BERDIRI di depan puluhan siswa SMP Islamiyah Serua, kami sempat was-was. Bukan karena tidak siap, tapi karena kami tahu betul bahwa kata “akuntansi” sering kali langsung membuat siswa mengerutkan dahi. Tapi justru di situlah tantangan yang kami jadikan titik tolak kegiatan Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat (PMKM) ini.
Kami yang beranggotakan Fauzan Achmad Fadila dan Abiyyu Rifqi Kusuma (sebagai pemateri), serta Alika Oktafitriyani dan Julia Artika Segara (sebagai moderator) dari Program Studi Sarjana Akuntansi Universitas Pamulang, melaksanakan kegiatan PMKM dengan tema “Pengenalan Dasar-dasar Akuntansi Bagi Siswa SMP Sebagai Bekal Pemilihan Jurusan.” Kegiatan ini lahir dari keresahan yang kami rasakan sendiri: banyak siswa SMP yang akhirnya salah pilih jurusan di SMK karena tidak pernah benar-benar diperkenalkan dengan isi dari jurusan yang mereka hindari, salah satunya akuntansi.
Di awal sesi, Fauzan Achmad Fadila membuka materi dengan pertanyaan yang cukup mengagetkan para siswa. Ia bertanya kepada seluruh peserta, berapa uang jajan yang mereka bawa hari itu, sudah dipakai untuk apa saja, dan berapa sisanya sekarang. Hampir semua siswa bisa menjawab.
“Nah, tadi kalian semua bisa hitung kan? Itu namanya akuntansi. Kalian udah praktik akuntansi dari tadi pagi tanpa sadar,” ujar Fauzan sambil tersenyum ke arah para siswa yang mulai tampak penasaran.
Cara membuka materi seperti itu ternyata ampuh mencairkan suasana. Para siswa yang tadinya duduk pasif mulai ikut berhitung, beberapa bahkan spontan mengeluarkan dompet mereka. Dari situlah Fauzan mulai memperkenalkan istilah-istilah dasar akuntansi: pemasukan sebagai semua uang yang diterima, pengeluaran sebagai uang yang digunakan, saldo sebagai jumlah yang tersisa, serta laba dan rugi dalam konteks berjualan sederhana.
Fauzan juga menegaskan bahwa stigma “akuntansi itu susah” selama ini lebih banyak lahir dari ketidaktahuan, bukan dari pengalaman langsung.
“Banyak yang takut sama akuntansi karena bayangannya langsung ke rumus yang ribet. Padahal dasarnya cuma satu: uang masuk dikurangi uang keluar, sisanya itu saldo kamu. Sesederhana itu,” jelasnya.
Sesi berikutnya diisi oleh Abiyyu Rifqi Kusuma yang membawakan simulasi praktik mandiri. Ia mengajak siswa mengerjakan tiga skenario langsung: mencatat jajan harian, menghitung laba dari jualan es mambo, dan menebak kondisi keuangan dari sebuah usaha kecil. Suasana semakin hidup ketika Abiyyu mengajak satu siswa maju ke depan untuk menghitung secara langsung di hadapan teman-temannya.
“Coba bayangkan kamu jualan es mambo. Modal kamu Rp10.000, terus kamu jual 8 bungkus dengan harga Rp2.000 per bungkus. Berarti kamu dapat berapa? Rp16.000. Nah, Rp16.000 dikurangi modal Rp10.000, laba kamu Rp6.000. Gampang kan?” kata Abiyyu sambil menggambar bagan sederhana di papan tulis.
Tak berhenti di situ, Abiyyu juga menjelaskan konsep rugi dengan cara yang tidak menakutkan. Ia menggambarkan skenario di mana modal yang dikeluarkan lebih besar dari hasil penjualan, lalu mengajak siswa berdiskusi tentang apa yang bisa dilakukan untuk menghindari kondisi tersebut.
“Rugi itu bukan berarti gagal selamanya. Justru dengan belajar akuntansi, kita bisa tahu di mana letak kesalahannya dan gimana cara memperbaikinya. Makanya penting banget belajar ini dari sekarang,” ujar Abiyyu kepada para peserta.
Antusiasme siswa terlihat dari sesi tanya jawab yang berlangsung lebih panjang dari yang kami rencanakan. Banyak pertanyaan yang masuk, mulai dari perbedaan antara pemasukan dan laba, hingga pertanyaan yang lebih jauh tentang seperti apa kuliah di jurusan akuntansi dan pekerjaan apa saja yang bisa dituju setelahnya. Kami menjawab semua pertanyaan dengan senang hati, karena justru itu yang kami harapkan: rasa penasaran yang mulai tumbuh.
Kegiatan ini tentu tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Kami mengucapkan terima kasih kepada Dr. H. Suripto, S.E., M.Ak. selaku Kaprodi Akuntansi UNPAM, dosen pembimbing kami Rananda Septanta, S.E., M.Ak., serta Bapak Murtado, S.Pd., M.M., M.Pd. selaku pihak mitra dari SMP Islamiyah Serua yang menyambut kami dengan sangat baik.
Kami pulang dari SMP Islamiyah Serua dengan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin ini yang disebut makna dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, ilmu yang dipelajari di bangku kuliah terasa jauh lebih hidup ketika dibagikan langsung kepada mereka yang membutuhkan. Kami berharap, setidaknya satu dari sekian banyak siswa yang hadir hari itu mulai memandang akuntansi dengan cara yang berbeda: bukan sebagai beban, melainkan sebagai alat untuk merencanakan masa depan mereka sendiri.
Penulis:
Fauzan Achmad Fadila
Jurusan S1 Akuntansi Semester: 2
Universitas Pamulang







