JAKARTA – Jalur komunikasi terkait penahanan relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di Israel disebut dilakukan melalui berbagai pihak, mulai dari tim pusat flotilla, Global Peace Corps Indonesia (GPCI), hingga tim kuasa hukum internasional.
Wakil Pemimpin Redaksi Republika, Stevy Maradona, menjelaskan komunikasi dengan keluarga relawan sebenarnya telah dipersiapkan sejak sebelum keberangkatan misi berlangsung. Menurutnya, keluarga relawan juga sudah menerima prosedur tetap (SOP) terkait mekanisme penyampaian informasi apabila terjadi situasi darurat, termasuk penangkapan oleh otoritas Israel.
“Memang sudah ada tim yang mengurus komunikasi ke keluarga dari tim pusat,” ujar Stevy saat berbincang dalam siniar “Meja Redaksi” B-Universe, Rabu, 20 Mei. Dilansir dari http://beritasatu.com
Selain itu, GPCI sebagai pihak yang mengoordinasikan keberangkatan relawan Indonesia ke Turki juga membentuk tim komunikasi khusus. Informasi terbaru mengenai kondisi para relawan disebut diperoleh melalui jaringan media dan organisasi Global Sumud Flotilla.
Di sisi lain, tim hukum internasional juga telah disiapkan untuk mendampingi seluruh aktivis yang ditahan Israel, bukan hanya relawan asal Indonesia. Pendampingan hukum tersebut bahkan sudah dipersiapkan sejak sebelum pelayaran dimulai.
Menurut Stevy, para relawan sebelumnya telah mendapatkan pelatihan mengenai prosedur yang kemungkinan terjadi ketika kapal diintersep militer Israel, termasuk mekanisme pengiriman pesan terakhir hingga proses hukum setelah penahanan.
“Global Sumud Flotilla sudah bekerja sama dengan tim hukum Global Sumud Flotilla dan menempatkan tim di beberapa negara seperti Turki, Yordania, Mesir, dan Israel,” katanya.
Berdasarkan pengalaman misi sebelumnya, relawan yang ditangkap biasanya dipindahkan dari kapal menuju pelabuhan untuk menjalani pemeriksaan identitas dan tujuan keberangkatan. Setelah itu, otoritas Israel akan menentukan apakah mereka dideportasi atau ditahan lebih lama.
Dalam sejumlah kasus terdahulu, beberapa relawan internasional diketahui sempat ditahan selama beberapa hari sebelum akhirnya dipulangkan ke negara asal masing-masing.
Keterlibatan jurnalis dan relawan Indonesia dalam misi tersebut bermula dari undangan langsung Global Flotilla Coalition dan GPCI sejak akhir tahun lalu untuk meliput pengiriman bantuan kemanusiaan menuju Gaza.







