BANYAK orang bilang kalau masalah finansial itu sumbernya cuma satu: penghasilan yang kurang. Padahal, kalau kita perhatikan lebih dalam, masalah utamanya seringkali bukan pada nominal gajinya, melainkan pada kedisiplinan kita dalam mengelola apa yang sudah ada di tangan. Seringkali kita merasa uang selalu habis, padahal kalau ditanya habisnya buat apa, kita sendiri sering bingung menjawabnya. Inilah cerminan rendahnya literasi keuangan di kalangan kita.
Dalam perspektif Islam, mengelola keuangan jauh melampaui urusan angka-angka di atas kertas. Ada dimensi spiritual yang mendalam di dalamnya. Harta yang kita pegang adalah titipan (amanah) dari Allah SWT, dan cara kita membelanjakannya adalah bentuk pertanggungjawaban kepada Sang Pemilik Harta yang sesungguhnya. Oleh karena itu, bijak dalam berbelanja bukan hanya soal berhemat, melainkan soal menjaga amanah agar harta tersebut membawa keberkahan.
Pentingnya Literasi Keuangan di Kalangan Mahasiswa
Banyak mahasiswa terjebak dalam gaya hidup konsumtif karena belum terbiasa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan sifatnya mendesak dan menunjang kehidupan, sementara keinginan lebih sering didorong oleh ego dan pengaruh tren sosial atau Fear of Missing Out (FOMO). Tanpa pemahaman literasi keuangan yang baik, mahasiswa mudah terjerat dalam pola hidup yang tidak sehat secara finansial. Literasi keuangan di sini hadir sebagai alat navigasi agar kita tahu kapan harus menabung, di mana harus memprioritaskan dana, dan bagaimana menyiapkan masa depan agar tidak terjebak dalam kesulitan ekonomi.
Mencatat sebagai Alarm Kejujuran
Mungkin mencatat pengeluaran harian terdengar membosankan atau ribet. Namun, percaya deh, mencatat adalah instrumen kontrol paling jujur buat diri sendiri. Bahkan, dalam QS. Al-Baqarah ayat 282, Allah SWT secara eksplisit menganjurkan kita untuk mencatat transaksi keuangan dengan tertib. Meskipun ayat ini turun dalam konteks utang-piutang, prinsip “ketertiban” di dalamnya sangat relevan untuk diaplikasikan dalam pembukuan pribadi. Dengan catatan yang rapi, kita bisa melihat pola ke mana uang kita “menguap” setiap bulannya.
Untuk memulainya, kita bisa menerapkan konsep “Tangga Ternak Uang”:
- Ikhtiar: Bekerja atau berikhtiar mendapatkan rezeki yang halal.
- Proteksi: Menabung untuk dana darurat atau kebutuhan masa depan.
- Manajemen: Menyusun anggaran dengan disiplin.
- Keberkahan: Menyisihkan sebagian harta untuk berbagi (sedekah/infak) sebagai bentuk rasa syukur.
Rumus Sederhana untuk Mulai Mengelola
Bagi yang bingung memulai, coba gunakan rumus 50-30-20 yang sudah disesuaikan dengan nilai-nilai kehidupan kita:
- 50% untuk Kebutuhan Pokok: Biaya makan, transportasi, kos, dan kebutuhan kuliah. Ini adalah pos yang sifatnya wajib dan tidak bisa ditunda.
- 30% untuk Keinginan: Ini adalah pos untuk menikmati hidup, seperti healing, ngopi, atau hobi. Namun, kuncinya ada pada kedisiplinan; jika jatah 30% ini habis, maka kita harus menunda keinginan tersebut sampai bulan depan.
- 20% untuk Menabung & Berbagi: Jangan menunggu sisa baru menabung. Sisihkan 20% ini di awal. Dalam porsi inilah kita sisipkan sedekah. Berbagi justru akan “menyucikan” harta kita dan menghadirkan rasa tenang yang tidak bisa dibeli dengan barang mewah.
Ingat, ketenangan hati bukan datang dari kemewahan, melainkan dari rasa cukup atau qana’ah atas apa yang kita miliki.
Langkah Nyata dan Harapan ke Depan
Tujuan dari semua edukasi ini simpel saja: supaya kita nggak lagi pusing di akhir bulan. Ketika kita bisa mengelola harta dengan ilmu, insyaAllah hasilnya bukan cuma dompet yang aman, tapi hati juga jadi lebih tenang.
Gagasan ini kami susun sebagai bentuk kontribusi nyata, yang beranggotakan saya sendiri Muhammad Herdiansyah, bersama rekan-rekan saya Jonathan Gunawan, Kayla Min Khoirunnisa, dan Al Rizky Alya Rahmah. Lewat program ini, kami ingin mengajak siapa pun—terutama sesama mahasiswa—untuk tidak lagi menganggap pembukuan sebagai hal yang membosankan. Kami percaya bahwa dengan ilmu dan iman, setiap mahasiswa mampu mengubah pola konsumsinya menjadi lebih terarah, disiplin, dan pastinya mendatangkan keberkahan bagi kehidupan sehari-hari. Mari jadikan pembukuan sebagai langkah awal menuju masa depan yang lebih tertata dan bermanfaat.
Penulis:
Muhammad Herdiansyah
Jonathan Gunawan
Kayla Min Khoirunnisa
Al Rizky Alya Rahmah
Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang







