SEBAGAI bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim mahasiswa Universitas Pamulang menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Yayasan Panti Asuhan Pembangunan Masyarakat Sejahtera.
Kegiatan bertajuk “Pengaruh Edukasi Financial Planning Sederhana terhadap Pembentukan Karakter dan Pencegahan Penyimpangan Perilaku Remaja” ini digagas oleh Nur Shabrina Mukti selaku ketua pelaksana, bersama dua anggota tim, Fauziah dan Ananda Shafa Agustina.
Kegiatan ini merupakan hasil dari proses perencanaan yang cukup panjang, mulai dari observasi lapangan, penyusunan materi, hingga koordinasi dengan pihak yayasan agar pelaksanaannya dapat berjalan lancar dan tepat sasaran.

Sasaran utama kegiatan ini adalah remaja penghuni panti yang sebentar lagi menyelesaikan pendidikan dan bersiap memasuki dunia kerja. Fase peralihan ini kerap menjadi titik rawan: penghasilan yang mulai mereka pegang sendiri, tanpa dibarengi kebiasaan mengatur uang yang baik, dapat membuka celah bagi berbagai bentuk penyimpangan perilaku.
Melihat kondisi tersebut, tim PKM memandang perlu adanya bekal pengetahuan mengenai perencanaan keuangan yang disampaikan sejak dini, sebelum remaja benar-benar terjun mencari nafkah sendiri. Pemilihan lokasi di Yayasan Panti Asuhan Pembangunan Masyarakat Sejahtera juga bukan tanpa alasan, mengingat keterbatasan pendampingan yang mereka terima terkait pengelolaan keuangan pribadi dibandingkan remaja pada umumnya yang masih tinggal bersama orang tua.
Secara garis besar, pelaksanaan kegiatan ini ditempuh melalui beberapa tahapan yang saling berkesinambungan. Tahap awal diisi dengan survei dan koordinasi bersama pihak yayasan untuk memetakan kebutuhan peserta sekaligus menentukan waktu pelaksanaan yang paling tepat.
Tahap berikutnya adalah penyusunan materi edukasi financial planning yang disesuaikan dengan bahasa dan konteks keseharian remaja panti agar mudah dipahami. Barulah pada tahap pelaksanaan, kegiatan dikemas dalam bentuk ceramah interaktif, diskusi dua arah, serta simulasi sederhana dalam memilah kebutuhan dan keinginan menggunakan contoh kasus sehari-hari. Pendekatan partisipatif semacam ini sengaja dipilih agar peserta tidak sekadar mendengarkan, tetapi juga aktif berlatih mengambil keputusan keuangan secara langsung selama sesi berlangsung.

Kegiatan dibuka dengan suasana akrab antara tim pelaksana dan peserta. Sebelum masuk ke materi inti, tim PKM lebih dahulu menyampaikan sambutan singkat kepada pengurus yayasan dan para peserta, menjelaskan latar belakang serta tujuan diselenggarakannya kegiatan ini. Setelah perkenalan singkat, presentasi bertema “Persiapan buat Kalian yang Akan Lulus dan Mulai Bekerja” ditayangkan untuk mengantar peserta memasuki pembahasan inti.
Tim PKM menegaskan bahwa financial planning atau perencanaan keuangan pada dasarnya adalah cara mengatur pemasukan dan pengeluaran secara terencana demi mencapai tujuan di masa depan. Bagi remaja, praktiknya tidak perlu rumit, cukup dimulai dari kebiasaan sederhana seperti mengelola uang jajan dengan bijak dan memilah mana yang benar-benar kebutuhan, mana yang sekadar keinginan, serta menyisakan sebagian untuk ditabung.
Penjelasan ini disampaikan dengan bahasa yang santai dan diselingi contoh-contoh keseharian, sehingga peserta yang sebagian besar masih duduk di bangku sekolah menengah dapat mengikutinya tanpa kesulitan berarti.
Salah satu pertanyaan yang mengemuka dalam sesi ini adalah mengapa topik perencanaan keuangan perlu dibahas sejak masa remaja, padahal mereka belum sepenuhnya bekerja dan menghasilkan uang sendiri.
Tim PKM menjelaskan bahwa masa sekarang adalah waktu yang tepat untuk memahami konsepnya terlebih dahulu, bukan untuk mencari uang. Ketika nanti benar-benar memasuki dunia kerja, pemahaman yang sudah tertanam ini dapat langsung diterapkan tanpa harus belajar dari nol atau dari pengalaman yang merugikan. Semakin matang karakter dan pola pikir keuangan seseorang sejak dini, semakin kecil pula peluangnya terjerumus ke arah yang keliru di kemudian hari.
Pembahasan kemudian berlanjut pada latihan membedakan kebutuhan dan keinginan, salah satu materi yang paling banyak memancing respons dari peserta. Peserta diajak mengenali bahwa kebutuhan adalah hal-hal yang benar-benar harus dipenuhi, seperti makan dan minum, kebutuhan pribadi sehari-hari, ongkos ke sekolah atau tempat kursus, hingga biaya pendidikan berupa seragam dan alat tulis. Sebaliknya, keinginan adalah halhal yang sifatnya bisa ditunda atau bahkan dikurangi, misalnya nongkrong bersama teman, membeli kuota tambahan untuk bermain gim, mengikuti tren gaya berpakaian dan aksesoris, atau jajan yang sebetulnya bukan prioritas.
