TANGSELXPRESS- Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang merayakan Dies Natalis dengan berbagai kegiatan sebagai bentuk syukur atas pencapaian yang telah diraih.
Perhelatan bertajuk Economics, Business Innovations and Creativity (EBIC) yang mengusung tema “Knitting Success in Youth” digelar sebagai serangkaian kegiatan yang diselenggarakan untuk memperingati Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pamulang.
Pada Selasa (16/5), FEB Universitas Pamulang menyelenggarakan International Conference & Call For Paper dengan tema “Development Oriented Toward Reducing Carbon Emissions”.

Dalam seminar internasional tersebut hadir sebagai keynote speaker antara lain, Dr H Sandiaga Salahudin Uno, BBA MBA dan Prof. Eko Ganis Sukoharsono, SE, MCom (Accy), MCom-Hons, CSRS, CSRA, CA, Ph.D.
Hadir pula pembicara dari universitas di Asia, antara lain Prof Dr Seck Tan dari Institute of Technology Singapore, Prof Ouyang Hongbing dari Huazhong University of Science and Technology (HUST) China, Prof Dr Norhayati Mohamed dari MARA University of Technology Malaysia.
Dari Universitas Pamulang diwakili Dr Endang Ruhiyat SE MM CSRA, CMA.
Pembahasan dalam seminar yang digelar di auditorium Darsono Kampus Unpam Viktor tersebut meliputi finance & banking, entrepreneurship, economic, accounting, management dan bisnis.
Terdapat 18 co-host yang berasal dari 18 universitas di empat negara antara lain Indonesia, Malaysia, Turki dan Pakistan pada First International Seminar and Call for Papers tersebut.
Hadir sebagai keynote speaker pertama, Prof. Eko Ganis Sukoharsono, SE, MCom (Accy), MCom-Hons, CSRS, CSRA, CA, Ph.D membahas tentang Sustainable Business: The Development Oriented Toward Reducing Carbon Emissions.
Dalam makalahnya, Professor of Sustainability Accounting dari Universitas Brawijaya tersebut menyebutkan pembangunan ekonomi berbasis akuntansi berkelanjutan harus dapat menunjukkan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui.
“Yakni dengan cara tidak menguranginya dan merusaknya atau juga tidak mengurangi fungsinya untuk kemanfaatan dan kepentingan generasi masa yang akan datang,” paparnya.
Eko Ganis Sukoharsono meraih gelar S2 Master Commerce in Honours dari University of Wollongong, Australia dan menyelesaikan S3 (Ph.D) dari University of Wollongong, Australia.
Pembicara dari Universitas Pamulang yang diwakilkan Dekan Fakultas Ekonomis dan Bisnis Dr Endang Ruhiyat SE MM CSRA, CMA mengangkat tema Peran Akuntan dalam Menyiasati Efek Emisi Karbon.
Dalam makalahnya, Endang Ruhiyat menuliskan Nilai Ekonomi Karbon (Carbon Pricing) adalah Pemberian harga (valuasi) atas emisi GRK/karbon, dimana hal itu merupakan praktik dari polluters-pay-principle.
“Sehingga siapapun yang mengeluarkan emisi karbon wajib membayar kompensasi atas polusi yang dikeluarkan, khususnya bagi industri atau pelaku bisnis,” papar Endang Ruhiyat.

Endang juga menyebutkan ada perdagangan karbon wajib, suatu negara akan menerapkan mekanisme cap and trade, yaitu dengan menentukan kuota emisi karbon suatu perusahaan dalam periode tertentu berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.
“Perusahaan yang hasil audit emisi karbonnya berhasil mencapai tingkat emisi di bawah kuota yang ditetapkan, bisa menjual sisa kuotanya melalui pasar karbon. Sementara perusahaan yang melebihi kuota, harus membeli kuota emisi dari perusahaan lain atau menghadapi denda yang besar,” lanjutnya.
Sementara itu, sebagai keynote speaker, Sandiaga Uno membahas tema Transformasi Sektor Parekraf Menuju Pembangunan Rendah Karbon.
Di awal materi, Menteri yang biasa disapa Bang Sandi itu menyampaikan tentang tiga krisis lingkungan yang mengancam masa depan bumi dan manusia.
“Yang pertama adalah perubahan iklim. Sekitar 50-75% dari populasi global berpotensi terdampak kondisi iklim yang mengancam jiwa di tahun 2100. Yang kedua polusi dan kerusakan lingkungan. Polusi udara dinobatkan sebagai penyebab penyakit dan kematian dini terbesar di dunia, menyebabkan hingga 4,2 juta kematian tiap tahun. Ketiga hilangnya keanekaragaman hayati. Saat ini, sekitar 1 juta spesies tumbuhan dan hewan menghadapi ancaman kepunahan,” papar Sandi.
Makalah dalam seminar tersebut dikirim oleh sekitar 25 universitas dalam dan luar negeri, dan 74 makalah telah dipilih untuk dipresentasikan dan diterbitkan. Hal ini membuktikan bahwa acara ini sangat diapresiasi oleh berbagai pihak.







