• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Analisa Kasus Skandal Akuntansi Keuangan di WorldCom

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
Juli 4, 2024
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 4min read
Manajemen Keuangan Internasional Mengatasi Risiko Nilai Tukar Valuta Asing
301
SHARES
3.5k
VIEWS

WORLDCOM adalah sebuah perusahaan telekomunikasi Amerika yang didirikan pada tahun 1983. Pada awal tahun 2000-an, WorldCom menjadi salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia dengan lebih dari 60.000 karyawan dan nilai pasar lebih dari $100 miliar.

Nilai pasar saham perusahaan WorldCom turun sekitar 150 miliar dollar (januari 2000) menjadi hanya sekitar $150juta ( 1 Juli 2002 ). Keadaan ini membuat pihak manajemen berusaha melakukan praktik-praktik akuntansi untuk menghindari berita buruk tersebut. 

Dalam laporannya pada 25 Juni WorldCom mengakui bahwa perusahaan mengklasifikasikan lebih  dari $3,5 milyar untuk beban jaringan sebagai pengeluaran modal. Beban jaringan adalah beban yang dibayar oelh WorldCom kepada perusahaan lain untuk jaringan telekomunikasi, seperti biaya akses dan biaya pengiriman pesan bagi WorldCom.

Dilaporkan sekitar $3,005 Milyar telah salah diklasifikasi pada tahun 2001 , sementara sisanya sekitar $14,7 Milyar pada tahun 2001 disajikan sebagai biaya.

Dengan memindahkan akun beban kepada akun modal, WorldCom mampu menaikkan pendapatan atau laba WorldCom msmpu menaikkan laba karena akun beban dicatat lebih renda,sedangkan akun aset dicatat lebih tinggi karena beban kapitalisasi disajikan sebagai beban investasi.

Kalau hal ini tidak terdeteksi, praktik ini akan berakibat pendapatan bersih yang lebih rendah dalam tahun-tahun berikutnya. Karena beban kapitalisasi, jaringan tersebut akan di depresiasikan secara esensi beban kapitalisasi jaringan akan memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan biayanya dalam beberapa tahun dimasa depan,mungkin antara 1 tahun bahkan lebih.

BACA JUGA :  Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang Edukasi Literasi Keuangan bagi Ibu-Ibu PKK di Gunung Sindur

Penyajian beban jaringan sebagai pengeluaran modal ditemukan oleh auditor Cynthia Cooper. Mei 2002. Cynthia Cooper mendiskusikan masalah tersebut kepada kepala keuangan WorldCom Scott D. Sullvian dan controller perusahaan saat itu David F. Myres. Cooper melaporkan masalah tersebut pada kepala komite audit Max Bobbit,sekitar 12 Juni. Yang kemudian Max Bobbiit meminta kepada KPMG selaku eksternal auditor saat itu untuk melakukan invetigasi.

Pada tanggal 15 Juni, Tauzi yang merupakan Heouse Energy adn commerce Committee mengatakan bahwa berdasarkan dokemen-dokumen internal dan email Worldom mengindikasikan bahwa sebenarnya pihak eksekutif sudah mengetahu salah saji tersebut sejak awal.

Namun, pada tahun 2002, WorldCom mengungkapkan salah satu skandal akuntansi terbesar dalam sejarah Amerika. Perusahaan ini mengakui bahwa telah melakukan penipuan akuntansi senilai $11 miliar selama bertahun-tahun. Penipuan ini dilakukan dengan cara menyembunyikan biaya operasi sebagai investasi modal, sehingga meningkatkan laba perusahaan secara artifisial.

Penyebab Skandal:

Skandal WorldCom disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Tekanan untuk memenuhi ekspektasi investor: Para pemimpin WorldCom merasa tertekan untuk memenuhi ekspektasi investor akan pertumbuhan laba yang tinggi.
  2. Ketidakjujuran dan keserakahan: Para eksekutif WorldCom terlibat dalam penipuan untuk memperkaya diri mereka sendiri.
  3. Kelemahan kontrol internal: WorldCom memiliki kontrol internal yang lemah yang memungkinkan penipuan untuk dilakukan dan disembunyikan selama bertahun-tahun.
BACA JUGA :  Menyambut Kepemimpinan Trump 2024: Tantangan Bagi Amerika, Harapan dan Kekhawatiran Dunia

Dampak Skandal:

Skandal WorldCom memiliki dampak yang signifikan pada berbagai pihak, antara lain:

  1. Investor: Investor WorldCom kehilangan miliaran dolar karena nilai saham perusahaan anjlok setelah skandal terungkap.
  2. Karyawan: Ribuan karyawan WorldCom kehilangan pekerjaan mereka setelah perusahaan bangkrut.
  3. Pasar Modal: Skandal WorldCom merusak kepercayaan publik terhadap pasar modal dan menyebabkan penurunan nilai pasar secara keseluruhan.
  4. Pemerintah: Skandal WorldCom menyebabkan pemerintah Amerika memperketat peraturan akuntansi dan meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan publik.

