DI tengah meningkatnya akses masyarakat terhadap informasi dan layanan keuangan digital, kemampuan memahami kondisi keuangan secara objektif masih menjadi tantangan. Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah money illusion atau ilusi uang, yaitu kecenderungan seseorang menilai kesejahteraan berdasarkan jumlah nominal uang tanpa memperhatikan daya beli yang sebenarnya.
Artikel opini ini berargumen bahwa money illusion merupakan salah satu penyebab utama kesalahan pengambilan keputusan keuangan di masyarakat modern. Fenomena ini tidak hanya dipengaruhi oleh rendahnya literasi keuangan, tetapi juga oleh budaya konsumtif, perkembangan teknologi digital, dan cara informasi ekonomi disampaikan kepada publik. Oleh karena itu, diperlukan perubahan pola pikir masyarakat agar lebih fokus pada nilai riil uang dibandingkan sekadar angka nominal.
Ketika Kenaikan Gaji Tidak Selalu Membuat Kita Lebih Kaya
Banyak orang merasa senang ketika mendapatkan kenaikan gaji. Perasaan tersebut tentu wajar karena secara nominal pendapatan bertambah. Namun, apakah kenaikan gaji selalu berarti kesejahteraan meningkat? Menurut saya, tidak selalu demikian.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering kali terjebak pada cara berpikir yang terlalu berfokus pada angka nominal. Ketika gaji naik dari Rp5 juta menjadi Rp5,5 juta per bulan, sebagian besar orang langsung menganggap kondisi ekonominya membaik. Padahal, jika pada saat yang sama harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, biaya pendidikan, dan biaya hidup lainnya meningkat lebih tinggi daripada kenaikan pendapatan tersebut, maka sebenarnya daya beli masyarakat justru menurun.
Fenomena inilah yang dikenal sebagai money illusion. Masyarakat merasa lebih kaya karena melihat angka yang lebih besar, padahal kemampuan untuk memenuhi kebutuhan belum tentu meningkat. Menurut saya, money illusion merupakan salah satu kesalahan persepsi keuangan yang paling sering terjadi tetapi jarang disadari.
Masyarakat Lebih Percaya Angka daripada Daya Beli
Salah satu alasan mengapa money illusion begitu mudah terjadi adalah karena manusia secara alami lebih mudah memahami angka daripada konsep ekonomi yang lebih kompleks. Angka terlihat nyata, sedangkan daya beli merupakan sesuatu yang harus dihitung dan dianalisis.
Sebagai contoh, banyak pekerja lebih memperhatikan besarnya kenaikan gaji dibandingkan tingkat inflasi yang terjadi setiap tahun. Mereka merasa puas karena memperoleh tambahan penghasilan, tetapi jarang menghitung apakah kenaikan tersebut benar-benar meningkatkan kemampuan mereka untuk membeli barang dan jasa.
Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami konsep nilai riil uang. Padahal dalam praktiknya, yang menentukan kesejahteraan seseorang bukanlah jumlah uang yang dimiliki, melainkan apa yang dapat dibeli dengan uang tersebut.
Teknologi Digital Membuat Money Illusion Semakin Sulit Disadari
Perkembangan teknologi keuangan membawa banyak manfaat, tetapi juga menciptakan tantangan baru. Saat ini masyarakat dapat berbelanja hanya dengan beberapa kali sentuhan pada layar ponsel. Uang tidak lagi terlihat secara fisik karena transaksi dilakukan secara digital.
Menurut saya, kondisi ini justru membuat money illusion semakin kuat. Ketika seseorang membayar menggunakan uang tunai, ia dapat merasakan secara langsung berkurangnya uang yang dimiliki. Namun ketika menggunakan dompet digital, kartu kredit, atau layanan buy now pay later (BNPL), pengeluaran terasa lebih ringan karena tidak ada perpindahan uang secara fisik.
Akibatnya, banyak orang merasa masih memiliki kondisi keuangan yang aman meskipun sebenarnya pengeluaran mereka terus meningkat. Tidak sedikit masyarakat yang terjebak dalam gaya hidup konsumtif karena merasa memiliki kemampuan finansial yang lebih besar daripada kondisi sebenarnya.
