TANGSELXPRESS – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian memasuki musim kemarau 2026. Sejumlah wilayah di Kalimantan menghadapi peningkatan risiko kebakaran, terutama ketika kondisi lahan semakin kering dan sumber api sulit dikendalikan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengingatkan periode Agustus hingga September menjadi salah satu fase yang perlu diwaspadai terkait peningkatan potensi karhutla. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah termasuk wilayah yang mendapat perhatian.
Kondisi tersebut dapat semakin kompleks ketika kekeringan bertemu dengan lahan gambut, vegetasi kering, angin, serta aktivitas manusia yang menjadi sumber awal api.
Lantas, mengapa karhutla di Kalimantan sulit dipadamkan?
Berikut lima faktor yang membuat api mudah berkembang dan proses pemadamannya membutuhkan waktu:
1. Aktivitas Manusia Menjadi Sumber Api
Dalam banyak kasus, karhutla dapat bermula dari aktivitas manusia. Salah satunya pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar.
Metode pembakaran terkadang dipilih karena dianggap lebih cepat dan murah. Namun, api dapat dengan mudah kehilangan kendali, terutama ketika kondisi lingkungan di sekitarnya kering.
Api yang awalnya berada di satu titik kemudian dapat merambat menuju semak, rumput, pepohonan, maupun lahan gambut yang memiliki material organik mudah terbakar.
Selain pembukaan lahan, sumber api juga dapat berasal dari pembakaran sampah maupun aktivitas lain yang menghasilkan bara atau api di area rawan.
2. Musim Kemarau Membuat Lahan Semakin Kering
Musim kemarau menyebabkan kelembapan tanah dan vegetasi menurun. Kondisi ini membuat daun kering, rumput, semak, serta material organik lainnya menjadi lebih mudah terbakar.
Ketika hujan tidak turun dalam waktu cukup lama, bahan-bahan tersebut berfungsi sebagai bahan bakar alami bagi api.
Semakin kering kondisi lahan, semakin mudah api menyala dan menjalar ke wilayah di sekitarnya. Inilah yang membuat risiko karhutla meningkat ketika memasuki puncak musim kemarau.
3. El Nino Memperparah Kondisi Kekeringan
Fenomena El Nino juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam peningkatan risiko karhutla.
El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena berbeda. Namun, ketika keduanya berlangsung bersamaan, kondisi kering dapat menjadi lebih parah karena curah hujan di sejumlah wilayah berpotensi menurun.
Akibatnya, kelembapan lahan berkurang dan material vegetasi menjadi lebih mudah terbakar.
Pada akhir Juli 2026, BMKG mencatat indeks Niño 3.4 berada di angka 1,56 yang telah melewati ambang kategori El Nino kuat. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian dalam mengantisipasi peningkatan risiko karhutla.
Pemerintah pun mengintensifkan berbagai upaya, termasuk operasi modifikasi cuaca, untuk membantu menjaga kelembapan di wilayah yang rawan mengalami kebakaran.
4. Api di Lahan Gambut Bisa Bertahan di Bawah Tanah
Lahan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla di Kalimantan.
Ketika gambut kehilangan banyak air dan mengalami kekeringan, material organik di dalamnya dapat berubah menjadi bahan yang mudah terbakar.
Yang membuatnya semakin sulit adalah api tidak selalu bergerak di atas permukaan. Bara dapat merambat dan bertahan di bawah tanah.
Akibatnya, kawasan yang dari permukaan terlihat sudah padam belum tentu benar-benar bebas dari bara. Api yang masih tersimpan di bawah permukaan dapat kembali muncul dan meluas ketika kondisi kembali mendukung.
Kepala BNPB Suharyanto sebelumnya menjelaskan bahwa pemadaman di lahan gambut membutuhkan pembasahan secara menyeluruh. Penanganannya dapat dilakukan secara berulang melalui pemadaman dari darat maupun operasi water bombing.
Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang menghadapi tantangan tersebut. BNPB mencatat luas lahan terdampak kebakaran di provinsi itu mencapai 3.069,52 hektare hingga akhir Juli 2026.
5. Angin Mempercepat Penyebaran Api
Angin menjadi faktor lain yang dapat membuat karhutla berkembang dengan cepat.
Ketika api bertemu vegetasi kering seperti rumput, semak, dan daun yang mudah terbakar, hembusan angin dapat membantu membawa panas dan bara menuju area lain.
Kondisi tersebut membuat api dapat bergerak lebih cepat dari titik awalnya. Semakin banyak bahan bakar kering di sekitar lokasi, semakin besar pula tantangan petugas untuk mengendalikan perluasan kebakaran.
Kombinasi antara angin kencang, vegetasi kering, dan lahan gambut membuat kebakaran yang awalnya relatif kecil dapat berkembang menjadi lebih luas.
Karena itu, deteksi titik panas dan pemadaman sedini mungkin menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.
Pencegahan Jadi Kunci
Ancaman karhutla pada musim kemarau 2026 menunjukkan bahwa pencegahan tidak kalah penting dibandingkan upaya pemadaman.
Pengendalian sumber api, pemantauan titik panas, pembasahan lahan gambut, serta kesiapsiagaan petugas perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Periode Agustus hingga September menjadi fase yang perlu mendapat perhatian lebih karena kondisi kering dapat meningkatkan potensi kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Karhutla bukan hanya persoalan api yang terlihat di permukaan. Ketika faktor manusia, kekeringan, El Nino, gambut, dan angin bertemu, kebakaran dapat berkembang jauh lebih cepat dan membutuhkan penanganan yang lebih kompleks.