Beberapa tokoh utama yang terlibat dalam skandal WorldCom adalah:

  1. Bernard Ebbers: CEO WorldCom yang mendalangi penipuan akuntansi.
  2. Scott Sullivan: CFO WorldCom yang membantu Ebbers dalam penipuan.
  3. David Myers: Controller WorldCom yang mengungkapkan penipuan kepada dewan direksi.
  4. Cynthia Cooper: Auditor internal WorldCom yang membantu Myers dalam mengungkap penipuan.

Pelanggaran Worldcom dilihat dari Etika Profesi

Tuntutan profesional sangat erat hubungannya dengan suatu kode etik untuk masing-masing profesi. Kode etik itu berkaitan dengan pronsip etika tertentu yang berlaku untuk suatu profesi. WorldCom yang melakukan  kecurangan telah melanggar prinsip-prinsip etika profesi, antara lain : 

  • Prinsip Tanggung Jawab 
BACA JUGA :  Pentingnya Manajemen Keuangan bagi Mahasiswa

Prinsip ini menekankan bahwa seorang profesional haruslah bertanggung jawab dalam melakukan pekerjaannya. Dari kasus WorldCom,bisa dilihat bahwa  beberapa oknum staf akuntansi di perusahaan melakukan praktik   tidak bertanggung jawab dengan melakukan praktik akuntansi akuntansi yang sesuai dengan kaidah. 

  • Prinsip Integritas Moral 

Prinsip ini menekankan bahwa setiap profesional haruslah memiliki integritas yang tinggio dan moral yang luhur. Dari kasus WorldCom bisa dilihat bahwa CEO perusahaan yang sebenarnya berintegritas dan menajdi contoh bagi bawahannya, malah menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi yang jelas-jelas telah melanggar prinsip integritas moral. 

Ebbers dan Sullivan dihukum penjara karena peran mereka dalam skandal WorldCom. WorldCom sendiri bangkrut dan asetnya dibeli oleh MCI Communications. Skandal WorldCom menjadi salah satu skandal akuntansi terbesar dalam sejarah dan menjadi pelajaran penting tentang pentingnya kontrol internal dan tata kelola perusahaan yang baik.

 

Penulis:

Arini Julia Pratiwi (211011200988)

Dea Riyati (211011201180)

Fajar Azhari Rialla (211011201315)

Muhammad Bintang Kardona (211011201326)

Petrus Tanriper Gulo (211011200629)

Mahasiswa Universitas Pamulang

Tulisan ini dibuat dalam rangka tugas kuliah

Tags: Artikel Mahasiswa UnpamRuang Unpamuniversitas pamulangunpam
Previous Post

Pagi Ini, Gunung Semeru Erupsi Lagi Sebanyak 6 Kali

Next Post

Indonesia Raih Tempat Ketiga AFF U-16, Nova Arianto Ungkap Pesan Penting

Related Posts

Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?
DUNIA KAMPUS

Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?

Oktober 21, 2026
2.4k
Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda
DUNIA KAMPUS

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda

Oktober 21, 2026
2.1k
Pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Z
DUNIA KAMPUS

Pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Z

Oktober 21, 2026
2.3k
Sekali Klik, Uang Berpindah: Di Balik Cepatnya Transaksi Perbankan di Era Digital
DUNIA KAMPUS

Sekali Klik, Uang Berpindah: Di Balik Cepatnya Transaksi Perbankan di Era Digital

Oktober 20, 2026
2.4k
Pembatasan Perdagangan: Tarif
DUNIA KAMPUS

Pembatasan Perdagangan: Tarif

Oktober 20, 2026
2.4k
Jenis-Jenis Pasar Modal
DUNIA KAMPUS

Kenapa Banyak Perusahaan Gagal Bukan Karena Modal, Tapi Karena Salah Hitung Orang?

Oktober 20, 2026
2.4k
Next Post
Indonesia Raih Tempat Ketiga AFF U-16, Nova Arianto Ungkap Pesan Penting

Indonesia Raih Tempat Ketiga AFF U-16, Nova Arianto Ungkap Pesan Penting

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com