JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 17 Juni. Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah sikap wait and see pelaku pasar menjelang pengumuman kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 23 poin atau 0,13 persen ke level Rp17.748 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat turun tipis 0,03 persen ke posisi 99,509. Pada awal perdagangan, rupiah sempat dibuka melemah 11 poin atau 0,06 persen ke level Rp17.736 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen global, terutama menjelang keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan dalam waktu dekat di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak melemah di kisaran Rp 17.720 hingga Rp 17.800 per dolar AS. Faktor utamanya adalah antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan malam ini,” ujar Rully di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada langkah Bank Indonesia (BI) dalam menentukan arah kebijakan moneter setelah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,5 persen pada pekan lalu.
Menurut Rully, BI diperkirakan masih akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (18/6/2026). Keputusan tersebut dinilai sejalan dengan kondisi geopolitik yang mulai membaik serta prospek penguatan rupiah yang masih terbuka.
“Dari sisi domestik, BI diperkirakan menahan suku bunga acuan pada RDG besok. Di sisi lain, tekanan geopolitik yang mulai berkurang dan prospek rupiah yang masih positif menjadi faktor pendukung stabilitas nilai tukar,” katanya.
Selain faktor moneter, pasar juga menilai positif langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal, termasuk evaluasi terhadap anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Rully menambahkan, peluang penguatan rupiah masih cukup besar dalam beberapa hari ke depan apabila hasil rapat The Fed menunjukkan sinyal yang lebih akomodatif terhadap tren inflasi yang mulai menurun.
Penurunan harga minyak dunia akibat meredanya ketegangan geopolitik dinilai turut membantu menekan inflasi jangka pendek di Amerika Serikat. Kondisi tersebut berpotensi membuka ruang bagi bank sentral AS untuk mulai mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter.
Selain itu, kekuatan ekonomi AS yang masih terjaga dinilai memberi fleksibilitas bagi The Fed untuk memangkas suku bunga setidaknya satu kali pada tahun ini.
“Rupiah masih memiliki ruang penguatan pada perdagangan besok maupun sepanjang pekan ini apabila hasil pertemuan The Fed mengakomodasi tren penurunan inflasi jangka pendek dan mempertimbangkan peluang penurunan suku bunga satu kali pada tahun ini,” ujar Rully.







