PERKEMBANGAN teknologi digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pelajar. Hampir semua aktivitas, mulai dari belajar, berkomunikasi, hingga mencari hiburan, tidak lepas dari smartphone dan internet. Media sosial, game online, dan berbagai aplikasi digital memang memberi banyak kemudahan. Namun, di balik semua manfaat tersebut, ada dampak yang sering luput diperhatikan, yaitu pengaruhnya terhadap kesehatan mental.
Banyak pelajar yang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. Mereka terus terhubung dengan dunia digital, tetapi justru merasa lelah, mudah stres, dan sulit fokus. Kondisi inilah yang menunjukkan bahwa penggunaan teknologi perlu diimbangi dengan pemahaman tentang digital wellbeing agar tidak berdampak buruk bagi pikiran dan perasaan.
Memahami Sehat Mental di Dunia Digital
Sehat mental di dunia digital bukan berarti harus menjauh dari teknologi. Justru, sehat mental berarti mampu menggunakan teknologi dengan cara yang tepat tanpa merasa tertekan atau kehilangan kendali. Seseorang yang sehat secara mental di era digital mampu mengatur emosinya, tidak mudah cemas karena media sosial, serta tahu kapan harus berhenti dari aktivitas digital.
Di dunia digital, pelajar sering dihadapkan pada berbagai tekanan. Melihat unggahan orang lain yang terlihat lebih sukses atau bahagia bisa menimbulkan rasa minder. Komentar negatif di media sosial juga bisa memengaruhi kepercayaan diri. Belum lagi kebiasaan scrolling tanpa batas yang membuat pikiran terasa penuh dan lelah. Jika hal ini dibiarkan, kondisi mental pelajar bisa terganggu tanpa disadari.
Karena itu, sehat mental di dunia digital juga berkaitan dengan kemampuan menyaring informasi, memilih konten yang bermanfaat, dan mengatur waktu penggunaan gadget. Teknologi seharusnya membantu pelajar berkembang, bukan membuat mereka merasa tertekan.
Tantangan Digital Apa yang Dihadapi Pelajar
Pelajar saat ini hidup di lingkungan digital yang sangat aktif. Informasi datang dari berbagai arah, notifikasi terus berbunyi, dan tuntutan untuk selalu online seolah tidak ada habisnya. Situasi ini membuat banyak pelajar sulit beristirahat secara mental.
Beberapa masalah yang sering muncul antara lain kecanduan gadget, sulit tidur, mudah emosi, dan menurunnya konsentrasi belajar. Selain itu, interaksi sosial secara langsung mulai berkurang karena lebih banyak dilakukan lewat layar. Padahal, hubungan nyata dengan keluarga dan teman tetap penting untuk menjaga kesehatan mental.
Jika pelajar tidak dibekali pemahaman yang cukup, dunia digital bisa berubah menjadi sumber stres. Inilah alasan mengapa edukasi digital wellbeing sangat dibutuhkan, terutama di lingkungan sekolah.
Pendekatan Kegiatan yang Mudah Dipahami dengan Siswa
Dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini, pendekatan yang digunakan adalah edukatif dan partisipatif. Pendekatan edukatif dilakukan dengan memberikan penjelasan sederhana tentang bagaimana teknologi bisa memengaruhi pikiran dan perasaan. Materi disampaikan menggunakan contoh yang sering dialami siswa, sehingga terasa dekat dan tidak membosankan.
Pendekatan partisipatif membuat siswa tidak hanya mendengar, tetapi juga ikut terlibat. Mereka diajak berbagi pengalaman tentang kebiasaan bermain gadget, penggunaan media sosial, serta tekanan yang pernah dirasakan. Dengan cara ini, siswa bisa lebih jujur mengenali kondisi dirinya sendiri.
Selain itu, kegiatan juga dibuat interaktif melalui diskusi ringan, tanya jawab, dan simulasi situasi sehari-hari. Siswa diajak berpikir bagaimana cara menggunakan teknologi dengan lebih sehat, seperti mengatur waktu layar, berani istirahat dari media sosial, dan memanfaatkan gadget untuk hal-hal yang positif.
Mengapa Siswa SMK Menjadi Sasaran Utama?
Siswa SMK berada pada usia remaja dan awal dewasa, masa di mana emosi masih mudah berubah dan tekanan dari lingkungan cukup besar. Selain tuntutan akademik, mereka juga menghadapi tekanan pergaulan dan ekspektasi di media sosial. Jika tidak diarahkan dengan baik, kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mental mereka.
Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan memahami bahwa menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata itu penting. Mereka belajar bahwa tidak semua hal di media sosial harus diikuti dan tidak semua informasi harus ditelan mentah-mentah. Sikap saling menghargai, empati, dan peduli terhadap kondisi mental diri sendiri maupun teman juga menjadi bagian penting dari digital wellbeing.
Pelaksanaan Kegiatan di Lingkungan Sekolah
Kegiatan PKM ini dilaksanakan pada Jumat, 14 November 2025, di UPTD SMK Negeri 1 Kota Tangerang Selatan. Selama kegiatan berlangsung, siswa mengikuti rangkaian acara yang dirancang agar suasana tetap santai namun bermakna. Materi disampaikan secara komunikatif, diselingi diskusi dan aktivitas reflektif agar siswa tidak merasa jenuh.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga diajak untuk berpikir dan merasakan langsung pentingnya menjaga kesehatan mental di era digital. Harapannya, kebiasaan positif ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.
Penutup
Dunia digital memang tidak bisa dihindari, tetapi bisa dikendalikan. Dengan pemahaman digital wellbeing, pelajar dapat tetap sehat secara mental, lebih fokus belajar, dan merasa nyaman dalam menggunakan teknologi. Edukasi yang tepat dan pendekatan yang dekat dengan kehidupan siswa menjadi kunci agar pesan tentang kesehatan mental benar-benar dipahami dan dijalani. Jika teknologi digunakan dengan bijak, dunia digital justru bisa menjadi ruang yang mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan pelajar.
Penulis:
Kelompok 5
- Muhamad Budi Nur Sabari (Jurusan Manajemen)
- Tesa Afliyenti (Jurusan Manajemen)
- Stefania Fredeline Melinda Wattimena (Jurusan Manajemen)
Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang







