DALAM konteks pendidikan, penguatan self-love dan pengembangan diri positif memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat secara psikologis. Hal ini sangat relevan dengan kondisi siswa di SMKN 1 Tangerang Selatan sebagai sekolah kejuruan yang menuntut kesiapan akademik, keterampilan vokasional, serta mental yang kuat.
Siswa yang memiliki self-love cenderung merasa aman untuk mengekspresikan pendapat, mencoba hal baru dalam proses pembelajaran praktik, serta menerima umpan balik dari guru tanpa merasa terancam secara emosional. Kondisi tersebut mendukung terciptanya iklim belajar yang inklusif, aktif, dan saling menghargai di lingkungan sekolah.
Di SMKN 1 Tangerang Selatan, siswa berasal dari latar belakang yang beragam dan menghadapi tekanan akademik maupun tuntutan kesiapan kerja sejak dini. Tanpa pemahaman self-love yang baik, siswa berisiko mengalami rasa tidak percaya diri, takut gagal, serta enggan berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, penguatan self-love tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berkontribusi terhadap dinamika sosial yang positif di lingkungan sekolah. Hubungan antar siswa menjadi lebih sehat, komunikasi lebih terbuka, dan suasana belajar menjadi lebih kondusif.
Pendekatan psikoedukasi menjadi metode yang efektif dalam menanamkan nilai self-love dan pengembangan diri positif pada siswa SMKN 1 Tangerang Selatan. Melalui psikoedukasi, siswa memperoleh pemahaman yang terstruktur mengenai kondisi psikologis remaja, cara mengelola emosi, serta pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tekanan akademik dan sosial. Kegiatan edukatif yang interaktif, seperti diskusi dan refleksi diri, membantu siswa menginternalisasi konsep self-love secara lebih mendalam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini juga berperan dalam mengurangi stigma terhadap isu kesehatan mental di lingkungan sekolah.
Pengembangan self-love dan pengembangan diri positif juga berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan coping siswa terhadap stres akademik. Siswa SMKN 1 Tangerang Selatan dihadapkan pada tugas praktik, ujian kompetensi, serta ekspektasi untuk siap memasuki dunia kerja. Dengan self-love yang baik, siswa tidak mudah menyalahkan diri secara berlebihan ketika mengalami kegagalan, melainkan mampu menjadikannya sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran. Sikap ini membantu membentuk ketahanan psikologis yang penting bagi keberhasilan akademik dan pengembangan karakter siswa.
Dalam perspektif jangka panjang, internalisasi nilai self-love dan pengembangan diri positif berpengaruh terhadap kesiapan siswa SMKN 1 Tangerang Selatan dalam menghadapi dunia kerja dan kehidupan dewasa. Siswa SMK tidak hanya dituntut memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan mental, kepercayaan diri, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Self-love membantu siswa mengenali potensi dan batasan diri secara realistis, sementara pengembangan diri positif mendorong mereka untuk terus meningkatkan kompetensi dan kualitas diri secara berkelanjutan.
Oleh karena itu, integrasi konsep self-love dan pengembangan diri positif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMKN 1 Tangerang Selatan merupakan langkah strategis dalam mendukung perkembangan psikologis remaja. Melalui pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan, siswa diharapkan mampu membangun kesejahteraan psikologis, karakter yang kuat, serta kesiapan menghadapi tantangan akademik, sosial, dan dunia kerja. Konsep ini sejalan dengan tujuan pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga perkembangan emosional dan kepribadian siswa secara holistik.
Nama Kelompok 4
- Muhamad Alfalah Nurdin (Jurusan Manajemen)
- Raisha Awaluna Gani (Jurusan Manajemen)
- Siska Tri Wulan Apriana (Jurusan Manajemen)
Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang







