• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Money Illusion: Kesalahan Persepsi Keuangan yang Sering Terjadi di Masyarakat

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
Juni 25, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 4min read
Money Illusion: Kesalahan Persepsi Keuangan yang Sering Terjadi di Masyarakat
223
SHARES
2.4k
VIEWS

DI tengah meningkatnya akses masyarakat terhadap informasi dan layanan keuangan digital, kemampuan memahami kondisi keuangan secara objektif masih menjadi tantangan. Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah money illusion atau ilusi uang, yaitu kecenderungan seseorang menilai kesejahteraan berdasarkan jumlah nominal uang tanpa memperhatikan daya beli yang sebenarnya.

Artikel opini ini berargumen bahwa money illusion merupakan salah satu penyebab utama kesalahan pengambilan keputusan keuangan di masyarakat modern. Fenomena ini tidak hanya dipengaruhi oleh rendahnya literasi keuangan, tetapi juga oleh budaya konsumtif, perkembangan teknologi digital, dan cara informasi ekonomi disampaikan kepada publik. Oleh karena itu, diperlukan perubahan pola pikir masyarakat agar lebih fokus pada nilai riil uang dibandingkan sekadar angka nominal.

Ketika Kenaikan Gaji Tidak Selalu Membuat Kita Lebih Kaya

Banyak orang merasa senang ketika mendapatkan kenaikan gaji. Perasaan tersebut tentu wajar karena secara nominal pendapatan bertambah. Namun, apakah kenaikan gaji selalu berarti kesejahteraan meningkat? Menurut saya, tidak selalu demikian.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering kali terjebak pada cara berpikir yang terlalu berfokus pada angka nominal. Ketika gaji naik dari Rp5 juta menjadi Rp5,5 juta per bulan, sebagian besar orang langsung menganggap kondisi ekonominya membaik. Padahal, jika pada saat yang sama harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, biaya pendidikan, dan biaya hidup lainnya meningkat lebih tinggi daripada kenaikan pendapatan tersebut, maka sebenarnya daya beli masyarakat justru menurun.

Fenomena inilah yang dikenal sebagai money illusion. Masyarakat merasa lebih kaya karena melihat angka yang lebih besar, padahal kemampuan untuk memenuhi kebutuhan belum tentu meningkat. Menurut saya, money illusion merupakan salah satu kesalahan persepsi keuangan yang paling sering terjadi tetapi jarang disadari.

BACA JUGA :  PMKM Unpam: Strategi Pemasaran Melalui Teknologi untuk Proposal Bisnis yang Sukses

Masyarakat Lebih Percaya Angka daripada Daya Beli

Salah satu alasan mengapa money illusion begitu mudah terjadi adalah karena manusia secara alami lebih mudah memahami angka daripada konsep ekonomi yang lebih kompleks. Angka terlihat nyata, sedangkan daya beli merupakan sesuatu yang harus dihitung dan dianalisis.

Sebagai contoh, banyak pekerja lebih memperhatikan besarnya kenaikan gaji dibandingkan tingkat inflasi yang terjadi setiap tahun. Mereka merasa puas karena memperoleh tambahan penghasilan, tetapi jarang menghitung apakah kenaikan tersebut benar-benar meningkatkan kemampuan mereka untuk membeli barang dan jasa.

Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami konsep nilai riil uang. Padahal dalam praktiknya, yang menentukan kesejahteraan seseorang bukanlah jumlah uang yang dimiliki, melainkan apa yang dapat dibeli dengan uang tersebut.

Teknologi Digital Membuat Money Illusion Semakin Sulit Disadari

Perkembangan teknologi keuangan membawa banyak manfaat, tetapi juga menciptakan tantangan baru. Saat ini masyarakat dapat berbelanja hanya dengan beberapa kali sentuhan pada layar ponsel. Uang tidak lagi terlihat secara fisik karena transaksi dilakukan secara digital.

Menurut saya, kondisi ini justru membuat money illusion semakin kuat. Ketika seseorang membayar menggunakan uang tunai, ia dapat merasakan secara langsung berkurangnya uang yang dimiliki. Namun ketika menggunakan dompet digital, kartu kredit, atau layanan buy now pay later (BNPL), pengeluaran terasa lebih ringan karena tidak ada perpindahan uang secara fisik.

Akibatnya, banyak orang merasa masih memiliki kondisi keuangan yang aman meskipun sebenarnya pengeluaran mereka terus meningkat. Tidak sedikit masyarakat yang terjebak dalam gaya hidup konsumtif karena merasa memiliki kemampuan finansial yang lebih besar daripada kondisi sebenarnya.

BACA JUGA :  Kepribadian dan Nilai-Nilai Organisasi

Budaya Pamer Kekayaan Turut Memperparah Fenomena Ini

Fenomena money illusion juga diperkuat oleh budaya media sosial yang semakin menekankan citra kesuksesan melalui kepemilikan barang. Banyak orang mengukur keberhasilan finansial dari kendaraan yang digunakan, tempat liburan yang dikunjungi, atau barang bermerek yang dimiliki.

Menurut saya, budaya tersebut membuat masyarakat semakin fokus pada simbol kekayaan dibandingkan kesehatan keuangan yang sesungguhnya. Tidak sedikit individu yang rela berutang demi mempertahankan gaya hidup tertentu agar terlihat sukses di depan orang lain.

Ironisnya, seseorang dapat terlihat kaya secara nominal tetapi sebenarnya memiliki kondisi keuangan yang rapuh karena tingginya beban utang dan minimnya tabungan. Dalam situasi seperti ini tidak hanya menjadi kesalahan persepsi ekonomi, tetapi juga menjadi masalah sosial.

Mengapa Money Illusion Berbahaya?

Menurut pandangan saya, bahaya terbesar money illusion bukanlah kesalahan menghitung uang, melainkan kesalahan dalam mengambil keputusan hidup.

Ketika seseorang merasa lebih kaya daripada kondisi sebenarnya, ia cenderung meningkatkan konsumsi, mengurangi tabungan, dan mengambil risiko keuangan yang lebih besar. Dalam jangka pendek keputusan tersebut mungkin tidak menimbulkan masalah. Namun dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan ketidakstabilan keuangan, kesulitan memenuhi kebutuhan mendesak, bahkan terjebak dalam utang.

Selain itu, money illusion juga dapat membuat masyarakat kurang kritis terhadap kondisi ekonomi. Banyak orang hanya melihat kenaikan pendapatan tanpa mempertanyakan apakah biaya hidup meningkat lebih cepat daripada penghasilannya. Akibatnya, masyarakat menjadi kurang peka terhadap perubahan ekonomi yang sebenarnya terjadi.

Saatnya Berpikir dalam Nilai Riil, Bukan Nilai Nominal

BACA JUGA :  Susun RKPD 2025, Pemkot Tangsel Soroti Permasalahan Banjir hingga Inflasi

Menurut saya, cara terbaik untuk mengatasi money illusion adalah mengubah cara pandang terhadap uang. Masyarakat perlu mulai bertanya bukan hanya “berapa banyak uang yang saya miliki?”, tetapi juga “apa yang bisa saya beli dengan uang tersebut?”.

Peningkatan literasi keuangan harus menjadi prioritas karena pemahaman mengenai inflasi, investasi, tabungan, dan daya beli akan membantu masyarakat membuat keputusan yang lebih rasional. Selain itu, pendidikan keuangan sebaiknya tidak hanya diberikan di perguruan tinggi, tetapi juga sejak pendidikan dasar agar masyarakat terbiasa memahami konsep nilai riil uang sejak dini.

Di era digital yang penuh dengan kemudahan transaksi dan godaan konsumsi, kemampuan berpikir kritis terhadap kondisi keuangan menjadi semakin penting. Tanpa pemahaman tersebut, masyarakat akan terus terjebak dalam ilusi bahwa semakin besar angka yang dimiliki berarti semakin sejahtera.

Penutup

Money illusion adalah fenomena yang tampak sederhana tetapi memiliki dampak besar terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Kecenderungan menilai kesejahteraan berdasarkan angka nominal membuat banyak orang salah memahami kondisi keuangan mereka sendiri. Dalam pandangan saya, tantangan terbesar saat ini bukanlah kurangnya akses terhadap informasi keuangan, melainkan kemampuan masyarakat untuk memahami makna di balik informasi tersebut.

Oleh karena itu, masyarakat perlu mulai berfokus pada nilai riil uang, bukan sekadar nominalnya. Dengan memahami bahwa kesejahteraan ditentukan oleh daya beli dan bukan hanya jumlah uang yang dimiliki, individu dapat mengambil keputusan keuangan yang lebih bijaksana, lebih rasional, dan lebih berkelanjutan.

 

Penulis:

Achmad Dustin Evansyah
Hanun Nabila
Julian
Muhammad Fikry Wahyudin
Shahnaz Zahira Virgi

Mahasiswa Manajemen S1 Universitas Pamulang

Tags: Ekonomi Perilakuinflasiliterasi keuanganMoney Illusionperilaku konsumen
Previous Post

Bolehkah Pelaku UMKM Ganti Supplier Sebelum Kontrak Berakhir? Ini Penjelasan Hukumnya

Next Post

Korban Penyekapan di Bandung Jalani Rekonstruksi Wajah di RSHS, Menkes Budi Tinjau Langsung

Related Posts

Bukan Tidak Pintar, Cuma Takut Bicara: Ketika Pengetahuan Tidak Sejalan dengan Kepercayaan Diri
DUNIA KAMPUS

Public Speaking sebagai Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Prestasi Mahasiswa

Oktober 21, 2026
2.3k
Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?
DUNIA KAMPUS

Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?

Oktober 21, 2026
2.4k
Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat
DUNIA KAMPUS

Kekurangan atau Kelebihan Karyawan? Pentingnya Perencanaan SDM yang Tepat

Oktober 21, 2026
2.4k
Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi
DUNIA KAMPUS

Public Speaking: Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Kemampuan Berkomunikasi

Oktober 21, 2026
2.4k
Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?
DUNIA KAMPUS

Tinggal Scan, Uang Berkurang: Apakah Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Kita Lebih Boros?

Oktober 21, 2026
2.4k
Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda
DUNIA KAMPUS

Cicilan Murah, Masa Depan Mahal: Paylater dan Literasi Keuangan Anak Muda

Oktober 21, 2026
2.1k
Next Post
Jelang HUT ke-79 RI, Menkes Harap Indonesia Bisa Merdeka dari Perundungan

Korban Penyekapan di Bandung Jalani Rekonstruksi Wajah di RSHS, Menkes Budi Tinjau Langsung

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com