SEBAGAI mahasiswa, saya sering melihat bagaimana pergaulan bebas semakin menjadi bagian dari keseharian generasi muda. Banyak hal yang dulu dianggap melanggar norma kini dianggap biasa, bahkan dianggap sebagai bagian dari gaya hidup anak muda. Pesta minuman keras, pergaulan tanpa batas, budaya hura-hura, hingga perilaku tidak jujur di dunia akademik sering kali dibungkus dengan alasan “menikmati masa muda” atau “sekadar ikut pergaulan”.
Masalahnya, tidak semua orang benar-benar menikmati pergaulan seperti itu. Banyak anak muda yang sebenarnya ikut-ikutan karena tekanan lingkungan. Ada rasa takut dianggap tidak gaul, takut dikucilkan, atau takut kehilangan teman. Akhirnya, seseorang memilih menyesuaikan diri, meskipun harus mengorbankan nilai dan prinsip yang sebenarnya ia yakini. Dari sinilah krisis identitas mulai muncul.
Krisis identitas terlihat ketika generasi muda tidak lagi mengenal dirinya sendiri. Banyak yang hidup berdasarkan penilaian orang lain. Media sosial memperparah keadaan ini. Kita berlomba-lomba menampilkan versi terbaik diri kita di layar, tetapi sering kali lupa membangun diri yang sebenarnya. Validasi dari “like” dan komentar menjadi ukuran harga diri. Ketika pengakuan itu tidak didapat, rasa tidak aman, cemas, dan kosong pun muncul.
Pergaulan bebas sering kali dianggap sebagai bentuk kebebasan. Padahal, kebebasan tanpa arah justru dapat menjerumuskan. Banyak mahasiswa yang akhirnya kehilangan fokus akademik, mengalami masalah mental, atau bahkan merusak masa depannya sendiri karena keputusan yang diambil tanpa pertimbangan matang. Kebebasan yang tidak disertai tanggung jawab justru berubah menjadi beban.
Saya melihat bahwa akar persoalan ini bukan hanya pada individu, tetapi juga pada lingkungan. Kurangnya komunikasi dalam keluarga, minimnya pendidikan karakter, serta sedikitnya teladan yang baik di ruang publik membuat generasi muda kesulitan menemukan panutan. Tidak jarang figur publik justru mempertontonkan gaya hidup yang keliru, tetapi tetap mendapat sorotan dan pujian.
Sebagai mahasiswa, kita berada pada fase penting dalam pembentukan jati diri. Dunia kampus seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh, berpikir kritis, dan membangun karakter. Namun, hal ini hanya bisa terjadi jika kita berani menentukan batas dalam pergaulan. Tidak semua ajakan harus diikuti. Tidak semua kebiasaan harus dianggap normal hanya karena banyak orang melakukannya.
Menolak pergaulan bebas bukan berarti anti-sosial atau merasa paling benar. Kita tetap bisa berteman, berdiskusi, bekerja sama, dan bersosialisasi secara sehat. Justru dibutuhkan keberanian untuk berkata “cukup” pada hal-hal yang jelas merusak diri sendiri. Keberanian ini adalah tanda kedewasaan, bukan kelemahan.
Menurut saya, generasi muda perlu kembali membangun identitas yang berakar pada nilai, bukan tren sesaat. Ketika seseorang tahu siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya, ia tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan lingkungan. Pergaulan pun tidak lagi menjadi ancaman, melainkan sarana untuk saling mendukung dan bertumbuh.
Pada akhirnya, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Jika pergaulan bebas terus dibiarkan tanpa refleksi, krisis identitas akan semakin dalam. Namun, jika generasi muda mau sadar, berani berpikir kritis, dan memegang nilai hidup yang kuat, maka kita tidak hanya akan selamat dari krisis identitas, tetapi juga mampu menjadi generasi yang membawa perubahan positif bagi masyarakat.
Penulis:
Fetrayani Sibarani
Unversitas Pamulang Jurusan Akuntansi







