TANGERANG SELATAN – Kesehatan mental memiliki peran yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik, namun kerap terabaikan. Padahal, tekanan emosional yang terus dibiarkan dapat berkembang menjadi stres dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, menjelaskan bahwa emosi dan stres merupakan dua hal yang berbeda, meski saling berkaitan. Menurutnya, stres muncul ketika seseorang merasa kewalahan menghadapi situasi, seolah tuntutan yang dihadapi melebihi kemampuan diri.
“Kondisi stres pada seseorang adalah ketika ia merasa terbebani dan kewalahan menghadapi situasi yang ada di depannya,” jelas Teresa dikutip Kamis, 16 April.
Ia menambahkan, stres tidak mudah hilang hanya dengan distraksi sederhana. Berbeda dengan rasa bosan atau jenuh yang bisa mereda setelah beristirahat atau melakukan aktivitas menyenangkan, stres cenderung bertahan lebih lama.
Selain itu, stres juga bersifat subjektif. Situasi yang sama bisa ditanggapi berbeda oleh setiap orang—ada yang menganggapnya biasa saja, sementara yang lain bisa merasa sangat tertekan.
Sementara itu, emosi merupakan respons perasaan yang lebih spesifik, seperti sedih, marah, atau bahagia. Misalnya, seseorang yang mengalami putus cinta wajar merasa sedih sebagai bentuk respons terhadap kehilangan.
Namun, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi stres jika perasaan itu membuat seseorang kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, terus-menerus memikirkan masa depan, atau merasa tidak memiliki dukungan.
“Jadi sederhananya, sedih adalah perasaannya, sedangkan stres adalah kondisi ketika seseorang merasa terbebani dan kewalahan menghadapi situasi tersebut,” tambahnya.
Dalam mendampingi orang yang sedang mengalami stres, Teresa menekankan pentingnya empati. Ia menyarankan untuk tidak langsung memberi solusi, melainkan hadir dan mendengarkan tanpa menghakimi.
“Kita bisa mulai dengan hadir dan mendengarkan tanpa menghakimi. Misalnya dengan mengatakan ‘Kelihatannya lagi banyak ya yang dipikirin’ atau ‘Aku di sini kalau kamu mau cerita’. Kalimat sederhana seperti ini seringkali sudah sangat membantu,” tuturnya.







