TANGERANG SELATAN – Saat cuaca panas, segelas air dingin kerap menjadi pilihan untuk menyegarkan tubuh. Namun, masih banyak anggapan bahwa minum air dingin bisa berdampak buruk bagi kesehatan, terutama sistem pencernaan. Lalu, bagaimana pandangan medis soal hal ini?
Para ahli gastroenterologi menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan suhu air tertentu lebih baik dibanding suhu lainnya. Yang paling penting justru adalah memastikan tubuh tetap mendapatkan asupan cairan yang cukup setiap hari.
Dokter Louise Wang dari Yale School of Medicine menjelaskan bahwa belum ada bukti pasti yang menyatakan suhu air minum memiliki pengaruh khusus terhadap kesehatan tubuh.
Menurutnya, faktor utama yang harus diperhatikan bukan suhu air, melainkan kecukupan cairan harian untuk menjaga fungsi tubuh tetap optimal.
Senada dengan itu, David Leiman dari Duke University menyebut hidrasi jauh lebih penting daripada memperdebatkan suhu air yang dikonsumsi.
Air berperan penting dalam mengangkut nutrisi, melumasi sendi, membantu proses pencernaan, hingga membuang limbah dari tubuh. Jika tubuh kekurangan cairan, berbagai fungsi tersebut bisa terganggu.
Kekhawatiran bahwa air dingin dapat “mengagetkan” organ dalam ternyata juga tidak sepenuhnya benar. Tubuh memiliki sistem pengaturan suhu yang bekerja cepat untuk menyesuaikan suhu cairan yang masuk.
Dr. Leiman menjelaskan bahwa air dingin akan mulai menghangat sejak melewati kerongkongan hingga masuk ke lambung, dan dalam beberapa menit suhunya akan mendekati suhu inti tubuh, sekitar 37 derajat Celsius.
Sementara itu, Victor Chedid dari Mayo Clinic menegaskan hingga saat ini tidak ada panduan klinis khusus yang merekomendasikan suhu tertentu untuk kesehatan pencernaan atau usus.
Selain soal pencernaan, mitos lain yang masih sering dipercaya adalah anggapan bahwa minum air dingin dapat memicu pilek, batuk, atau demam.
Faktanya, pilek bukan disebabkan oleh air dingin, melainkan infeksi virus. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, penyebab paling umum pilek adalah rhinovirus, yang dapat memicu gejala seperti hidung tersumbat, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri tubuh ringan, hingga demam.
Aktivitas rhinovirus sendiri cenderung meningkat pada musim tertentu, terutama awal musim gugur dan musim semi, bukan karena kebiasaan minum air dingin.
Meski demikian, bagi sebagian orang yang sedang pilek, minuman hangat bisa terasa lebih nyaman karena membantu meredakan iritasi tenggorokan dan melegakan hidung tersumbat.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan suhu air yang diminum, melainkan memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik, terutama saat cuaca panas. Salah satu tanda sederhana tubuh cukup cairan adalah tidak merasa haus dan warna urine yang cenderung kuning pucat, bukan gelap.







