagal panen.
“Langkah-langkah yang dilakukan yakni menyiapkan 8,9 ton benih pengganti. Sebab ancaman puso telah merugikan petani,” ujar Taufik.
Ia mengungkapkan, potensi puso diperkirakan mencapai sekitar 43 hektare lahan pertanian yang tersebar di 12 kecamatan dan 24 desa di Kabupaten Tangerang.
“Potensi puso atau gagal panen itu sekitar 43 hektare, tersebar di 12 kecamatan dan 24 desa yang berada di Kabupaten Tangerang. Itu berdasarkan dari dinas pertanian,” katanya.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap bijak menggunakan air selama musim kemarau serta segera melaporkan apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Di sisi lain, petani juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kemarau berkepanjangan agar kerugian dapat diminimalkan melalui langkah mitigasi yang telah disiapkan pemerintah.