Budaya Pamer Kekayaan Turut Memperparah Fenomena Ini
Fenomena money illusion juga diperkuat oleh budaya media sosial yang semakin menekankan citra kesuksesan melalui kepemilikan barang. Banyak orang mengukur keberhasilan finansial dari kendaraan yang digunakan, tempat liburan yang dikunjungi, atau barang bermerek yang dimiliki.
Menurut saya, budaya tersebut membuat masyarakat semakin fokus pada simbol kekayaan dibandingkan kesehatan keuangan yang sesungguhnya. Tidak sedikit individu yang rela berutang demi mempertahankan gaya hidup tertentu agar terlihat sukses di depan orang lain.
Ironisnya, seseorang dapat terlihat kaya secara nominal tetapi sebenarnya memiliki kondisi keuangan yang rapuh karena tingginya beban utang dan minimnya tabungan. Dalam situasi seperti ini tidak hanya menjadi kesalahan persepsi ekonomi, tetapi juga menjadi masalah sosial.
Mengapa Money Illusion Berbahaya?
Menurut pandangan saya, bahaya terbesar money illusion bukanlah kesalahan menghitung uang, melainkan kesalahan dalam mengambil keputusan hidup.
Ketika seseorang merasa lebih kaya daripada kondisi sebenarnya, ia cenderung meningkatkan konsumsi, mengurangi tabungan, dan mengambil risiko keuangan yang lebih besar. Dalam jangka pendek keputusan tersebut mungkin tidak menimbulkan masalah. Namun dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan ketidakstabilan keuangan, kesulitan memenuhi kebutuhan mendesak, bahkan terjebak dalam utang.
Selain itu, money illusion juga dapat membuat masyarakat kurang kritis terhadap kondisi ekonomi. Banyak orang hanya melihat kenaikan pendapatan tanpa mempertanyakan apakah biaya hidup meningkat lebih cepat daripada penghasilannya. Akibatnya, masyarakat menjadi kurang peka terhadap perubahan ekonomi yang sebenarnya terjadi.
Saatnya Berpikir dalam Nilai Riil, Bukan Nilai Nominal
Menurut saya, cara terbaik untuk mengatasi money illusion adalah mengubah cara pandang terhadap uang. Masyarakat perlu mulai bertanya bukan hanya “berapa banyak uang yang saya miliki?”, tetapi juga “apa yang bisa saya beli dengan uang tersebut?”.
Peningkatan literasi keuangan harus menjadi prioritas karena pemahaman mengenai inflasi, investasi, tabungan, dan daya beli akan membantu masyarakat membuat keputusan yang lebih rasional. Selain itu, pendidikan keuangan sebaiknya tidak hanya diberikan di perguruan tinggi, tetapi juga sejak pendidikan dasar agar masyarakat terbiasa memahami konsep nilai riil uang sejak dini.
Di era digital yang penuh dengan kemudahan transaksi dan godaan konsumsi, kemampuan berpikir kritis terhadap kondisi keuangan menjadi semakin penting. Tanpa pemahaman tersebut, masyarakat akan terus terjebak dalam ilusi bahwa semakin besar angka yang dimiliki berarti semakin sejahtera.
Penutup
Money illusion adalah fenomena yang tampak sederhana tetapi memiliki dampak besar terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Kecenderungan menilai kesejahteraan berdasarkan angka nominal membuat banyak orang salah memahami kondisi keuangan mereka sendiri. Dalam pandangan saya, tantangan terbesar saat ini bukanlah kurangnya akses terhadap informasi keuangan, melainkan kemampuan masyarakat untuk memahami makna di balik informasi tersebut.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mulai berfokus pada nilai riil uang, bukan sekadar nominalnya. Dengan memahami bahwa kesejahteraan ditentukan oleh daya beli dan bukan hanya jumlah uang yang dimiliki, individu dapat mengambil keputusan keuangan yang lebih bijaksana, lebih rasional, dan lebih berkelanjutan.
Penulis:
Achmad Dustin Evansyah
Hanun Nabila
Julian
Muhammad Fikry Wahyudin
Shahnaz Zahira Virgi
Mahasiswa Manajemen S1 Universitas Pamulang







