TANGERANG SELATAN – Kebiasaan duduk dalam waktu lama selama ini memang dikenal berdampak buruk bagi kesehatan. Namun, banyak orang percaya bahwa rutin berolahraga bisa sepenuhnya “menebus” efek negatif tersebut. Sayangnya, temuan terbaru justru menunjukkan hal sebaliknya.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology mengungkap bahwa aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat sesuai rekomendasi mingguan belum tentu mampu menghilangkan seluruh risiko kardiovaskular akibat terlalu lama duduk.
Penelitian ini menganalisis data lebih dari 89.500 peserta dalam studi kesehatan jangka panjang UK Biobank. Para peneliti memantau aktivitas harian peserta, termasuk durasi duduk dan tingkat aktivitas fisik, lalu menelusuri dampaknya hingga hampir satu dekade.
Hasilnya menunjukkan bahwa semakin lama seseorang duduk, semakin tinggi pula risiko mengalami gangguan seperti fibrilasi atrium, serangan jantung, gagal jantung, hingga kematian akibat penyakit kardiovaskular. Bahkan, mereka yang duduk lebih dari 10,6 jam per hari (di luar waktu tidur) memiliki risiko hingga 60 persen lebih tinggi mengalami gagal jantung atau meninggal karena penyakit jantung.
Meski begitu, olahraga tetap memberikan manfaat. Risiko fibrilasi atrium dan serangan jantung dapat ditekan jika seseorang tetap aktif berolahraga setidaknya 150 menit per minggu. Namun, untuk risiko gagal jantung dan kematian kardiovaskular, olahraga saja belum cukup jika sebagian besar waktu dihabiskan dengan duduk.
Karena itu, para ahli menekankan pentingnya menambahkan aktivitas ringan di sela-sela waktu duduk. Organisasi seperti American Heart Association juga menyarankan masyarakat untuk mengurangi durasi duduk demi menjaga kesehatan jantung.
Ahli jantung Rigved Tadwalkar menjelaskan bahwa kurangnya gerakan dapat memperlambat sirkulasi darah, melemahkan otot jantung, serta meningkatkan risiko kenaikan berat badan, tekanan darah tinggi, dan resistensi insulin. Bahkan, peradangan dalam tubuh juga bisa meningkat akibat terlalu lama tidak bergerak.
Ia menegaskan, orang yang rutin berolahraga pun tetap berisiko jika sebagian besar harinya dihabiskan dengan duduk.
Senada dengan itu, Ragavendra Baliga menyarankan untuk membatasi waktu duduk di bawah 10,6 jam per hari sebagai langkah awal menjaga kesehatan jantung. Sementara Christopher Berg menekankan pentingnya tetap aktif sepanjang hari, tidak hanya saat berolahraga.
Cara sederhana seperti lebih sering berdiri, berjalan sejenak di sela aktivitas, menggunakan tangga, hingga melakukan gerakan ringan bisa membantu mengurangi dampak duduk terlalu lama. Intinya, menjaga tubuh tetap bergerak sepanjang hari menjadi kunci penting untuk melindungi kesehatan jantung.







