DEPOK – Bau kematian itu seharusnya tidak pernah sampai ke hidung siapa pun. Di sebuah rumah di kawasan Perumahan Primavera, Kelapanunggal, Depok, tubuh seorang perempuan perlahan kehilangan bentuknya, mengering dalam kesunyian waktu.
Namun sebelum bau pembusukan itu keluar dari ruangan sempit tempat tubuhnya terbaring, seseorang telah lebih dulu menaburkan bubuk kopi—bukan untuk membuat minuman hangat, tetapi untuk menutupi jejak kematian.
Perempuan itu berinisial DH, berusia 55 tahun. Dia adalah istri siri dari seorang pria berinisial ARH, 44 tahun. Hubungan yang semula dibangun dalam ikatan yang mereka sebut pernikahan, pada akhirnya berakhir tragis. Tubuh DH ditemukan dalam kondisi mengering setelah berbulan-bulan kematiannya tersembunyi.
Kasus ini diungkap oleh Polda Metro Jaya. Aparat kepolisian menyebut pembunuhan tersebut tidak hanya brutal, tetapi juga dilakukan dengan cara-cara yang berusaha menipu orang-orang terdekat korban.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Iman Imanuddin mengatakan, tersangka bahkan berupaya menutupi bau mayat yang membusuk dengan bubuk kopi.
“Kopi yang ditemukan di TKP memang ditaburkan oleh tersangka untuk mengelabui atau menutupi bau yang ditimbulkan akibat pembusukan mayat,” kata dia di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Cara itu bukan kebetulan. Tersangka mengetahui trik tersebut dari pergaulannya dengan rekan-rekan di tempat pelelangan ikan. Dari sana, dia belajar bahwa aroma kopi bisa membantu menekan bau menyengat.
Namun yang paling memilukan bukan hanya cara tersangka menyembunyikan tubuh korban. Yang membuat tragedi ini terasa semakin sunyi adalah bagaimana korban seolah masih “hidup” di mata keluarganya, bahkan setelah kematiannya.
Dalam banyak kasus orang hilang, keluarga biasanya menjadi pihak pertama yang merasa ada sesuatu yang janggal. Tetapi dalam kasus DH, kecurigaan itu tertunda lama.
Alasannya sederhana sekaligus mengerikan: ponsel korban berada di tangan pelaku.
Menurut polisi, tersangka menguasai telepon genggam milik korban setelah kematian itu terjadi. Dengan perangkat itu, dia membalas pesan, berkomunikasi dengan orang-orang terdekat korban, dan berpura-pura menjadi DH.
Pesan-pesan singkat itu membuat keluarga percaya bahwa perempuan itu masih baik-baik saja.
“Handphone milik korban dikuasai oleh tersangka, dan tersangka melakukan komunikasi dengan orang-orang yang berkaitan dengan korban seolah-olah dirinya adalah korban,” kata Iman.
Seolah-olah DH masih hidup. Seolah-olah dia masih menjawab pesan. Seolah-olah semuanya normal.
Padahal tubuhnya telah lama terbaring tanpa suara di dalam rumah.
Kisah ini bermula jauh sebelum tubuh DH ditemukan. Polisi menyebut hubungan antara korban dan tersangka dimulai dengan pernikahan siri pada 31 Desember 2024.
Sejak saat itu, keduanya tinggal bersama di rumah di Perumahan Primavera, Kelapanunggal, Depok.
Kasubdit Reserse Mobile (Resmob) Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Resa Fiardi Marasabessy, menjelaskan bahwa kehidupan rumah tangga mereka tidak selalu berjalan mulus.
“Korban dan tersangka menikah siri pada 31 Desember 2024 dan tinggal bersama hingga April 2025,” kata dia.
Waktu berjalan, hubungan mereka mulai dipenuhi pertengkaran. Ketegangan itu memuncak pada pertengahan Oktober 2025.
Pada hari itu, emosi meledak.
Korban dikabarkan berteriak dan mengusir tersangka dari rumah. Situasi menjadi kacau. Suara teriakan memenuhi ruangan.
Menurut penyelidikan polisi, tersangka yang emosi langsung menutup mulut korban dengan tangan kanannya.
Namun DH melawan.
Perempuan itu mencakar, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman.
Perlawanan itu rupanya semakin membuat pelaku kehilangan kendali.
Tersangka kemudian mencekik korban menggunakan tangan kirinya hingga tubuh korban melemah.
Namun kekerasan itu tidak berhenti di situ.
Setelah korban tak berdaya, tersangka mengambil tali rafia. Tali itu dililitkan ke leher korban.
Perempuan berusia 55 tahun itu akhirnya benar-benar tak bergerak. Namun bahkan setelah itu, pelaku tidak segera meninggalkan tempat.
Menurut keterangan polisi, dia menunggu. Selama hampir satu jam. “Selanjutnya, tersangka menunggu kurang lebih satu jam sambil melihat kondisi korban,” kata Resa.
Satu jam di mana hidup seseorang telah berhenti, sementara orang yang mengakhiri hidup itu masih berada di ruangan yang sama.
Setelah itu, tubuh korban dibiarkan. Hari berganti hari. Waktu berjalan. Dan kopi ditaburkan.
Di luar rumah, kehidupan berjalan seperti biasa. Orang-orang bekerja, berbelanja, bercakap-cakap, tertawa. Tak ada yang tahu bahwa di dalam sebuah rumah, sebuah tragedi disimpan begitu lama.
Polisi akhirnya mengungkap kasus tersebut setelah jasad korban ditemukan dalam kondisi mengering.
Penemuan itu mengakhiri misteri panjang tentang keberadaan DH.
Namun bagi keluarga, jawaban yang datang justru membawa luka baru. Bukan hanya kehilangan seseorang yang mereka kenal, tetapi juga mengetahui bahwa selama ini mereka sempat berkomunikasi dengan pesan yang bukan ditulis oleh korban.
Pesan-pesan yang terasa hidup. Padahal orangnya sudah tiada.
Kasus ini meninggalkan banyak pertanyaan tentang kekerasan dalam hubungan pribadi, tentang bagaimana emosi sesaat bisa berubah menjadi tragedi yang tak bisa diperbaiki.
Di balik laporan polisi, kronologi, dan barang bukti, ada sebuah kenyataan yang tak bisa disangkal: seorang perempuan kehilangan hidupnya di tangan orang yang pernah dia terima sebagai pasangan.
Kini rumah itu menjadi tempat penyelidikan.
Dan cerita tentang bubuk kopi yang menutupi bau kematian menjadi pengingat pahit tentang betapa sunyinya tragedi ini terjadi.







