TANGERANG SELATAN – Hormon kortisol sering disebut sebagai hormon stres karena berperan dalam membantu tubuh merespons tekanan, baik secara fisik maupun emosional. Dalam kadar yang normal, hormon ini memiliki fungsi penting, mulai dari mengatur metabolisme, menjaga tekanan darah, hingga mendukung sistem kekebalan tubuh.
Namun tanpa disadari, sejumlah kebiasaan sehari-hari justru dapat memicu peningkatan hormon kortisol. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini bisa memengaruhi keseimbangan tubuh dan kesehatan secara keseluruhan. Karena itu, penting untuk mengetahui kebiasaan apa saja yang dapat memicu naiknya hormon stres tersebut.
1. Tidak sarapan atau terlalu lama menunda makan
Melewatkan sarapan kerap dianggap hal biasa. Padahal, kebiasaan ini bisa memicu peningkatan hormon kortisol. Setelah berpuasa semalaman, tubuh memerlukan asupan energi. Ketika makanan tidak segera masuk, tubuh menganggapnya sebagai bentuk tekanan atau stres.
Para ahli endokrinologi yang dikutip dari Health menjelaskan bahwa dalam kondisi tersebut tubuh akan meningkatkan produksi kortisol untuk menjaga kadar gula darah dan energi tetap stabil. Akibatnya, kebiasaan tidak sarapan bisa membuat tubuh berada dalam kondisi stres ringan sepanjang hari.
2. Diet yang terlalu ketat
Pola diet dengan pembatasan kalori yang terlalu ekstrem juga dapat memicu produksi hormon stres. Tubuh membutuhkan energi yang cukup agar berbagai proses biologis berjalan normal.
Jika asupan kalori terlalu sedikit, tubuh menganggapnya sebagai ancaman terhadap ketersediaan energi. Respons yang muncul adalah aktivasi sistem stres, sehingga produksi hormon kortisol meningkat untuk membantu tubuh mempertahankan cadangan energi.
3. Olahraga terlalu berat tanpa istirahat cukup
Berolahraga memang memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Namun, latihan dengan intensitas terlalu tinggi tanpa waktu pemulihan yang cukup justru dapat meningkatkan hormon kortisol.
Aktivitas fisik berat dianggap sebagai bentuk stres bagi tubuh, sehingga hormon stres dilepaskan sebagai respons alami. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Endocrinological Investigation pada 2012 menunjukkan bahwa olahraga intens dalam waktu lama dapat meningkatkan kadar kortisol. Tanpa pemulihan yang memadai, tubuh bisa menjadi lebih mudah lelah dan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
4. Peradangan dalam tubuh
Peradangan kronis juga dapat berkaitan dengan tingginya kadar kortisol. Ketika tubuh mengalami inflamasi, sistem kekebalan bekerja lebih aktif untuk melawannya.
Dalam proses tersebut, hormon kortisol dilepaskan untuk membantu mengendalikan respons peradangan. Namun jika inflamasi berlangsung dalam jangka panjang, kadar hormon ini bisa tetap tinggi dan berdampak pada kondisi kesehatan secara keseluruhan.
5. Kecemasan yang berlangsung lama
Rasa cemas yang berkepanjangan dapat membuat sistem stres tubuh terus aktif. Saat seseorang merasa khawatir atau tertekan, otak mengirimkan sinyal ke kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon kortisol.
Penelitian dari Harvard Medical School menyebutkan bahwa stres psikologis yang berlangsung lama dapat mempertahankan kadar kortisol pada tingkat tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas tidur, tingkat energi, hingga kesehatan mental.
6. Kebiasaan selalu terburu-buru
Sering merasa dikejar waktu atau terbiasa melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru juga bisa memicu peningkatan hormon kortisol. Kondisi ini membuat tubuh terus berada dalam keadaan siaga seolah menghadapi ancaman.
Walaupun terlihat sepele, stres kecil yang terjadi berulang dapat mengaktifkan respons “fight or flight”. Jika terjadi terus-menerus, tubuh akan memproduksi hormon kortisol lebih tinggi dari yang dibutuhkan.