Tim PKM menekankan satu prinsip sederhana: kebutuhan yang tidak dipenuhi akan mengganggu jalannya hidup, sedangkan keinginan yang ditunda pun hidup tetap bisa berjalan normal.
Bagian yang tidak kalah penting adalah mengaitkan kebiasaan mengelola uang dengan risiko penyimpangan perilaku pada remaja. Tim PKM memaparkan bahwa tanpa pengaturan keuangan yang baik, seseorang lebih mudah tergoda mengikuti pergaulan yang salah, bahkan terlibat hal-hal ilegal seperti penyalahgunaan narkoba, karena desakan kebutuhan uang secara cepat. Gaya hidup berlebihan pun menjadi lebih mudah menjerat ketika keuangan tidak terkendali. Sebaliknya, remaja yang telah dibekali edukasi keuangan memahami cara memperoleh penghasilan secara halal, mampu mengatur keuangannya agar tidak kepepet, sekaligus tumbuh rasa percaya diri tanpa harus menempuh jalan yang keliru.
Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang sesi berlangsung. Diskusi dua arah mengalir cukup hidup, beberapa peserta bahkan secara terbuka membagikan pengalaman mereka menghadapi godaan gaya hidup dari lingkungan sekitar, mulai dari ajakan teman untuk membeli barang di luar kemampuan, hingga rasa ingin diakui melalui penampilan. Tim PKM menanggapi dengan memberikan contoh-contoh praktis yang relevan dengan keseharian mereka di panti, sehingga materi terasa dekat dan mudah dicerna.
Menjelang penutup, tim PKM memaparkan dampak positif yang bisa dirasakan bila kebiasaan perencanaan keuangan sederhana ini diterapkan secara konsisten, di antaranya kehidupan yang lebih tertata, kemampuan mengelola uang dengan lebih baik, serta pola pikir yang lebih dewasa dalam menghadapi berbagai pilihan. Remaja yang terbiasa merencanakan keuangannya juga dinilai lebih siap menghadapi tantangan di masa depan, baik dari sisi ekonomi maupun sosial.
Pihak Yayasan Panti Asuhan Pembangunan Masyarakat Sejahtera menyambut baik kegiatan ini dan menilai materi yang dibawakan sangat relevan dengan kebutuhan para remaja yang tinggal di panti, terutama mereka yang akan segera lulus dan memasuki dunia kerja. Menurut pihak yayasan, edukasi semacam ini masih jarang mereka dapatkan, sehingga kehadiran tim PKM memberikan wawasan baru sekaligus bekal karakter yang dapat mereka bawa ke tahap kehidupan berikutnya.
Sebagai bentuk evaluasi, tim PKM turut menyelenggarakan sesi tanya jawab dan meminta umpan balik lisan dari peserta di akhir kegiatan untuk mengukur sejauh mana materi dapat dipahami dan diterapkan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan dengan lebih baik dibandingkan sebelum sesi berlangsung, serta menunjukkan ketertarikan untuk mulai mencatat pengeluaran sehari-hari secara sederhana.
Ke depannya, tim PKM berharap kegiatan ini dapat ditindaklanjuti melalui pendampingan berkala, misalnya dalam bentuk pelatihan lanjutan mengenai menabung dan berwirausaha kecil-kecilan, sehingga pengetahuan yang telah diberikan tidak berhenti pada satu kali pertemuan, melainkan terus dikembangkan hingga remaja benar-benar siap menghadapi kemandirian finansial di dunia kerja.
Tim PKM turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Lapangan, pihak Universitas Pamulang, serta pengurus dan seluruh penghuni Yayasan Panti Asuhan Pembangunan Masyarakat Sejahtera atas dukungan, kerja sama, dan antusiasme yang diberikan selama kegiatan berlangsung. Dukungan dari berbagai pihak tersebut menjadi kunci utama kelancaran seluruh rangkaian kegiatan pengabdian ini.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, tim PKM menyimpulkan bahwa edukasi financial planning sederhana memiliki peran penting dalam membentuk karakter remaja sekaligus mencegah penyimpangan perilaku. Dengan membiasakan pengelolaan keuangan sejak dini, remaja diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan secara bijak, terlebih menjelang masa transisi mereka memasuki dunia kerja.
Bagi tim mahasiswa sendiri, kegiatan ini menjadi wadah untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah sekaligus mempererat kepedulian terhadap masyarakat, serta diharapkan dapat menjadi langkah awal kerja sama berkelanjutan antara Universitas Pamulang dan Yayasan Panti Asuhan Pembangunan Masyarakat Sejahtera.
Penulis:
Nur Shabrina Mukti
Fauziah
Ananda Shafa Agustina
Mahasiswa Program Studi Manajemen S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang







