ADA sebuah pepatah yang selalu saya yakini, kesuksesan tidak pernah lahir di atas panggung. Ia lahir di balik layar, di antara keringat, doa, pengorbanan, dan orang-orang yang memilih bekerja dalam diamnya.
Begitulah kisah Rakerkonas APINDO Makassar 2026.
Sebuah perjalanan yang bagi saya tidak sekadar menghadirkan rangkaian acara nasional, tetapi juga mengajarkan arti persaudaraan, kepemimpinan, dan keikhlasan.
Cerita ini bermula pada Maret 2026.
Saat pengurus DPN APINDO meminang DPP APINDO Sulawesi Selatan untuk menjadi tuan rumah Rakerkonas APINDO 2026.
Sebuah kehormatan besar.
Sekaligus amanah yang jauh lebih besar.
Ketua DPP APINDO Sulawesi Selatan, Suhardi, tanpa ragu menjawab, “Insya Allah, kami siap.”
Padahal saat itu kami belum mengetahui sebesar apa tantangan yang akan dihadapi.
Namun keyakinan selalu mendahului kemampuan.
Beliau percaya kepada Achmadi Kamaruddin, Ketua MICE yang telah lama berkecimpung sebagai Event Organizer, dan percaya kepada seluruh keluarga besar APINDO Sulawesi Selatan yang telah terbiasa bekerja dalam tekanan, tetapi tetap menjaga keikhlasan.
Semangat kami dirangkum dalam falsafah Bugis…
“Kualleangi Tallanga Na Toalia.”
Lebih baik tenggelam daripada berbalik haluan.
Falsafah para nelayan yang memilih menghadapi ombak demi membawa rezeki pulang kepada keluarga.
Bukan karena mereka tidak takut.
Tetapi karena mereka tahu, keberanian selalu memiliki tujuan yang lebih besar daripada rasa takut.
Dengan semangat itulah Ketua DPP APINDO Sulsel bersama Ratna Anas Genda, Fitri Rahman, dan saya sendiri berdiri di hadapan Ketua Umum DPN APINDO, Shinta Kamdani, di Gedung Permata, Sekretariat APINDO Pusat, Kuningan, Jakarta.
Kami tidak hanya membawa proposal.
Kami membawa mimpi dan semangat pejuang bangsa yang dulu juga bermimpi membawa Indonesia merdeka.
Dan sejak hari itu, kapal besar bernama Rakerkonas APINDO Makassar 2026 mulai berlayar.
Gelombang pertama adalah APINDO Run Festival.
Sebuah debut yang mengajak masyarakat hidup sehat melalui olahraga. Di bawah koordinasi Razak Nurdin, yang meski baru pertama kali memimpin kegiatan sebesar ini, ia membuktikan bahwa keberanian belajar sering kali lebih berharga daripada pengalaman. Bersama Razak Lolo, Surya Budaya, Irwan, Yusanti, Irma, dan DR. Alimuddin bersama seluruh tim, mereka melayani lebih dari 800 pelari dengan penuh dedikasi. Hadiah umrah dan ratusan juta rupiah hanyalah pemanis. Yang sesungguhnya kami bagikan adalah semangat hidup sehat dan kebersamaan, walau dengan tertatih.
Gelombang berikutnya menghadirkan APINDO Golf Tournament di Padivalley Golf Club, Gowa.
Di bawah kepemimpinan Amir Bakriyadi dengan dukungan Pembina Herman Agus, turnamen ini berlangsung megah. Hadiah miliaran rupiah, sebuah rumah untuk hole in one, beberapa sepeda motor, dan berbagai hadiah lainnya menjadi daya tarik tersendiri. Namun di balik kemewahan itu, yang paling saya lihat adalah kerja keras panitia yang memastikan setiap peserta pulang membawa kesan terbaik mereka.
Kemudian lahirlah APINDO UMKM Business Expo yang dikelola Achmadi Kamaruddin bersama Andi Oci Alepuddin.
Sebuah ruang yang mempertemukan UMKM, investor, pemerintah, dan dunia usaha. Kehadiran para duta besar, Forkopimda, hingga para menteri menjadi bukti bahwa APINDO tidak hanya berbicara tentang bisnis, tetapi juga tentang membangun masa depan ekonomi Indonesia.
Lalu tibalah puncak gelombangnya…
Rakerkonas APINDO XXXV di Hotel Claro Makassar.
Forum tempat lahirnya berbagai gagasan strategis dalam menghadapi tantangan ekonomi dan fragmentasi global.
Namun di balik forum itu, saya menemukan pelajaran kepemimpinan yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah.
Saya melihat Anggiat Sinaga, Wakil Ketua APINDO Sulsel sekaligus Ketua PHRI Sulsel dan Direktur Utama Hotel Claro, turun langsung melayani tamu.
Yang paling membekas dalam ingatan saya adalah ketika beliau ikut mengantre makan siang bersama peserta lainnya.
Beliau memiliki semua alasan untuk didahulukan.
Tetapi beliau memilih menjadi bagian dari antrean.
Saat itulah saya memahami…
Pemimpin besar bukanlah mereka yang ingin dilayani. Pemimpin besar adalah mereka yang memilih melayani.
Suasana kemudian berubah hangat melalui APINDO Got Talent.
Malam yang dipenuhi tawa, lagu, dan kebersamaan seluruh keluarga besar APINDO dari 38 provinsi.
Di sana kami belajar bahwa organisasi tidak hanya dibangun melalui rapat, tetapi juga melalui rasa saling memiliki.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Sekretariat APINDO Sulawesi Selatan.
Andi Oci Alepuddin memperkenalkan sentra UMKM kepada Pimpinan DPN Bidang UMKM, Ronald Walla.
Dan akhirnya, seluruh rangkaian ditutup dengan pesona Makassar melalui pelayaran menggunakan Kapal Phinisi bersama Direktur Eksekutif DPN APINDO, Rudolf Saut, yang didampingi Razak Lolo.
Di tengah seluruh kesibukan itu, Allah juga memberi saya kesempatan menunaikan sebuah janji pribadi.
Sejak lama saya berniat menghadiahkan sebuah buku karya saya dan telah berjanji kepada Ketua Umum DPN APINDO, Shinta Kamdani.
Alhamdulillah, momen itu akhirnya tiba.
Didukung Ketua DPP APINDO Sulsel, Suhardi, serta didampingi oleh Ketua PEMBIS Indonesia, Heny Suhaeny, yang juga merupakan bagian dari keluarga besar APINDO Sulawesi Selatan, saya menyerahkan buku tersebut secara langsung kepada Ibu Shinta Kamdani.
Bagi orang lain, mungkin itu hanyalah sebuah buku.
Namun bagi saya, itu adalah janji yang akhirnya tertunaikan.
Sebab saya percaya…
Membangun organisasi adalah investasi untuk hari ini.
Sedangkan menulis buku adalah investasi pemikiran untuk masa depan.
Keduanya sama-sama meninggalkan jejak manfaat.
Di balik semua itu berdiri sebuah tim yang luar biasa.
Ada pimpinan orkestra Achmadi Kamaruddin menggerakkan seluruh kepanitiaan layaknya seorang nakhoda.
Saya mengawal publikasi dan media. Surya Budaya memimpin penjemputan tamu bersama Arief Pabbentingi dan Ahmad Shalihin. Muliadi Travel, Asbudil, dan Sekretaris Umum Andi Darwis memastikan mobilitas tamu berjalan lancar. Bahkan Irwan yang seorang pemilik sekolah dengan penuh kerendahan hati ikut menjaga goodie bag agar seluruh peserta terlayani dengan baik.
Tidak ada pekerjaan yang kecil.
Yang ada hanyalah hati yang besar untuk melayani.
Kini, ketika semuanya telah usai, saya menyadari…
Rakerkonas APINDO Makassar 2026 sesungguhnya bukan sekadar rangkaian kegiatan.
Ia adalah sebuah pelayaran panjang serasa menggunakan Kapal Phinisi.
Ada ombak ambisi.
Ada badai perbedaan.
Ada rasa lelah perjalanan.
Ada kecewa.
Ada amarah.
Ada tawa.
Ada haru.
Ada persahabatan.
Dan pada akhirnya…
Ada sebuah kebanggaan dalam warisan kenangan masa.
Sebab kami berhasil sampai di pelabuhan yang sama.
Ya! Bersama-sama dalam suka dukanya.
Karena keberhasilan tidak pernah dibangun oleh satu orang.
Ia dibangun oleh banyak hati yang memilih bekerja tanpa mencari tepuk tangan.
Dan ketika layar Phinisi akhirnya diturunkan, yang tertinggal bukan hanya kenangan tentang sebuah acara nasional.
Melainkan persaudaraan yang semakin erat, keikhlasan yang semakin dalam, serta keyakinan bahwa setiap pengabdian yang dilakukan dengan tulus akan selalu menemukan jalannya menuju keberkahan.
Terima kasih kepada seluruh panitia yang tidak sempat saya tuliskan, pengurus, sponsor, relawan, dan keluarga besar APINDO dari Sabang sampai Merauke.
Rakerkonas ini bukan milik segelintir orang. Rakerkonas ini adalah karya bersama APINDO SULSEL.
Sebab kapal sebesar apa pun tidak akan pernah berlayar tanpa seluruh awak yang mendayung ke arah yang sama.
“Pada akhirnya, yang dikenang bukanlah siapa yang paling sering berdiri di atas panggung, melainkan siapa yang paling banyak memberi arti dan makna di balik layar kapal.”
Salam
ASA | Asrul Sani Abu.
Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Humas APINDO SULSEL.







